Wijaya, B. S. (2014). ‘Menonton Indonesia di Remang Kabut Euforia Reformasi’, JURNAL DESAIN [Indonesian Journal of Visual Communication Design], 1 (2), p.142-161

Jurnal DesainMenonton Indonesia di Remang Kabut Euforia Reformasi: Telaah Buku Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru

 (Watching Indonesia in the Dim Mists of Reform Euphoria: a Book Review of ‘Popular Culture in Indonesia, Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics’)

Bambang Sukma Wijaya

 Abstract:  If in the New Order era, the political dynamics in the production and consumption of pop cultures was caught in the polarity between those for, and those against, the status quo centred at the official ideology of (that ‘recognized’ by) the governmental regime which was a combination of Javanism, secularism, militarism, paternalism, developmentalism and indigenism, then in the post-New Order or the Reform era, feud of the identity politics intertwined in between: (a) local sentiment and national authority; (b) syncretic Javanism and new Islam piety; (c) patriarchy and the women’s movement; (d) lower and upper-class cultural tastes; and (e) digital divide and empowerment. This paper examines interesting articles on the development of pop cultures in the post-New Order Indonesia were compiled and edited by Ariel Heryanto in his book entitled “Popular Culture in Indonesia, Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics“. Not only examining them through reframing the phenomenon and the study of popular cultures in the post-New Order Indonesia to be more contextual, here I also tried to analyze and criticize each important article in order to open a wider horizon in viewing the phenomenon exists and serve as a reference for subsequent researchers.

Keywords: popular culture, post-New Order era, the reform euphoria

Abstrak: Jika pada masa Orde Baru, dinamika politik dalam produksi dan konsumsi budaya pop terjebak dalam pertentangan antara kubu yang menerima dan kubu yang melawan status quo yang berpusat pada ideologi resmi yang ‘diakui’ rezim pemerintahan yakni kombinasi Kejawen, sekularisme, militerisme, bapakisme dan Pembangunanisme serta kepribumian, maka pada masa pasca-Orde Baru atau Reformasi perseteruan politik identitas berkelindan di antara: (a) semangat kedaerahan dan kewenangan nasional, (b) sinkretisme Jawa dan meningkatnya kesalehan baru Islam, (c) patriarki dan gerakan perempuan, (d) selera budaya tinggi dan rendah, dan (e) kesenjangan dan pemberdayaan teknologi. Tulisan ini menelaah artikel-artikel menarik mengenai perkembangan budaya pop di Indonesia pasca Orde Baru yang dirangkum dan dieditori oleh Ariel Heryanto dalam bukunya berjudul “Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru”. Tidak hanya menelaah melalui pembingkaian ulang fenomena dan kajian budaya populer di Indonesia pasca Orde Baru agar lebih kontekstual, di sini saya juga berusaha menganalisis dan mengritisi setiap artikel agar membuka horizon lebih luas dalam melihat fenomena yang ada dan menjadi referensi bagi periset selanjutnya.

Katakunci: budaya populer, pasca Orde Baru, euforia Reformasi

See full-text here: Watching Indonesia in the Dim Mists of Reform Euphoria

Leave a comment »

PENGUMUMAN (Announcement)

PERINGATAN (WARNING)

Berhubung beberapa kali saya temukan artikel di blog-blog dan media lain yang mengutip bahkan meng-copy paste artikel-artikel saya yang ada di blog ini, mohon dengan sangat agar JUJUR dan BERTANGGUNGJAWAB dengan mencantumkan nama penulis artikel, judul dan nama  jurnal/ buku/ webblog ini sebagai sumber referensi, pada daftar pustaka Anda atau di endnote/daftar kutipan sebagaimana layaknya standar penulisan ilmiah (akademik). Jika Anda menerbitkannya dalam blog, maka tuliskan dengan jelas sumbernya, tautan blog ini http://www.komunikasiana.com atau langsung ke nama penulis, judul dan jurnal yang tercantum pada artikelnya.

Tindakan mengutip apalagi meng-copy paste tanpa mencantumkan sumber rujukan sangat DIHARAMKAN dalam dunia ilmiah dan termasuk salah satu bentuk KORUPSI KOMUNIKASI.

Terimakasih atas pengertian dan kerjasama Anda.

Selamat berkarya!

(Since I often found articles on several blogs and other media are quoting even copy-pasting my articles from this blog, therefore I implore you to be HONEST and RESPONSIBLE by mentioning the author’s name of article, title and name of the journal / book/ this webblog  as a reference source, in your bibliography or endnotes / citations list as appropriate standards of scientific writing (academic). If you publish it in a blog, then write down clearly the source, this blog link http://www.komunikasiana.com –or directly quoting the author’s name, title and journal name of the article.

Action of citing especially of copy-pasting without including the reference source is extremely FORBIDDEN in the scientific and professional world, and is one form of CORRUPTION OF COMMUNICATION.

Thank you for your understanding and cooperation. )

Leave a comment »

Wijaya, B. S. and D. M. Putri (2013). ‘Is Social Media Impactful for University’s Brand Image?’, Jurnal Manajemen Teknologi [Journal of Technology Management], 12 (3), p. 276-295

Is Social MeCOVER JMT1dia Impactful for University’s Brand Image?

Bambang Sukma Wijaya & Dianingtyas M. Putri

 Abstract: This research aims to verify many opinions and previous studies that stated how powerful of social media in building the image of a brand, also applies for university’s brand image enhancement. Using explanatory survey research, data were collected by giving out questionnaires to samples that were taken randomly from Facebook’s friend list of a private university that located in South Jakarta. The results showed that the most powerful influence occurs on the role of community towards the brand identity and the role of connectivity towards the brand benefits. Another interesting finding of this research is, it turns openness and conversation has no significant effect on all components that make up the brand image. Thus, it can be said that the positive image on the mind of consumer audience regarding the brand identity, personality, association, attitude or behavior and the benefit offered by a university’s brand not necessarily be formed by the openness and willingness to dialogue or make conversations.

Keywords: Social Media, Facebook, UB, Brand Image, University’s Brand Image

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi beberapa pendapat dan penelitian sebelumnya yang menyatakan betapa kuatnya peran media sosial dalam membangun citra merek, juga berlaku untuk peningkatan citra merek universitas. Menggunakan metode survei explanatif, data dikumpulkan dengan memberikan kuesioner kepada sampel yang diambil secara acak dari daftar teman Facebook sebuah universitas swasta yang terletak di Jakarta Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh paling kuat terjadi pada peran komunitas (community) terhadap identitas merek (brand identity) dan peran konektivitas (connectivity) terhadap manfaat merek (brand benefit). Temuan lain yang menarik dari penelitian ini adalah, ternyata keterbukaan (openness) dan percakapan (conversation) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap semua komponen yang membentuk citra merek. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa citra positif di benak khalayak konsumen terkait identitas, kepribadian, asosiasi, sikap atau perilaku merek dan keuntungan yang ditawarkan oleh merek sebuah universitas belum tentu terbentuk karena keterbukaan dan kesediaan untuk berdialog atau membangun percakapan.

Katakunci: Media Sosial, Facebook, UB, Citra Merek, Citra Merek Universitas


[1] Corresponding author. Email: bambang.sukma@bakrie.ac.id

Find the full-text paper here: Is Social Media Impactful for University’s Brand Image?

Leave a comment »

Wijaya, B. S. (2013). ‘Dimensions of Brand Image: A Conceptual Review from the Perspective of Brand Communication’, European Journal of Business and Management, 5 (31), p. 55-65

Cover EJBMDIMENSIONS OF BRAND IMAGE: A Conceptual Review from the Perspective of Brand Communication

Bambang Sukma Wijaya

Abstract: Currently almost all products have the brand, and all companies strive to develop and maintain their brand reputation. Brand is a mark left on the minds and hearts of consumers, which creates a specific sense of meaning and feeling. Thus, brand is more than just a logo, name, symbol, trademark, or label attached to a product. Using theoretical review and reflective method, this conceptual paper aims to review the dimensions of brand image as one stage in the hierarchy of branding or brand communications, so it can be a guide for future studies related to the brand image. Brand image plays an important role in the development of a brand because the brand image associated with the reputation and credibility of the brand which later became the “guidelines” for the consumer audience to try and use a product or service then creating a particular experience that will determine whether the consumer will be into brand loyalist, or simply an opportunist (easy to move to another brand). The dimensions of brand image in this study include brand identity, brand personality, brand association, brand attitude & behavior, and brand benefit & competence.

Keywords: brand image dimensions, brand communication, hierarchy of branding, brand development

 

Abstrak: Saat ini hampir semua produk memiliki merek, dan semua perusahaan berusaha mengembangkan dan menjaga reputasi merek mereka. Merek adalah tanda jejak yang tertinggal pada pikiran dan hati konsumen, yang menciptakan makna dan perasaan tertentu. Dengan demikian maka merek lebih dari sekadar logo, nama, simbol, merek dagang, atau sebutan yang melekat pada sebuah produk. Melalui penelusuran pustaka dan metode reflektif, makalah konseptual ini bertujuan mengaji dimensi citra merek (brand image) sebagai salah satu tahap dalam hirarki komunikasi merek, sehingga dapat menjadi panduan untuk penelitian-penelitian berikutnya yang berkaitan dengan citra merek. Citra merek memegang peranan penting dalam pengembangan sebuah merek karena citra merek menyangkut reputasi dan kredibilitas merek yang kemudian menjadi “pedoman” bagi khalayak konsumen untuk mencoba atau menggunakan suatu produk barang atau jasa sehingga menimbulkan pengalaman tertentu (brand experience) yang akan menentukan apakah konsumen tersebut akan menjadi loyalis merek atau sekadar oportunis (mudah pindah ke lain merek). Dimensi-dimensi citra merek dalam kajian ini adalah identitas merek, kepribadian merek, asosiasi merek, sikap dan perilaku merek, serta manfaat dan kompetensi merek.

Kata kunci: dimensi citra merek, komunikasi merek, hierarchy of branding, pengembangan merek

See the full-text paper here: Dimensions of Brand Image

Comments (3) »

Wijaya, B. S. (2013). ‘Korupsi Komunikasi dalam Dimensi Pesan, Media, Konteks, Perilaku: Proposisi Teoretis untuk Inspirasi Riset’, Journal Communication Spectrum, 3 (1), p. 1-13

Korupsi KomunikasiKorupsi Komunikasi dalam Dimensi Pesan, Media, Konteks dan Perilaku: Sebuah Proposisi Teoretis untuk Riset

(The Corruption of Communications on the Message, Media, Context and Behavioral Dimensions)

 Bambang Sukma Wijaya

Abstrak: Dalam komunikasi, hak publik atau khalayak adalah menerima pesan yang disampaikan komunikator secara utuh sesuai fakta, baik fakta normatif maupun fakta kontemplatif yang mengacu pada kaidah kebenaran berdasarkan hati nurani dan tanggung jawab moral. Korupsi komunikasi adalah perbuatan atau peristiwa dalam proses komunikasi yang mengurangi hak publik atau khalayak dalam menerima pesan secara utuh dan benar sesuai fakta, baik fakta normatif maupun fakta kontemplatif dengan memanfaatkan kekuasaan, kekuatan atau kewenangan yang dimiliki. Tulisan ini memaparkan dan membahas berbagai dimensi koruptivitas komunikasi, baik dari dimensi pesan, media, konteks dan perilaku yang kerap dijumpai di berbagai lingkup aktivitas komunikasi seperti komunikasi politik, komunikasi pendidikan, komunikasi pemasaran, komunikasi korporat, komunikasi media massa, bahkan dalam lingkup komunikasi antarpribadi. Untuk menggambarkan tinggi-rendahnya tingkat koruptivitas suatu komunikasi, maka penulis menawarkan sebuah rumus Koruptivitas Komunikasi yang terdiri dari unsur-unsur N (communication Needs) plus P (Power) pangkat O (Opportunity) kurang Ar (Audience right) yang dikalikan dengan Cs (Conscience) plus R (moral Responsibility).

Kata Kunci: Korupsi Komunikasi, komunikasi persuasif, komunikasi pencitraan, manajemen kesan (impression management), pencucian kesan (impression laundering)

See the full-text paper here: Korupsi Komunikasi

Leave a comment »

Wijaya, B. S. & M. Hanathasia (2012). ‘Analisis Branderpreneurship Pada UKM Perawatan Kecantikan: Kasus Salon ‘Waxing Corner’, Proceeding Seminar Nasional Kewirausahaan dan Inovasi Bisnis II, 18 Sept.,p. 483-496

Cover  SNKIBAnalisis Branderpreneurship pada UKM (Usaha Kecil Menengah) Perawatan Kecantikan: Kasus Salon “Waxing Corner”

(Branderpreneurship Analysis on the Beauty Care’s SME: Case of ‘Waxing Corner’)

Bambang Sukma Wijaya & Mirana Hanathasia

Abstrak: Kebanyakan wirausahawan selama ini hanya memandang branding sebagai upaya pemborosan dana, bukan sebagai investasi, sehingga aktivitas dan strategi pengembangan merek menjadi prioritas terakhir. Padahal,  merek yang kuat akan memberikan nilai tambah bagi sebuah bisnis. Merek yang kuat juga akan meningkatkan keunggulan kompetitif dan berpotensi memobilisasi pasar lebih cepat. Menggunakan metode studi kasus dengan teknik branderpreneurship framing analysis, tulisan ini menganalisis sebuah usaha kecil di bidang perawatan kecantikan dari perspektif branderpreneurship, yakni kewirausahaan berbasis pengembangan dan komunikasi merek. Kasus yang dianalisis adalah Waxing Corner, sebuah salon perawatan kecantikan di Plaza Festival, Jakarta Selatan. Dari elemen-elemen yang terdapat dalam the circle of values development yang merupakan inti branderpreneurship, yakni mengidentifikasi (identifying), mengkreasi (creating), mendistribusi (delivering), mengkomunikasi (communicating), menjaga (maintaining), mengevaluasi (evaluating) dan meningkatkan nilai-nilai (upgrading values), Waxing Corner memiliki kekuatan dalam mengidentifikasi nilai melalui pemahaman mendalam konsumen (consumer insights) wanita-wanita dewasa muda moderen yang menjadi sasaran utama mereknya. Namun demikian, Waxing Corner memiliki kelemahan dalam mengkomunikasi, mengevaluasi dan merejuvenasi atau meningkatkan nilai sehingga perkembangan merek menjadi stagnan. Padahal, dengan core value yang unik dan kuat, Waxing Corner memiliki potensi untuk berkembang lebih pesat dan luas.

Kata kunci: Waxing Corner, kewirausahaan, merek, branderpreneurship, pengembangan nilai

See the full-text paper here:

Leave a comment »

Wijaya, B. S. (2012). ‘The Development of Hierarchy of Effects Model in Advertising’, International Research Journal of Business Studies, 5 (1), p. 73-85

FromAIDA” To “AISDALSLove”: The Development of Hierarchy of Effects Model in Advertising

Bambang Sukma Wijaya

Abstract: This paper aims to review the hierarchy of effects models in advertising, especially the well-known model, AIDA (Attention, Interest, Desire, and Action). Since its introduction by Lewis (1900) and generally attributed in the marketing and advertising literature by Strong (1925), the concept of AIDA’s hierarchy of effects model has been used by many researchers, both academicians and practitioners to measure the effect of an advertisement. However, the development of information technology has radically changed the way of how people communicate and socialize, as well asa paradigm shiftfromproduct-oriented marketingto consumer-oriented marketing or people-oriented marketing, so that the variables in the hierarchy of effects model also needs to be updated according to the latest developments in the notice of public power as consumer audience. Using literature review and reflective method, this paper introduces a new concept of hierarchy of effects model that developed from AIDA’s hierarchy of effects model, namely: AISDALSLove (Attention, Interest, Search, Desire, Action, Like/dislike, Share, and Love/hate).

Key Words:AISDALSLove, AIDA, Hierarchy of Effects, Advertising, Consumer Audience
See the complete article here: The Development of Hierarchy of Effects Model in Advertising

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.