Fenomenologi dan Interaksi Simbolik

Istilah ’fenomenologi’ sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui (Lexy J Moleong, 2007). Fenomenologi diartikan sebagai: 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal; 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Husserl dalam Moleong, 2007).  Menurut Moleong, peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti.

Hal ini berangkat dari arti asal kata fenomenologis yaitu ’fenomena’ atau gejala alamiah. Jadi para fenomenolog berusaha memahami fenomena-fenomena yang melingkupi subyek yang diamatinya. Sehingga yang ditekankan adalah aspek subyektif dari perilaku orang. Para fenomenolog berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.

Jadi yang ditekankan dalam fenomenologi adalah pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas peristiwa dan kaitan-kaitannya yang melingkupi subyek. Contoh: penelitian mengenai fenomena komunikasi yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan penerima pesan terhadap pesan yang disampaikan. Peneliti berusaha memahami bagaimana penerima pesan merespon setiap pesan yang disampaikan. Dari hasil pengamatan, peneliti menemukan fakta bahwa penerima pesan memiliki pengalaman negatif (buruk) terhadap pesan-pesan yang (ternyata) tak dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga hal tersebut mempengaruhi pula pandangan mereka terhadap kredibilitas pemberi pesan (komunikator). Terhadap pemberi pesan yang memiliki kredibilitas rendah tersebut, setiap pesan yang disampaikan selalu direspon secara negatif (tak dipercaya). Sebaliknya, pesan-pesan yang menyertakan pembuktian langsung dan nyata, membuat penerima pesan segera merasakan kebenaran pesan tersebut sehingga kepercayaan pun dapat muncul seketika. Dari fenomena tersebut, peneliti memunculkan teori atau model Komunikasi Berasa, yakni model komunikasi dengan pembuktian langsung dan nyata sehingga setiap pesan yang disampaikan langsung dirasakan kebenarannya oleh penerima pesan.

Contoh lain penelitian fenomenologi adalah penelitian biografis tentang grup musik Slank, untuk memahami pengalaman kreatif kesenimanan mereka dan bagaimana mereka memandang peristiwa-peristiwa negatif (terlibat narkoba, seks bebas, dan lain-lain) yang menimpa mereka maupun seniman-seniman lain, serta bagaimana mereka mengatasinya.

Jika fenomenologi fokus pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas suatu peristiwa, maka interaksi simbolik fokus pada penafsiran terhadap pemaknaan subyektif yang muncul dari hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.

Interaksi simbolik adalah interaksi yang memunculkan makna khusus dan menimbulkan interpretasi atau penafsiran. Simbolik berasal dari kata ’simbol’ yakni tanda yang muncul dari hasil kesepakatan bersama. Bagaimana suatu hal menjadi perspektif bersama, bagaimana suatu tindakan memberi makna-makna khusus yang hanya dipahami oleh orang-orang yang melakukannya, bagaimana tindakan dan perspektif tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi subyek, semua dikaji oleh para interaksionis simbolik. Jadi peneliti berusaha ’memasuki’ proses pemaknaan dan pendefinisian subyek melalui metode observasi partisipan.

Hal yang tidak kalah penting dalam interaksi simbolik adalah pengonsepsian diri subyek. Bagaimana subyek melihat, memaknai dan mendefinisikan dirinya berdasarkan definisi dan makna yang diberikan orang lain.

Contoh: dalam penelitian mengenai Iklan dan Prostitusi. Subyek menggunakan ’iklan panti pijat’ sebagai media (simbol) penawaran jasa prostitutifnya. Subyek yang lain memanfaatkan ’tampil di cover majalah pria’ sebagai media lain penawaran atau komunikasi pemasaran jasa prostitutifnya. Subyek yang lain lagi ’menjual diri’ dengan tampil di situs jejaring sosial Friendster dengan foto-foto yang ’mengundang’ sebagai media komunikasi pemasaran atau iklan jasa prostitutifnya. Bagaimana subyek membentuk simbol-simbol pengiklanan diri tersebut, bagaimana pelanggan dapat menangkap makna simbol-simbol tersebut sehingga terjadi interaksi dan transaksi ’gelap’ dengan menggunakan simbol-simbol eksklusif lain, bagaimana subyek memandang dan mendefinisikan diri mereka berdasarkan pandangan orang lain, apakah mereka lebih senang disebut pelacur, pelacur kelas atas, escort, pemijat plus, model plus, atau sekadar ’teman jalan’? Adakah istilah-istilah dan bahasa-bahasa isyarat tertentu yang mereka gunakan? Bagaimana dengan keluarga dan teman-teman mereka di luar lingkungan prostitutif mereka? Apakah mereka menyembunyikan profesi mereka atau terbuka? Berapa banyak pelanggan dan penghasilan mereka dari hasil beriklan? Adakah pengaruh iklan terhadap kenaikan penghasilan mereka? Digunakan untuk apa saja penghasilan mereka? Lebih banyak untuk membantu perekonomian diri dan keluarga, atau lebih banyak untuk bersenang-senang?

Jadi, perbedaan mendasar antara fenomenologi dan interaksi simbolik muncul dari makna katanya sendiri: fenomena dan interaksi. Fenomenologi bertumpu pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas gejala alamiah (fenomena) atau peristiwa dan kaitan-kaitannya, sedangkan interaksi simbolik bertumpu pada penafsiran atas pemaknaan subyektif (simbolik) yang muncul dari hasil interaksi. Pada fenomenologi, ibarat fotografer, peneliti ’merekam’ dunia (pengalaman, pemikiran, dan perasaan subyektif) si subyek dan mencoba memahami atau menyelaminya, sedangkan pada interaksi simbolik, peneliti menafsirkan makna-makna simbolik yang muncul dari hasil interaksi subyek dengan lingkungannya dengan cara memasuki dunianya dan menelusuri proses pemaknaan tersebut. (bams)

39 Responses so far »

  1. 1

    syamsul said,

    artikel sungguh bagus…
    mohon ijin copy pak…:shakehanad

  2. 2

    bambangsukmawijaya said,

    Boleh, asal menyebutkan sumbernya bila Anda hendak mengutipnya untuk bahan skripsi, tesis, makalah, tugas kuliah atau tulisan-tulisan ilmiah lainnya.

    Semoga bermanfaat.

    thanks,
    Bams.

  3. 3

    Pa bambang yang saya hormati

    Saya tertarik sama tulisan bapak tentang “Fenomenologi dan Interaksi Simbolik”. Pa Bambang, Saya kebetulan lagi mencari sumber tentang desain penelitian (BAB III) yang mengarah pada Bentuk Penelitian Fenomenologi. Saya juga masih kekurangan sumber untuk desan penelitian ini, buku yg dapat saya pakai untuk menyelesaikan tugas saya bugusnya buku apa ya…. ?

    Terima kasih ya Pa Bambang atas bantuannya, maaf kalau merepotkan. Bantuan bapak sangat berarti buat saya. Sekses selalu ya pa.

    Salam hormat
    Samuel P. R
    Alamat email: samy_patra@yahoo.com
    Alamat Blog: http://samrit-amq.blogspot.com

  4. 4

    bambangsukmawijaya said,

    Salah satu referensi yang saya gunakan untuk ulasan di atas adalah Buku “Metode Penelitian Kualitatif” karangan Lexy J. Moleong penerbit Rosda Karya, Bandung. Tapi buku-buku lain seperti karangan Prof Burhan Bungin mengenai Metode Penelitian Kualitatif juga menarik. Begitu pula karangan Prof Dr. Deddy Mulyana yang diterbitkan oleh penerbit yang sama Remaja Rosda Karya, Bandung.

    Prinsipnya begini, Pak Samy. Setiap penulis buku kadangkala memberikan istilah atau pengelompokan metodologis yang berbeda-beda untuk sebuah topik bahasan yang sama. Namun semua dapat dipertanggungjawabkan kok secara ilmiah dan layak menjadi referensi (kalau nggak, nggak mungkin lolos diterbitkan sebagai buku teks, kan?).

    Saran saya, agar tidak membingungkan, pilihlah salah satu buku referensi saja yang penjelasannya paling mudah dicerna, dan konsisten menggunakan pendekatan yang dijelaskan dalam buku tersebut. Hal ini juga untuk menjaga flow of thinking bahasan metodologis Anda agar tidak kacau. Bayangkan bagaimana kalau satu buku dengan buku lain (yang meskipun pada prinsipnya sama) menjelaskan dengan istilah dan kategori yang berbeda. Bisa pusing, kan? Misalnya, di satu buku, interaksi simbolik dimasukkan ke dalam kategori fenomenologi, tapi di buku lain terpisah sebagai sebuah metode tersendiri. Atau, metode grand-theory di sebuah buku dimasukkan sebagai salah satu metode yang sejajar dengan fenomenologi, interaksi simbolik, studi kasus, dll… namun di buku lain grand-theory merupakan salah satu teknik penelitian atau pengumpulan data. Kemudian, buku yang satu menggunakan istilah teknik penelitian, tapi di buku lain menggunakan istilah teknik pengumpulan data dan membedakan dengan teknik penelitian. Padahal, prinsipnya sama, kan?

    Jadi, sekali lagi, saran saya, konsistenlah pada satu buku referensi metode saja yang membahas topik yang sama.

    Oke, selamat menulis. Semoga lancar dan sukses!

    Salam,
    Bambang.

  5. 5

    rotua said,

    wah, saya benar-beanr senang mendapatkan informasi mengenai fenomenologi.
    saya sekarang sedang ingin mengerjakan skripsi dan tertarik dengan kajian fenomenologi. tapi saya bingung, dalam dunia komunikasi, apakah fenomenologi itu ahrus erat kaitannya dengan komunikasi lintas budaya?

    tolong kasih pencerahan, karena saya benar-benar buta mengenai fenomenologi.

    thx banget yak!!

  6. 6

    bambangsukmawijaya said,

    fenomenologi tidak harus berkaitan dengan komunikasi lintas budaya. Bisa mengenai komunikasi apa aja. Yang pasti, fenomenologi meng-capture masalah apapun yang menarik dan telah menjadi suatu fenomena di masyarakat. Hampir mirip dengan studi kasus, namun studi kasus lebih khusus dan khas fenomenanya, jarang ditemui di tempat lain. Itulah mengapa, fenomenologi bisa jadi menyorot beberapa kasus yang serupa (bukan hanya satu kasus) dan lebih menyorot pada fenomenanya yang serupa tersebut . Misalnya, penelitian
    mengenai ambient media berjudul : Studi Fenomenologis Ambient Media sebagai Strategi Periklanan Alternatif dalam Meraih Kepercayaan Khalayak Konsumen. Fenomena ambient media bukanlah fenomena khas, karena sudah banyak digunakan para pengiklan dalam mengomunikasikan pesan2 keunggulan produknya. Namun, walaupun sudah menjadi fenomena umum, belum ada sebuah penelitian bahkan literatur yang secara khusus membahas mengenai fenomena ini dalam kaitannya dengan sebuah pola komunikasi yang bertujuan meraih kepercayaan khalayak. Sehingga penelitian ini menjadi penting dan menarik.
    Pada penelitian tersebut, saya mewawancarai pakar2 maupun praktisi untuk mengetahui pandangannya tentang ambient media, mulai dari sejarah, kenapa muncul, dan bagaimana perkembangan serta prospeknya ke depan… saya juga mewawancarai praktisi yang terlibat untuk mengetahui lebih dalam mengenai keterlibatan mereka, apa di kepala mereka, bagaimana idenya bisa muncul, dan apa yang mereka harapkan, saya kaitkan dengan strategi pemasaran produk yang diiklankan, kemudian saya gali pula informasi dari khalayak konsumen mengenai fenomena ambient media tersebut, bagaimana mereka merespons iklannya, memahaminya, hingga mempercayainya, kenapa mereka bersikap seperti itu, apanya yang membuat mereka yakin akan kebenaran pesan yang disampaikan dalam iklan ambient media, dsb, hingga akhirnya saya menemukan teori triangle insight yang bisa menjelaskan tentang fenomena ambient media tersebut.
    Studi fenomenologi acap disebut sebagai metode kualitatif murni, karena peneliti berusaha menggali (apa di balik) fenomena sedalam-dalamnya melalui wawancara, observasi, dan penelusuran dokumen hingga menghasilkan sebuah teori atau model komunikasi baru. Namun, berbeda dengan metode grand-theory, Fenomenologi tidak mewajibkan peneliti menemukan/ menghasilkan suatu teori baru. Bisa jadi cukup hanya preposisi-preposisi penting yang dihasilkan berupa kesimpulan penelitian.

    Contoh lain fenomenologi adalah penelitian biografis. Misalnya Anda menemukan fenomena menarik pada kisah hidup Mulan hingga menjadi ikon musik pop sexy. Anda bisa menelitinya bagaimana dia berangkat dari kampung, bagaimana dan mengapa dia menikah di usia muda lalu bercerai, bagaimana dia mengembangkan bakat menyanyinya, apa obsesi2nya, bagaimana perasaannya dulu dan sekarang, bagaimana dia mempersepsikan dirinya, hingga bagaimana kedekatannya dengan suami partnernya di grup Ratu, bagaimana pandangan keluarga, teman-teman dan penggemarnya, dan sebagainya. Anda bisa menelitinya secara mendalam, bahkan kalau memungkinkan Anda harus tahu kesehariannya, hal2 yang tidak ditampakkan ke publik, dan dari keseluruhannya mungkin Anda akan menemukan suatu teori atau preposisi misalnya, kegenitan pribadi masa lalu bisa bermutasi menjadi kegenitan populis yang iconic dan disukai publik. Intinya, teori atau preposisi yang dihasilkan dari studi fenomenologi adalah key learning atau pelajaran/hikmah penting apa yang muncul dari fenomena yang diteliti. Itulah menariknya studi fenomenologi. Tapi jangan salah. Fenomenologi berbeda dengan etnometodologi atau cultural studies yang secara lebih serius menyorot peristiwa-peristiwa, sikap dan perilaku hingga makna simbol-simbol budaya yang berkembang di masyarakat. Memang fenomenologi umumnya berkaitan dengan fenomena perilaku manusia (yang ujung-ujungnya berkaitan pula dengan latar belakang budaya orang tersebut), tetapi sekali lagi tidak harus berkaitan dengan perilaku komunikasi lintas budaya. Studi fenomenologi lebih luas, bisa menyorot fenomena di ranah komunikasi apapun: pemasaran, politik, budaya, media, dll. Jadi jangan takut, kalau Anda menemukan fenomena menarik di ranah komunikasi lain selain komunikasi lintas budaya, dan Anda melihat fenomena tersebut seperti berpola namun jarang diteliti orang, maka saatnya Anda memutuskan untuk menelitinya. Karena siapa tahu, hasil penelitian atau teori yang Anda hasilkan dari fenomena menarik tersebut dapat menjadi referensi penting bagi peneliti-peneliti lain.

    demikian pendapat saya.
    semoga bermanfaat.

    salam,
    bambang.

  7. 7

    Yoso Muliawan said,

    Salam.

    Pak Bambang yang saya hormati, salam kenal.

    Saya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Jurusan Sosiologi di sebuah universitas negeri. Sekarang sedang dalam tahap penyelesaian skripsi, lebih tepatnya sedang menulis bab hasil dan pembahasan. Judul skripsinya, Interaksionisme Simbolik Antara Wartawan dengan Anggota Dewan. Rumusan masalahnya, bagaimana gambaran interaksi yang terjadi secara simbolik antara wartawan dengan anggota dewan sehari-hari?

    Saya butuh bantuan. Bila berkenan, apa tanggapan Pak Bambang dengan bahasan skripsi saya? Adakah referensi serupa terkait interaksi simbolik wartawan dengan anggota dewan?

    Sekadar untuk diketahui, saya menemukan secara simbolik bahwa antara wartawan dan anggota dewan, keduanya saling membutuhkan. Anggota dewan butuh wartawan untuk ekspos pernyataannya, sedangkan wartawan butuh anggota dewan sebagai akses terhadap hal lainnya, misalnya link untuk buka usaha, mendapatkan “proyek”, atau keinginan berkecimpung di dunia politik.

    Saya juga sampai menemukan ruang hitam diantara keduanya; budaya amplop! Pemberitaan wartawan tentang pernyataan anggota dewan yang cenderung “membesar-besarkan” namanya, ekspos kebaikan anggota dewan. Dari tiga wartawan yang “ngepos” di Kantor DPRD tersebut, masing-masing dari tiga media yang berbeda, punya identitas sendiri-sendiri, yang secara simbolik saya artikan: Wartawan A, adalah Si Pencari Muka; Wartawan B, adalah Si Perisau; dan Wartawan C, adalah Tukang Tarik-Ulur.

    Bagaimana respon Pak Bambang atas sedikit “clue” yang saya intisarikan dari penelitian saya?

    Terima kasih sebelumnya, perjumpaan kita dalam tulisan ini sangat berarti.
    Salam.

  8. 8

    rotua said,

    Terima kasih untuk keterangan yang anda berikan. Pikiran saya sudah mulai terbuka mengenai apa itu FENOMENOLOGI, namun saya masih tetap membutuhkan informasi lebih mengenai hal tersebut.
    walaupun anda telah memberikan dua contoh judul yang cukup menarik, tapi tetap saja saya masih kebingungan.

    Saya tidak mungkin menjelekkan kampus ataupun dosen saya karena mereka kurang mampu menanggapi pemikiran saya mengenai fenomenologi ini. Saya juga ingin bertanya, apakah di dalam studi fenomenologi ini, nantinya menggunakan salah satu teori komunikasi? Contohnya saja ketika kita mengambil fenomena biografi seseorang disekitar kita, apakah kita memasukkan teori JOHARI WINDOW ?Lalu, apakah opini kita dapat kita masukkan sebagai isi dari penelitian??Ataukah kita melihat juga sisi dari orang di sekitar observant?ataukah kita harus bersikap netral?

    Lalu siapakah yang menjadi responden?Apakah kita kita sendiri yang meneliti satu objek, dan menanyakan secara mendalam segala perihal kehidupannya kepada diri si objek langsung, ataukah ikut bertanya kepada orang lain tentang si objek tersebut (keluarganya, teman dan rekan kerjanya?)

    Saya juga ingin memperdalam bagaimana cara pengerjaan metodologinya.

    Terima kasih ya Mas!!!

  9. 9

    DONY KURNIAWAN said,

    pak bambang yang saya hormati!

    saya sekarang mau skripsi, dan kebetulan judul yang saya ambil yaitu “CITRA PUNK DI SUMEDANG : ANTARA FILOSOFIS DAN TREN BUDAYA”
    dengan tujuan saya ingin meneliti dan mengetahui sejauh mana partisipan sub culture punk dalam memaknai punk. metode yang saya gunakan yaitu metode fenomenologis. dan terus terang saya masih bingung tapi saya tertarik untuk menggunakan metode fenomenologis ini.
    yang ingin saya tanyakan :
    1. apakah studi fenomenologis dapat digunakan dalam psikologi komunikasi, karena ini berkaitan dengan citra
    2. teori yang cocok kira-kira apa (saya masih bingung)
    3. mohon referensi buku yang cocok apa saja?

    sebelumnya saya ucapkan terima kasih!

  10. 10

    bambangsukmawijaya said,

    Sebelumnya saya minta maaf karena baru menjawabnya dikarenakan kesibukan saya yang membuat saya jarang mengupdate blog saya akhir-akhir ini.

    Untuk Bung YOSO MULIAWAN,
    Menarik sekali penelitian Anda. Sepengetahuan saya yang terbatas, coba cari buku yang kalau nggak salah judulnya “Metode Penelitian Kualitatif Contoh-contoh Praktis” yang diterbitkan oleh RosdaKarya bandung dan diedit oleh bapak Prof Deddy Mulyana, dkk… di dalamnya ada contoh atau rangkuman desertasi Ibu Dr Lelly Ariani yang menyorot tentang “kekerasan (premanisme) politik di panggung Senayan (DPR)”. Ibu Lelly juga menggunakan dramaturgi, jadi mungkin mirip-mirip dan pasti bagus menjadi salah satu referensi Anda. Atau jika Anda ingin berhubungan langsung dengan Ibu Lelly, saya bisa memberikan nomor kontaknya (tapi saya harus meminta izin dulu kepada beliau), mohon berikan saya alamat email Anda, atau email saya ke: bambang.sukmawijaya@ind.ddb.com atau bsukma@writing.com —–saya pasti hubungi Anda

    Untuk Bung ROTUA,
    Tentu saja dalam penelitian fenomenologi Anda bisa menggunakan teori, tapi jangan terjebak menjadikan teori sebagai dasar penelitian Anda (lebih jelasnya baca bahasan saya di bagian lain blog saya ini berjudul “teori dalam penelitian kualitatif”).
    Dalam penelitian kualitatif, faktor opini terhadap fakta yang kita temukan sangat penting dalam membangun analisis kita pada bagian “Hasil Penelitian dan Pembahasan”. Jadi konstruksi (opini terhadap) realitas ada banyak tingkatan. Pertama, kontruksi realitas responden/informan yang Anda wawancarai (bagaimana pandangannya terhadap suatu fenomena dan bagaimana mereka melihat diri sendiri dan pengalamannya). Kedua, konstruksi (opini) realitas dari peneliti terhadap hasil konstruksi (opini) responden/ informan tersebut. Kata sederhananya, peneliti “wajib” memberikan pendapat terhadap pendapat (informasi) yang didapat dari responden/informan, serta pendapat terhadap fakta-fakta hasil observasi langsung di lapangan maupun sumber pustaka.
    Sebetulnya, opini peneliti itu sama saja dengan analisis atau pembahasan penelitian. Memang ada tahap-tahapnya, tidak langsung memberi opini. pertama biasanya, ada tahap kategorisasi, ini untuk menertibkan berbagai informasi dan data yang diperoleh di lapangan (hasil wawancara, observasi, dll). jadi dikelompokkan, ini berbicara tentang apa, ini berbicara tentang apa, dsb… tidak harus harafiah… baru dianalisis dengan membandingkan dengan teori/pendapat pakar/praktisi/ hasil penelitian lain yang berkaitan dengan temuan tersebut… di sini Anda pun bebas berpreposisi/ beropini atas teori2 tersebut, misalnya fakta yang ditemukan bertentangan/mendukung teori/pendapat/hasil penelitian A, dsb… bahkan, jika opini/analisis Anda sangat kuat memunculkan sebuah “clue” baru, bukan tidak mungkin dari opini/analisis Anda melahirkan teori baru. Memang begitulah tujuan penelitian kualitatif/ fenomenologi. Namanya juga paradigma subyektif.
    Soal responden/ informan, sesuaikan dengan tujuan penelitian Anda. Misalnya Anda ingin mengetahui tentang perasaan/pndangan pedagang kaki lima, tentu anda tidak akan bertanya pada petani. Tapi jika Anda ingin mewawancarai petugas tantrib, ibu2 langganan pedagang kaki lima, tetangga pedagang, preman2 di lokasi dagang yang sering memalak mereka, dsb, ini masih relevan. Begitu pula dalam penelitian biografis. Keluarga, teman, orang2 yang pernah berhubungan dengan subyek, dsb adalah informan2 yang cukup penting selain si subyek itu sendiri. Intinya, galilah informasi sebanyak2nya dan sedalam2nya dari berbagai sumber YANG RELEVAN DENGAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN ANDA.

    Untuk Bung DONI KURNIAWAN yang baik,
    1. fenomenologis bisa digunakan dalam psikologi komunikasi atau sebaliknya, justru perspektif psikologi komunikasi berperan penting dalam penelitian fenomenologis karena mengungkap pengalaman2 psikis si subyek baik itu berupa perasaan, pendapat, persepsi, dll terhadap lingkungan maupun dirinya sendiri (apapun topik penelitiannya).
    2. jangan pikirkan teorinya dulu, lebih baik fokus pada apakah ada penelitian sebelumnya mengenai hal itu atau yang ‘nyerempet2′ dengan topik/masalah penelitian Anda. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori, tapi dimulai dari fakta di lapangan, karena Anda toh tidak ingin menguji teori (baca tulisan saya mengenai “teori dalam penelitian kualitatif” pada bagian lain blog ini, dan komentar2 saya terhadap pertanyaan teman2 yang lain)
    3. mengenai punk saya tidak punya buku referensi secara khusus, tapi beberapa artikel di Kompas pernah mengulas mengenai hal ini, Anda bisa searching ke pusat dokumentasi Kompas (mereka welcome kok), dan tentu saja di media2 lainnya. Coba cari di google juga, siapa tahu bisa ditemukan banyak referensi penting.

    Demikian jawaban2 saya. mohon maaf jika kurang memuaskan. kita bisa berdiskusi lebih lanjut jika masih ada yang kurang jelas. namun saya sarankan juga membaca jawaban2 saya atas pertanyaan penanya lain sesuai kategori yang ada di blog ini, karena seringkali beberapa penanya mengajukan pertanyaan yang sudah saya jawab pada penanya lain atau sudah saya bahas pada bagian/judul tulisan yang lain.

    semoga bermanfaat.

    salam,
    B

  11. 11

    Aris said,

    wah saya sangat tertarik dengan pembahasan diatas…saya masih harus banyak belajar….
    Pak bambang saya mau bertanya…:kalau seandainya saya melakukan penelitian dengan metode kualitatif kemudian saya tidak menemukan fakta dilapangan ataupun penelitian yang serupa dengan penelitian saya, gimana?
    terima kasih…..

  12. 12

    bambangsukmawijaya said,

    pertama, mungkin Anda masih kurang usaha… cobalah cari dan usaha lebih keras lagi, karena sekarang channel dan sumber informasi sudah melimpah ruah dan sangat beragam. Anda bisa mencari di perpustakaan kampus2, lembaga2, searching di internet, jurnal2 dalam dan luar negeri, majalah2, koran2 dan lain-lain. Kalau setelah usaha maksimal tidak juga menemukan literatur yang langsung terkait dengan topik penelitian, ambil saja yang nyerempet-nyerempet. Pasti banyak.

    kedua, bagaimana mungkin Anda mengatakan “tidak menemukan fakta di lapangan” sementara penelitian Kualitatif justru memulai dari fakta di lapangan. Apakah topik atau masalah penelitian Anda hanya fiktif? Kalau demikian, berarti pijakannya salah. Karena prinsip utama penelitian ilmiah adalah fakta. Kita tidak bisa berbicara hal-hal yang fiktif karena itu bisa menjadi novel atau karya imajinatif lainnya. Karena itu, coba telaah lagi masalah dan topik penelitian Anda. Sangat banyak hal-hal menarik yang patut untuk diteliti. Coba pikirkan lagi.

    Demikian penjelasan saya. Moga2 bermanfaat.

    salam,
    Bambang

  13. 13

    christina said,

    saya sangat tertarik dengan metode fenomenologi, yati bagaimana mekanai pengalaman narasumber tentang salah satu kasus yang dialmai. bagimana kalau untuk meneliti tentang culture shock dalam perkawinan antaretnik. munkgin bisa meberikan masukannya, terima kasih

  14. 14

    bambangsukmawijaya said,

    pertama, Anda harus mengembangkan empati Anda. Anda harus ‘masuk’ dalam kehidupan informan/narasumber Anda. Anda harus membayangkan bagaimana kalau Anda menjadi dia. Itulah pintu untuk memahami dan memaknai seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan narasumber atau informan Anda.

    kedua, setelah Anda memaparkan pemahaman dan pemaknaan Anda terhadap pengalaman narasumber, maka pada tahap analisis, cobalah ‘keluar’ sejenak dan kembali menjadi Anda kembali yang melihat semua persoalan dan pengalaman secara komprehensif (bird’s eye) seperti burung melihat ke bumi. Jadi, Anda bisa melihat secara obyektif dan membandingkan dengan penelitian2 sebelumnya, teori2 yang ada, pendapat2 pakar, artikel2 dan bahan referensi lain. Dari sini, besar kemungkinan Anda akan menemukan teori baru mengenai pengalaman narasumber.

    Itulah asyiknya penelitian fenomenologi.

    terimakasih. semoga cukup jelas dan bermanfaat.

    salam,
    Bambang

  15. 15

    hendrik said,

    saya sedang mengerjakan skripsi tentang konsep diri sarjana yang menganggur diantara stigma dari masyarakat pendekatan yang harus saya gunakan sebaiknya fenomonologi atau interaksi simbolik?
    tolong beri penjelasan

  16. 16

    rotua said,

    salam mas Bambang,
    akhirnya saya menemukan judul yang tepat untuk skripsi saya
    Fenomena Komunitas Homoseksual ( Studi Fenomenologi tentang alasan seseorang menjadi gay).
    Saya membuat perumusan masalahnya adalah mengapa seseorang menjadi gay?
    adapun kerangka teori nya adalah komunikasi, komunikasi interpersonal, komunikasi antar priabdi yakni komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi kelompok,
    dilanjutkan dengan teori konstruktivis, fenomenologi dan homoseksualitas.

    saya ingin menanyakan beberapa hal nih mas, karena kan saya masih merancang BAB I neh.
    1. Bagaimana bentuk dari kerangka konsep dari penelitian fenomenologi?karena saya hanya mengetahui skema dari penelitian korelasi dan deskriptif saja.?
    2.Apakah menurut mas, homo itu merupakan sebuah fenomena atau tidak?/karena banyak yang berkata bahwa homo itu bukanlah sebuah fenomena, karena sudah ada sejak dulu.Benar ga sih mas? apa kategori fenomena menurut mas?
    3. Apa perbedaan antara studi fenomenologi dan studi kasus?

    Terimakasih sekali ya mas!!

  17. 17

    bambangsukmawijaya said,

    Bung hendrik, Anda bisa menggunakan teori interaksi simbolik dengan pendekatan fenomenologi.

    Konsep diri adalah salah satu bagian dari teori interaksi simbolik. Bagaimana si subyek (penganggur) melihat dirinya seperti orang lain (masyarakat sekitar) melihat dirinya. Lalu kenapa pendekatannya fenomenologi? Karena dalam penelitian ini Anda membiarkan si subyek mengungkapkan apa adanya mengenai apa yang dirasakan dan dipikirkan tentang dirinya berdasarkan pandangan orang lain. Namun, di samping teori konsep diri, di dalam interaksi simbolik juga perlu Anda gali bagaimana si subyek berinteraksi/ berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol (bahasa, isyarat, gesture, dll) tertentu untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada dunia sekitarnya (orang lain, masyarakat, media, dll).
    Gunakan kerangka berpikir dengan teori interaksi simbolik, dan metodenya metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
    Yang pertama perlu Anda cari tahu, apakah sudah ada yang melakukan penelitian tentang penganggur?
    Ini akan membantu Anda menajamkan masalah penelitian Anda, dari angle mana Anda meneliti, agar tidak sama dengan penelitian sebelumnya.

    Demikian jawaban saya. Moga-moga bermanfaat.

    salam,
    Bambang

  18. 18

    bambangsukmawijaya said,

    Penelitian tentang homoseksual sudah banyak dilakukan. Dan alasan orang menjadi gay juga sering dibahas di media-media. Bahkan mungkin sudah ada buku psikologi yang membahasnya. Lalu apa istimewanya topik penelitian Anda?

    Mungkin saran di bawah ini bisa jadi bahan pertimbangan.

    Anda harus mencari angle lain yang lebih menarik dan baru terpikirkan (diteliti) meskipun barangkali fenomenanya sudah lama ada. Misalnya: Anda meneliti gay-gay eksekutif atau komunitas tertentu yang begitu rapat menyembunyikan identitas kegayannya karena MUNGKIN alasan profesi atau lingkungan kerjanya. Nah, Anda bisa menggunakan kerangka berpikir/konseptual Teori Dramaturgis dari Goffman. Bahwa setiap orang memiliki panggung depan dan panggung belakang. Panggung depannya adalah eksekutif, dan panggung belakangnya adalah gay. Menarik untuk Anda teliti, bagaimana mereka mempersiapkan skenario untuk tampil di panggung depan? Apakah misalnya mereka memanjangkan jenggot, fitnes membentuk tubuh, suara diberat2kan, sikap dijaga agar lebih berwibawa, dll yang membangun image tertentu sesuai “skenario” yang mereka susun di panggung belakang. Dan lihat bagaimana panggung belakangnya. Bagaimana “asli”nya dia. Rekam dan gambarkan semua aktivitas, gesture, simbol2 yang digunakan, bahasa, gaya bicara, cara berinteraksi, dan sebagainya. Kelihatannya cocok Anda gunakan teori dramaturgis dan interaksi simbolik dalam kerangka pemikiran Anda. Metodenya adalah Kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi.

    Sekali lagi, itu hanya contoh ya. Tidak harus eksekutif, bisa profesi atau di lingkungan apa saja yang menunjukkan perbedaan antara panggung depan dan panggung belakangnya. Kalau gay yang kewanita-wanitaan kan biasa. Tapi bagaimana kalau gay yang tampak sehari-harinya sangat laki-laki dan hampir semua orang “tertipu” oleh penampilan sehari2nya? Apalagi kalau sampai memiliki istri (berkeluarga)? Wah, pasti lebih menarik diteliti. Bagus sekali kalau Anda bisa temukan subyek atau nara sumber seperti itu. Saran saya, jika Anda menemukan subyek/ gay yang benar2 qualified seperti itu, subyeknya tidak perlu banyak2, cukup satu orang saja Anda teliti, dan amati perilaku kehidupannya (kalau perlu 24 jam hehehe…). JANGAN LUPA MEREKAM DALAM CATATAN DAN ALAT REKAM LAIN SEMUA HASIL OBSERVASI ANDA AGAR TIDAK HILANG. Sayang, kan sudah capek2 namun ternyata lewat. Karena setiap fenomena ataupun informasi yang muncul kadang tidak muncul dua kali. Jadi hargai setiap informasi yang Anda temukan.

    Perbedaan Fenomenologi dan Studi Kasus?

    Namanya juga kasus, berarti sifatnya kasuistik. Artinya, hanya terjadi di satu tempat dan waktu, atau jarang terjadi di tempat dan waktu yang lain. Kalau fenomenologi bebas, fenomena bisa terjadi di mana-mana, namun karena fenomena tersebut seperti berpola dan unik (dan akhirnya menimbulkan pertanyaan mengapa terjadi?) maka menarik untuk diteliti. Tapi ingat, jangan sampai sudah ada yang menelitinya. Karena itu penting untuk melihat penelitian2 atau kajian2 fenomena terdahulu menyangkut topik yang akan kita teliti, agar kita bisa membandingkan dan mencari angle atau sudut penelitian yang lain. Seperti yang saya contohkan di atas.

    Semoga penjelasan singkat saya ini cukup membantu.

    Selamat meneliti. Semoga sukses!

    salam,
    B

  19. 19

    nunk said,

    pak Bambang..
    penjaBran baPAk sangat membantu saya dalam memahami arti fenomenologi..
    terimakasih sekali saya ucapkan

  20. 20

    ninok said,

    pak saya mau nanya, bedanya fenomenologi dengan etnografi apa ya ? keduanya akrab dengan observasi langsung dan mendalam kan…

  21. 21

    titiw said,

    Pak Bambang, saya ingin membuat skripsi tentang identitas tunanetra yang nge-blog. Bagaimana pengalaman mereka menghantarkan mereka dalam membuat blog dan bagaimana pengalaman mereka membentuk identitas di blog mereka. Saya memakai fenomenologi sebagai strategi penelitian, namun belum menemukan teori besarnya apa. Apakah teori interaksi simbolik ini dapat dipakai dalam konteks ini? Atau ada teori khas fenomenologi yang lain yang dapat saya pakai? Terima kasih banyak sebelumnya..

  22. 22

    christina said,

    apakah fenomenologi hanya meniliti manusia dan peristiwa yang dialaminya atau bisa juga bagaimana seseorang itu memaknai saja kejadian hanya berdasarkan pengamatan tetapi dialaminya secara langsung.

  23. 23

    dian said,

    saya ingin tahu apakah fenomenologi hanya meneliti tentang manusia, apakah pendekatan ini dapat juga dimanfaatkan u/ meneliti tentang dualitas dari artefak/benda2produk/arsitektur/karya seni terimakasih

  24. 24

    bambangsukmawijaya said,

    neng Christina dan Dian,
    pertanyaan kalian hampir mirip, jadi aku jawab bareng aja ya.

    Benar, fenomenologi hanya meneliti tentang manusia. ada berbagai teknik penelitian yang bisa digunakan. jika menggunakan metode observasi partisipan, maka peneliti biasanya ikut mengalami kehidupan seperti yang dialami oleh subyek atau obyek penelitian yang diteliti. Di sini, peneliti harus hati-hati. Karena terkadang peneliti larut dan melupakan tugasnya sebagai peneliti. Karena itu dalam penelitian kualitatif (termasuk fenomenologi) dikenal istilah emik dan etik, yaitu kapan peneliti menyatu dengan obyek/subyek penelitiannya, dan kapan peneliti berjarak dengan obyeknya.
    Hal tersebut untuk menjaga “obyektivitas” peneliti, maksudnya, untuk menjaga kesadaran peneliti tentang tugasnya sebagai peneliti. Memang, salah satu ciri fenomenologi dengan teknik observasi partisipan, peneliti harus bisa mendeskripsikan dan memaknai suatu peristiwa atau fenomena seperti kacamata yang digunakan oleh subyek/obyek penelitiannya. Karena itu satu-satunya cara adalah peneliti harus “menyatu” dengan obyeknya. Tapi, dalam menganalisisnya, peneliti harus “obyektif” dalam memberikan interpretasi, karena itu peneliti pun harus tahu diri dalam mengambil jarak.

    Di sinilah seninya penelitian fenomenologi atau penelitian kualitatif pada umumnya.

    terima kasih.

    Bams.

  25. 25

    Rotua said,

    Bung Bambang,
    saya ingin menanyakan bagaimana cara membuat analisis dari penelitian fenomenologi.
    Saya mengangkat tema komunikasi verbal dan nonverbal di kalangan gay!

    Terimakasih!

  26. 26

    tika said,

    pak, saya berencana untuk mengambil penelitian soal karun benny dan mice di kompas. saya ingin menggunakan fenomenologi sebagai metode untuk menggali pengalaman subjek (benny dan mice) sebagai kartunis dalam membuat kartun. apakah menurut bapak metode saya sudah tepat?

    • 27

      bisa, dan tepat.
      kau bisa menggunakan pendekatan fenomenologi. jangan lupa ya, metode kualitatif yang penting kedalaman informasinya. jadi kau harus menggali sedalam2nya, dengan wawancara mendalam dan observasi (partisipan). liat dan foto langsung bagaimana benny dan mice lagi buat kartun, gimana proses kreatif mereka, kebiasaan2 mereka yang memengaruhi penciptaan mereka, dll. Sambil terus menanyakan/ diskusi tentang makna2 pesan dari apa yang mereka ciptakan lewat kartun, kenapa mereka menyampaikan pesan itu, dan bagaimana mereka menyampaikannya agar nyambung ke benak pembaca. Observasi secara alamiah dan gali informasi di kepala mereka. Itulah fenomenologi.

      moga penjelasan singkat ini bermanfaat ya.

      cheers, B.

  27. 28

    keke said,

    Pak Bambang, sy sedang menyusun skripsi yang kaitannya dengan kegiatan PR. saya tertarik untuk meneliti tayangan program di metro tv dari PT agung sedayu group itu. program itu ditayangkan seminggu sekali untuk memasarkan usahanya.(advertorial).yang menjadi pertanyaan sy ialah apakah ada kaitan program itu dihubungkan dengan interaksi simbolik??mungkin bagaimana mereke mengemas pesan yang menyimbolkan keadaan hunian yang sangat nyaman, atau sperti apa?
    mohon balasannya ya pak..
    trima kasih sebelumnya.

    • 29

      Keke, saya kira ngga perlu pake interaksi simbolik, karena kamu kan ingin meneliti dari sisi kreatornya. Lebih cocok kamu pake teori kontruksi sosial Berger & Luckmann dalam tradisi konstruktivisme, yang dikoreksi oleh penelitian Prof Burhan Bungin dengan konsep “Kontruksi realitas media”, karena simbol2 yang kau maksud itu ditayangkan di media. (baca buku Pak Bungin berjudul: “Imaji Media Massa”). Jadi kau bisa menggali makna apa yang hendak dimunculkan oleh pembuat program itu (tentu saja atas pesanan klien), dan bagaimana mereka mengemasnya menjadi sebuah simbol kenyamanan yang kau maksud. Cukup sampai di situ. Kalau Pak Bungin, karena dalam bentuk desertasi, dia juga menelusuri pemaknaan simbolik dari sisi konsumen, dan juga kajian medianya. Tapi saya kira kamu ngga perlu harus seluas dan sekompleks itu. Toh tuntutan akademis bagi S1 tidak setinggi S3. Cukup pilih fokus di satu sisi aja. Kalau itu bisa kau kaji dengan dalam dan bernas, karyamu tidak akan kalah dengan karya S3. Dalam penelitian kualitatif, yang diutamakan adalah kedalaman, bukan keluasan.

      Mudah2an penjelasan ’seadanya’ ini cukup membantu kamu memutuskan untuk menggunakan teori dan metode apa. Metodologi diciptakan untuk memudahkan dan menjernihkan suatu masalah dengan pemecahan yang sistematis. Jadi tak perlu mempersulit diri.

      cheers, B.

  28. 30

    bunga said,

    wuah.. saya senang sekali akhirnya menemukan blog yang berkaitan dengan skripsi saya..

    pak Bambang yang super..
    saat ini saya sedang pra-skripsi.. dan saya sudah mendapatkan judul yg berkaitan dengan budaya perusahaan

    judul itu saya ambil berdasarkan pengalaman ketika saya sedang magang selama 1 bulan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

    saya kagum sekali dengan semangat kerja para karyawannya yang berlandaskan semangat spiritual. dan setelah ditelaah ternyata budaya perusahaan tersebut memang mengedepankan nilai-nilai spiritualitas. terlihat dari karyawannya yang selalu bekerja dengan menyeimbangkan antara kecerdasan IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient).

    kekaguman saya terhadap kekuatan dari budaya perusahaan yg sampai bisa membangun motivasi kerja karyawannya itu membuat saya terdorong untuk meneliti hal tersebut kedalam skripsi saya.

    sekarang yang sedang saya bingungkan, apakah saya memakai pendekatan fenomenologi ataukah etnografi ? karena dua-duanya cocok jadi saya bingung ngambil yg mana.. mohon bantuannya secepatnya ya pak..

    nuhun..

    • 31

      wah.. menarik sekali penelitianmu, bunga.. sebetulnya fenomenologi atau etnografi tak perlu kau bingungkan.. sama2 sulit tapi sama2 gampang.. nah lo, tambah bingung, kan? hehe..

      Pernah nonton The Nanny Diaries, ngga? si nanny dalam film itu kan sedang melakukan penelitian etnografy untuk keperluan tesisnya tentang antropologi perkotaan, dan dia mengambil tema keluarga urban.. nah, seperti itulah penelitian etnografi yang sesungguhnya, terlibat langsung dengan subyek dan lingkungannya, bahkan kalau perlu tinggal dan menjadi bagian di dalamnya. Apakah perlu menyamar atau tidak, itu tergantung situasinya. Yang penting tujuannya untuk mengambil ‘informasi sealamiah mungkin’.

      Nah, ‘informasi sealamiah mungkin’ inilah yang mirip dengan fenomenologi. Tapi dalam fenomenologi, metodenya tidak harus selarut etnografi murni. Sebetulnya kau tak perlu bingung. Untuk skripsi, biasanya tidak dituntut se’sempurna’ tesis S2 atau desertasi S3. yang penting sudah cukup memenuhi kaidah2 metodologis, seperti untuk riset kualitatif perlu wawancara mendalam, observasi (partisipan), penelusuran dokumentatif. Saranku, coba pake pendekatan Fenomenologi aja, minimal tuntutannya tidak ’seberat’ etnografi murni, meskipun sebenarnya etnografi praktis pun ada seperti penelitian etnografi dalam marketing, atau etnografi online lewat internet yang tidak ’seberat’ etnografi para antropolog yang melakukan penelitian bertahun2 dan kadang sampai harus kawin dengan penduduk setempat saking menjiwainya budaya dan kehidupan sosial tempat tersebut.

      Ok, sudah tahu kan apa itu Fenomenologi? coba baca lagi artikel saya di blog ini dalam kategori “Metode Riset Komunikasi” tentang “Fenomenologi dan Interaksi Simbolik”, atau baca buku2 metode penelitian Prof Deddy Mulyana atau Prof Engkus Kuswarno dari Unpad. Ada di toko buku.

      selamat meneliti, moga sukses!

      salam, B

  29. 32

    olie said,

    pak Bambang yang bijak,
    apakah saya boleh berkonsultasi tentang skripsi lewat email?
    mohon balasan izin Anda terlebih dahulu, terima kasih..

    -Olie-

    • 33

      hi olie.. dengan pengetahuan dan ilmu saya yang terbatas, insya Allah saya akan bantu. Tapi kamu harus tetap konsultasi dengan pembimbingmu, karena bagaimanapun, dialah pembimbing resmimu yang punya wewenang dalam penilaian akademismu. Hasil konsultasi dengan saya hanya sebagai tambahan dan bahan diskusi aja ya. Tetap, kamu harus lebih sering diskusi dengan pembimbingmu. Kecuali kalau saya jadi dosen pembimbingmu, lain cerita hehe.. tapi pada prinsipnya, metodologi penelitian sama aja, yang membedakan mungkin peyampaiannya, karena itu kamu harus lebih sering bertanya dan meminta menjelaskan secara sederhana jika kamu kurang paham..

      cheers, B

  30. 34

    faisal said,

    salam kenal dari faisal
    terima kasih pak bambang atas pencerahannnya…
    tapi ada yang mau saya tanyakan
    saya sedang mengerjakan skripsi sekarang. skripsi saya tentang buwuh(sumbang-menyumbang) dalam upacara pernikahan. rumusan masalah saya. 1. bagaimana mekanisme yang terjadi, 2. bagaimana tindakan individu dalam proses buwuh, 3. bagaimana masyarakat memaknai buwuh tersebut.
    dalam hal ini saya kebingungan apakah saya menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik apa fenomenologi.
    terus kalau seumpama menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik bagaimana menganalisis data yang terkumpul dengan metode partisipan.

    terima kasih

    • 35

      dear faisal.. Harus kamu tau dulu perbedaan pendekatan antara fenomenologi dan interaksionisme simbolik, karena pada intinya hampir sama. Bedanya, fenomenologi fokus pada fenomena alamiah, sedangkan interaksionisme simbolik fokus pada pemaknaan simbolik dari interaksi. Tapi dalam aplikasinya, sama saja, keduanya bisa menggunakan observasi partisipan. Kalau kamu senang menganalisis makna simbol2 sosial di mata individu masyarakat, pakailah interaksionisme simbolik. Tapi kalau kamu senang mengamati fenomena sosial yang muncul beserta simbol-simbol yang ada tanpa terlalu jauh masuk ke ruang pemaknaan individu masyarakat, pakailah fenomenologi. Di fenomenologi kamu harus membahas juga tentang sistem2 sosial budaya ekonomi dll yang memengaruhi dan membentuk fenomena tersebut. Intinya, kalau interaksionisme simbolik kamu WAJIB MEMAKAI KACAMATA INDIVIDU MASYARAKAT dalam memaknai simbol2 sosial budaya, sedangkan fenomenologi tidak wajib, tapi PERLU untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap fenomena tersebut. Jadi sekarang kamu bisa bedakan antara WAJIB dan PERLU kan?

      Dari masalah penelitian kamu, saya melihat agaknya menjurus ke interaksionisme simbolik. Tapi saran saya, coba ditekankan lebih banyak ke pertanyaan penelitian 3-mu: tentang makna simbol bagi masyarakat di situ. Yang harus kamu ketahui dan gali:
      1. APA SAJA MAKNA BUWUH SEBAGAI SIMBOL SOSIAL/BUDAYA/EKONOMI BAGI MASYARAKAT SETEMPAT?
      2. BAGAIMANA MEREKA MEMAKNAI SIMBOL-SIMBOL TERSEBUT?
      3. MENGAPA MEREKA MEMAKNAI SEPERTI ITU?

      Sekali lagi, jangan lupa, untuk dapat memahami dan menjawab pertanyaan2 tersebut, KAMU WAJIB MENJADI MEREKA, MEMINJAM KACAMATA MEREKA. Caranya, hiduplah di antara mereka, dan rasakan bagaimana mereka memandang Buwuh itu. BAGAIMANA BUWUH ITU MEMENGARUHI INTERAKSI SOSIAL BUDAYA MEREKA DAN MENJADI SIMBOL KHAS KEMASYARAKATAN DAN BUDAYA MEREKA.
      Itu berarti metode pengumpulan datanya melalui observasi partisipan. Udah tahu, kan?

      Setelah data terkumpul, kamu kategorikan semua informasi yang ada menurut pola2 tertentu yang kamu temukan… biasanya informasi itu membentuk pola-pola tertentu (atau kesamaan2 tertentu) yang unik, sehingga kamu mudah mengategorisasikan. Misalnya: Buwuh sebagai simbol ritual keagamaan, buwuh sebagai simbol adat, buwuh sebagai simbol ekonomi (kekayaan), dll. Itu baru kategorisasi yang menjawab pertanyaan 1, belum untuk pertanyaan 2 dan seterusnya.

      Kemudian, dari hasil temuan, kamu lihat, apakah ada penelitian sebelumnya atau teori2 yang relevan atau berkaitan dengan hasil yang kamu dapat? analisis, di mana persamaannya, dan di mana perbedaannya. Jika kamu menemukan banyak perbedaan, berarti KAMU BERHASIL MENGOREKSI/MEMATAHKAN TEORI ATAU PREPOSISI PENELITIAN SEBELUMNYA, DAN SIAP-SIAPLAH MEMUNCULKAN TEORI ATAU PREPOSISI BARU berdasarkan hasil penemuanmu di lapangan.

      Simpel, kan?

      Oke, selamat meneliti!

      salam,
      BSW

  31. 36

    shalimow said,

    salam perkenalan ya
    thanks atas postingnya
    jadi ingat materi kul hehehehe
    sukses selalau

  32. 38

    wahhh
    makasih yaaa

    saya emang lagi cari2 ini neh
    :)


Comment RSS · TrackBack URI

Say your words