Archive for December, 2007

Jargon dalam marketing

Seorang teman mengeluhkan banyaknya jargon dalam marketing ketika membaca sebuah istilah baru yang tak dipahaminya.  Tiba-tiba saya tidak punya alasan untuk tidak memedulikannya. Memang benar, dunia marketing adalah dunia jargon. Banyak sekali jargon diproduksi oleh para marketer atau pengamat marketing untuk mengomunikasikan ide-ide mereka. Bahkan, terkadang, terjadi tumpang tindih. Misalnya dulu istilah mouth-to-mouth menjadi buzz kemudian menjadi word-of-mouth (diindonesiakan: getok-tular) trus ada pula viral marketing yang inti dan maknanya sama: komunikasi dari mulut ke mulut, yang segera menjadi bahan pembicaraan umum.

Entahlah, mengapa para marketer gemar sekali berjargon-jargon-ria. Tapi beberapa kemungkinan jawabannya antara lain:

1. Makna atau maksud yang ingin diungkapkan tidak bisa persis terwakili oleh istilah atau jargon yang sudah ada. Mungkin ada makna-makna baru yang sedikit berbeda (lebih luas, lebih khusus, atau lebih dalam) dari makna istilah yang sudah ada. Maka diciptakanlah istilah atau ‘jargon’ baru yang menurut penciptanya lebih pas mewakili maksud atau makna dari ide atau pesan yang ingin diungkapkannya.

2. Biar kelihatan atau kedengaran keren aja bisa menciptakan istilah baru. Orang marketing biasanya tidak jauh-jauh dari mind-set dan life style yang berorientasi pada penciptaan image. Dengan menggunakan istilah-istilah yang ‘terdengar canggih’, maka image-nya pun ikut terangkat. Terkesan bahwa dia seorang yang inovatif, pakar di bidangnya, dan bagian dari ‘orang-orang yang tidak pernah ketinggalan zaman’. Meskipun, pada sebagian orang terkesan bahwa jargon atau istilah-istilah tersebut digunakan hanya sebagai baju penutup kedangkalan ilmunya.

Lucunya, kadang istilah atau jargon yang digunakan kurang tepat sehingga terlihat menggelikan. Contoh, sebuah edisi majalah SWA menggunakan istilah “Event Marketing” sebagai istilah untuk menyebut pemanfaatan event sebagai alat komunikasi pemasaran. Padahal, bila diterjemahkan menjadi “pemasaran event” jelas berarti “sebuah strategi atau cara memasarkan sebuah event”.

Mungkin yang dimaksudkan oleh wartawan dan nara sumbernya adalah “Marketing Event”, yang berarti “event sebagai alat komunikasi pemasaran” atau “marketing yang menggunakan strategi atau cara-cara event untuk mencapai tujuan”. Sama dengan istilah “Marketing PR” yang berarti pemasaran dengan menggunakan strategi yang lazim digunakan dalam PR. Akan berbeda maknanya bila menjadi “PR marketing”, bukan?

Begitulah, kebanyakan jargon bisa membuat kita jadi kesandung, kalau tak hati-hati. Kembali lagi kepada tujuannya, untuk apa kita membuat atau menggunakan jargon atau istilah-istilah tersebut. Salah tujuan, bisa-bisa salah pakai. Dan salah pakai, bukannya menjadikan image jadi terkesan ‘paling tahu’, malah menjadi terkesan ’sok tahu’.

Leave a comment »

Fenomenologi dan Interaksi Simbolik

Istilah ’fenomenologi’ sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui (Lexy J Moleong, 2007). Fenomenologi diartikan sebagai: 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal; 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Husserl dalam Moleong, 2007).  Menurut Moleong, peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti.

Hal ini berangkat dari arti asal kata fenomenologis yaitu ’fenomena’ atau gejala alamiah. Jadi para fenomenolog berusaha memahami fenomena-fenomena yang melingkupi subyek yang diamatinya. Sehingga yang ditekankan adalah aspek subyektif dari perilaku orang. Para fenomenolog berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.

Jadi yang ditekankan dalam fenomenologi adalah pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas peristiwa dan kaitan-kaitannya yang melingkupi subyek. Contoh: penelitian mengenai fenomena komunikasi yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan penerima pesan terhadap pesan yang disampaikan. Peneliti berusaha memahami bagaimana penerima pesan merespon setiap pesan yang disampaikan. Dari hasil pengamatan, peneliti menemukan fakta bahwa penerima pesan memiliki pengalaman negatif (buruk) terhadap pesan-pesan yang (ternyata) tak dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga hal tersebut mempengaruhi pula pandangan mereka terhadap kredibilitas pemberi pesan (komunikator). Terhadap pemberi pesan yang memiliki kredibilitas rendah tersebut, setiap pesan yang disampaikan selalu direspon secara negatif (tak dipercaya). Sebaliknya, pesan-pesan yang menyertakan pembuktian langsung dan nyata, membuat penerima pesan segera merasakan kebenaran pesan tersebut sehingga kepercayaan pun dapat muncul seketika. Dari fenomena tersebut, peneliti memunculkan teori atau model Komunikasi Berasa, yakni model komunikasi dengan pembuktian langsung dan nyata sehingga setiap pesan yang disampaikan langsung dirasakan kebenarannya oleh penerima pesan.

Contoh lain penelitian fenomenologi adalah penelitian biografis tentang grup musik Slank, untuk memahami pengalaman kreatif kesenimanan mereka dan bagaimana mereka memandang peristiwa-peristiwa negatif (terlibat narkoba, seks bebas, dan lain-lain) yang menimpa mereka maupun seniman-seniman lain, serta bagaimana mereka mengatasinya.

Jika fenomenologi fokus pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas suatu peristiwa, maka interaksi simbolik fokus pada penafsiran terhadap pemaknaan subyektif yang muncul dari hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.

Interaksi simbolik adalah interaksi yang memunculkan makna khusus dan menimbulkan interpretasi atau penafsiran. Simbolik berasal dari kata ’simbol’ yakni tanda yang muncul dari hasil kesepakatan bersama. Bagaimana suatu hal menjadi perspektif bersama, bagaimana suatu tindakan memberi makna-makna khusus yang hanya dipahami oleh orang-orang yang melakukannya, bagaimana tindakan dan perspektif tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi subyek, semua dikaji oleh para interaksionis simbolik. Jadi peneliti berusaha ’memasuki’ proses pemaknaan dan pendefinisian subyek melalui metode observasi partisipan.

Hal yang tidak kalah penting dalam interaksi simbolik adalah pengonsepsian diri subyek. Bagaimana subyek melihat, memaknai dan mendefinisikan dirinya berdasarkan definisi dan makna yang diberikan orang lain.

Contoh: dalam penelitian mengenai Iklan dan Prostitusi. Subyek menggunakan ’iklan panti pijat’ sebagai media (simbol) penawaran jasa prostitutifnya. Subyek yang lain memanfaatkan ’tampil di cover majalah pria’ sebagai media lain penawaran atau komunikasi pemasaran jasa prostitutifnya. Subyek yang lain lagi ’menjual diri’ dengan tampil di situs jejaring sosial Friendster dengan foto-foto yang ’mengundang’ sebagai media komunikasi pemasaran atau iklan jasa prostitutifnya. Bagaimana subyek membentuk simbol-simbol pengiklanan diri tersebut, bagaimana pelanggan dapat menangkap makna simbol-simbol tersebut sehingga terjadi interaksi dan transaksi ’gelap’ dengan menggunakan simbol-simbol eksklusif lain, bagaimana subyek memandang dan mendefinisikan diri mereka berdasarkan pandangan orang lain, apakah mereka lebih senang disebut pelacur, pelacur kelas atas, escort, pemijat plus, model plus, atau sekadar ’teman jalan’? Adakah istilah-istilah dan bahasa-bahasa isyarat tertentu yang mereka gunakan? Bagaimana dengan keluarga dan teman-teman mereka di luar lingkungan prostitutif mereka? Apakah mereka menyembunyikan profesi mereka atau terbuka? Berapa banyak pelanggan dan penghasilan mereka dari hasil beriklan? Adakah pengaruh iklan terhadap kenaikan penghasilan mereka? Digunakan untuk apa saja penghasilan mereka? Lebih banyak untuk membantu perekonomian diri dan keluarga, atau lebih banyak untuk bersenang-senang?

Jadi, perbedaan mendasar antara fenomenologi dan interaksi simbolik muncul dari makna katanya sendiri: fenomena dan interaksi. Fenomenologi bertumpu pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas gejala alamiah (fenomena) atau peristiwa dan kaitan-kaitannya, sedangkan interaksi simbolik bertumpu pada penafsiran atas pemaknaan subyektif (simbolik) yang muncul dari hasil interaksi. Pada fenomenologi, ibarat fotografer, peneliti ’merekam’ dunia (pengalaman, pemikiran, dan perasaan subyektif) si subyek dan mencoba memahami atau menyelaminya, sedangkan pada interaksi simbolik, peneliti menafsirkan makna-makna simbolik yang muncul dari hasil interaksi subyek dengan lingkungannya dengan cara memasuki dunianya dan menelusuri proses pemaknaan tersebut. (bams)

Comments (39) »

Studi Kasus, Metode “Hermaphrodite”?

Studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis (Kriyantono, 2006). Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti (deskriptif). Namun sesungguhnya, studi kasus memiliki beragam strategi dan tujuan metodologis, ada studi-studi kasus deskriptif, studi-studi kasus eksploratoris, dan studi-studi kasus eksplanatoris (Robert K Yin, 1996). Ketiganya dapat digunakan secara bersama (strategi pluralistik) atau secara sendiri-sendiri. Meskipun setiap strategi memiliki karakteristik tersendiri, banyak wilayahnya yang tetap saling tumpang tindih. Sehingga pengelompokan tersebut bukanlah pengelompokan yang tegas dan tajam serta tidak dibedakan dari aspek hirarkisnya.

Dalam metode Studi Kasus, penelaahan berbagai sumber data membutuhkan berbagai macam instrumen (teknik) pengumpulan data mulai dari wawancara mendalam, observasi partisipan, dokumentasi-dokumentasi, kuesioner (hasil survei), rekaman, bukti-bukti fisik, dan lain-lain.

Demikian beragamnya instrumen yang digunakan, membuat studi kasus merupakan satu-satunya metode yang tidak secara tegas memisahkan wilayah Kualitatif dan Kuantitatif dalam proses pencarian informasi. Untuk tujuan deskriptif, eksploratoris maupun eksplanatoris-nya, Studi Kasus cenderung ’menghalalkan segala cara’ dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan. Patokannya adalah kelengkapan dan komprehensivitas. Cara yang lazim digunakan pada paradigma kualitatif maupun kuantitatif dapat digunakan secara bersama-sama, atau setiap paradigma masing-masing dapat menggunakan metode Studi Kasus.  Itulah mengapa, metode studi kasus kerap dijuluki sebagai metode hermaprodit.

K Yin menyebutkan dua jenis studi kasus, yakni studi kasus tunggal (klasik) dan studi multikasus. Dalam studi multikasus, cara-cara yang lazim diterapkan dalam metode eksperimen (kuantitatif) juga dipakai, meskipun logika yang digunakan bukanlah logika sampling, melainkan logika replika. Kasus-kasus yang telah dipilih secara hat-hati berperan seperti pada eksperimen ganda, memiliki hasil yang sama (replika literal) atau hasil yang bertentangan (replika teoretis) dengan yang diprediksikan (dihipotesiskan) secara eksplisit pada awal penelitian (K Yin, 1996). Kasus-kasus ’eksperimentatif’ tersebut digunakan untuk menguji teori yang ada. Sehingga, dari hasil penelitian dapat diketahui apakah kasus tersebut menguatkan teori atau memunculkan teori baru. (by:bams)

Comments (23) »