Teori dalam penelitian kualitatif

Masih banyak yang salah kaprah. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, namun pusing memikirkan teori sebelum memulai penelitian.

Padahal, penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori, tidak untuk menguji teori atau mengukuhkan teori yang ada. Jadi buat apa bertanya: penelitian ini memakai teori apa ya?

Penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dan akhirnya (bisa) menghasilkan teori. Di sinilah uniknya penelitian kualitatif. Peneliti tidak dibebani oleh teori. Bahkan, pada metode grounded theory approach, peneliti langsung terjun ke lapangan sambil merancang penelitiannya. Dari sana baru didesain penelitian,  sambil mengumpulkan informasi dan hasil pengamatan untuk menghasilkan suatu teori baru atas fenomena di lapangan. Namun, bukan berarti bahwa peneliti “cupu” abis. Setidaknya, peneliti juga harus punya wawasan untuk dapat menginterpretasi dan menganalisis fenomena di lapangan. Salah satunya adalah mengetahui teori yang relevan. Salah satu ya, bukan satu-satunya. Yang lain apa? Yang lain adalah pendapat-pendapat, komentar-komentar, kutipan-kutipan pembicaraan, ulasan artikel, jurnal, hasil penelitian yang relevan, bahkan ‘curhat’ yang ada di blog sekalipun jika memang relevan.

Jadi, apa fungsi teori dalam penelitian kualitatif?

Berbeda dengan teori pada penelitian kuantitatif yang menjadi dasar penelitian untuk diuji, maka pada penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai inspirasi dan perbandingan. Mungkin Anda terinspirasi dari suatu teori yang kemudian menjadi kerangka berpikir Anda dalam meng-capture suatu fenomena? Atau ketika Anda menjelaskan dan membahas suatu fenomena, Anda teringat pada suatu teori yang berkaitan dengan fenomena tersebut, maka ungkapkanlah. Teori akan memperkuat penjelasan Anda. Dan memberi warna yang lebih tajam bagi analisis Anda. Namun, teori bukan satu-satunya alat analisis ataupun perbandingan dan bahkan inspirasi Anda. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari sebuah artikel ringan di sebuah majalah ‘ecek-ecek’, dari sebuah ungkapan ngawur di pinggir jalan, dari mana saja. Sepanjang itu membentuk cara berpikir Anda dalam memandang suatu fenomena, maka itu bisa menjadi inspirasi bagi Anda. Jadi, dalam penelitian kualitatif, teori bukan satu-satunya kacamata yang bisa digunakan untuk ‘melihat’. Ada banyak kacamata lain. Karena itu, mengumpulkan segala macam informasi yang relevan serta dari segala macam sumber adalah penting. Karena seperti diulaskan tadi, selain menjadi inspirasi, segala informasi dan rujukan tersebut juga dapat menjadi bahan perbandingan Anda pada pembahasan hasil penelitian.

Saya memberi contoh misalnya sebuah cerita.

Ketika sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba Resa dikejutkan oleh seorang laki-laki parlente dengan dandanan unik. Laki-laki itu bertanya dengan gaya sok wibawa, namun tak mampu menyembunyikan ‘jari ngetril’-nya. Ini mengingatkan Resa pada sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro. Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut.

Nah, ungkapan “sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro” adalah sama fungsinya dengan teori yang menjadi bahan perbandingan dalam pembahasan penelitian kualitatif.

Sedangkan ungkapan “Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut” adalah hasil perbandingan dan analisisnya.

Jadi jelas, teori dalam penelitian kualitatif hanya sebagai bahan perbandingan dan inspirasi, bukan sebagai dasar penelitian untuk diuji keberlakuannya pada fenomena atau masalah yang diteliti. Jadi, kenapa harus repot-repot memikirkan teori apa yang hendak digunakan sebelum penelitian?

20 Responses so far »

  1. 1

    rani said,

    Analisis kualitiatif adalah dasar untuk kuantitatif. Anda tidak dapat memisahkannya.
    Ketika anda berbicara tentang kualitatif, anda tertantang oleh pertanyaan ukuran-ukuran yang sangat berhubungan dengan data. Data itu tidak lain adalah bahasa pengantar dari kuantitatif.
    Anda tidak dapat memisahkan dua analisis itu.
    Atau dengan mengemukakan bahwa kualitatif sajalah yang diperlukan.
    Keberadaan hipotesa anda akan dipertanyakan oleh forum-forum saintifik.

  2. 2

    bambangsukmawijaya said,

    Terima kasih atas komentar Anda.
    1. mohon jelaskan apa yang Anda maksud “kualitatif adalah dasar untuk kuantitatif”. Apakah data-data kualitatif bisa dikuantifikasi? jika itu yang Anda maksud, maka Anda benar, seperti jawaban-jawaban kuesioner yang menekankan aspek kualitatif berupa kata sifat: Sangat baik, baik, buruk, sangat buruk, dll semua dapat dikuantifikasi dengan skor2 tertentu untuk diolah dan dianalisis secara kuantitatif.
    Tapi jika yang Anda maksud kronologis kehadiran metodologis tersebut, saya kira Anda agak keliru, karena paradigma yang pertama muncul justru paradigma kuantitatif (positivisme) yang bersumber/terpengaruh oleh ilmu-ilmu (pasti) alam. Namun, dalam perkembangannya pada ilmu-ilmu sosial, ditemukan ketidakpuasan terhadap hasil-hasil penelitian yang bersifat positivistik yang bersandar pada obyektivisme dan kuantifikasi belaka, karena kenapa? karena tak seorang pun manusia yang sama. Ada pepatah mengatakan, “rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa beda” menunjukkan bahwa cara-cara generalisasi rupanya tidak selalu benar dalam memperoleh kebenaran. Ada faktor-faktor subyektif manusia yang memegang peranan cukup penting dalam menyingkap suatu kebenaran ilmiah. Itulah mengapa era Habermas dkk kemudian mengembangkan berbagai pendekatan yang non-positivistik (obyektif) seperti hermeneutik, fenomenologi dll yang merupakan latar kelahiran paradigma kualitatif dalam ilmu-ilmu sosial. Saya sarankan Anda untuk mempelajari sejarah filsafat ilmu lebih dalam.
    2. Kelihatannya Anda sangat positivistik (kuantitatif). Memang benar data adalah istilah untuk kuantitatif. Namun dalam paradigma kualitatif, seringkali data disebut “informasi” untuk menghindari pemahaman yang keliru tentang arti “data” yang cenderung “kaku” dan sangat obyektif. Coba Anda bayangkan, secara jujur, ketika ada orang menyebut “data”, yang terbayang biasanya deretan angka-angka yang pasti sangat kuantitatif. Padahal data pun ada yang bersifat kualitatif, dan dalam paradigma penelitian kualitatif sering orang menyebutnya “informasi”. Demikian pula jika dalam penelitian kuantitatif, sumber data yang diwawancarai disebut “responden”, maka dalam kualitatif disebut “informan”. Seperti, alasan mengapa orang berbuat sesuatu, apakah orang pasti menjawab angka-angka? Tidak, kan? Sebagian besar responden/informan pasti memaparkan alasannya yang bersifat kualitatif, meskipun (tidak menutup kemungkinan) dilengkapi data-data kuantitatif yang mendukung alasan kualitatifnya tersebut. Misalnya, mengapa Anda menggunakan telepon seluler untuk komunikasi? Biasanya dijawab, karena lebih praktis, lebih efisien, dll… dan setiap orang bisa memberikan jawaban/ alasan yang berbeda-beda…jarang yang menjawabnya dengan seragam, kecuali kita memang sengaja membatasinya untuk discoring dan dianalisis secara kuantitatif. Tapi sekarang saya bertanya, dengan membatasi jawaban agar bisa dihitung (dikuantitatifkan), apakah Anda bisa menemukan kebenaran secara memuaskan… misalnya, dari kesimpulan Anda menyebutkan (digeneralisasi) bahwa 80% orang menggunakan telepon seluler karena praktis, 10% karena hemat, dan 10% karena memudahkan… tapi ternyata ada orang yang menggunakan telepon selular karena “gaya” atau ingin terlihat keren. Bagaimana Anda mengatakan hasil penelitian Anda benar jika dari hasil penelitian Anda tidak terungkap alasan “gaya” karena Anda tidak mencantumkan dalam pilihan jawaban responden? Belum lagi alasan mengapa responden menjawab demikian (mengapa praktis, mengapa gaya, dsb)… padahal alasan di balik itu pun sangat berpengaruh dalam membentuk perspektif kita terhadap kebenaran yang ingin kita ungkap.
    3. Bahwa data kuantitatif pun diperlukan dalam penelitian kualitatif, begitu pula sebaliknya, memang benar… tapi bukan keharusan (hanya beberapa kasus saja), karena semua tergantung masalah dan tujuan penelitian Anda. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini saya sudah menjawabnya di bagian tulisan lain blog saya ini berjudul “Metode kuantitatif dan kualitatif digunakan bersama?”
    4. Saya tidak mengatakan bahwa di dunia ini yang diperlukan hanya kualitatif. Saya hanya memberikan gambaran bahwa di dunia ini ada dua arus besar paradigma ilmu atau paradigma dalam memandang masalah yakni paradigma kualitatif (subyektivik) dan kuantitatif (obyektivik/positivistik). masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan tiap orang memiliki kecenderungan pada masing-masingnya. Ada orang yang dalam memandang suatu persoalan sangat positivistik/kuantitatif, kebanyakan (bukan berarti semua) orang-orang dalam lingkungan ilmu pasti, hukum, akuntansi, perbankan, dll sehingga segalanya harus terukur secara angka atau aturan baku dan kaku…dan ada orang yang cenderung berpikir secara kualitatif/subyektivis yang biasanya lebih fleksibel dan memahami sesuatu tidak hanya melihat dari satu perspektif, sehingga kebanyakan orang-orang subyektivis yang berparadigma kualitatif tidak pernah men-judge atau menggeneralisasi sesuatu atau seseorang. Ketika orang obyektivis/kuantitatif melihat sebuah tindakan pencurian, misalnya, maka mereka langsung meng-judge “salah”, tapi bagi orang subyektivis/kualitatif, belum tentu salah, karena akan melihat dulu alasannya mengapa dia melakukan pencurian tersebut, apakah karena kemiskinan/kelaparan, dan sebagainya, baru memutuskan apakah dia salah atau benar atau disalahkan/dibenarkan dengan catatan. Karena itu inti pemikiran paradigma kualtitatif/subyektivik adalah PEMAHAMAN. Nah, Anda termasuk aliran mana? Andalah yang paling tahu.
    5. Hipotesa(sis) tidak dikenal dalam paradigma kualitatif. Memang ada istilah “hipotesis kerja”, tapi banyak pakar yang lebih cenderung mengabaikannya, karena itu dianggap hanya semacam “bid’ah” metode kualitatif.
    Jadi sekali lagi, ketika Anda membahas mengenai kualitatif, maka Anda harus melepaskan cara pandang kuantitatif Anda, begitu pula sebaliknya, karena kenapa? Seperti saya jelaskan di atas, sejarah kelahiran dan akar pemikirannya pun beda. Sungguh kurang tepat rasanya kalau kita memaksakan cara pandang kualitatif sementara yang dibahas adalah Kuantitatif, begitupun sebaliknya.

    demikian pendapat saya. mudah-mudahan bermanfaat.

    salam,
    B

  3. 3

    christina said,

    penelitian kualitatif pada dasarnya adalah studi kasus artinya kontektual, karena hasilnya tidak untuk digenalisasikan. tetapi saya juga masih bingung dengan teori yang akan dipakai. saya mengerti bahwa penelitian kualitatif itu tidak menguji teori atau mengukur variabel, tetapi pemilihan teori juga akan mewarnai proses penelitian hingga hasil penelitian yaitu interpretasi fenomena yang diteliti. bagaimana sebenarnya memposisikan teori tersebut. terima kasih. kebetulan saya akan meneliti komunikasi budaya dalam keluarga.

  4. 4

    bambangsukmawijaya said,

    Christina,
    Teori dalam penelitian kualitatif berfungsi sebagai:
    ‘Petunjuk’ (sebelum penelitian) sekaligus pembanding (dalam pembahasan/analisis hasil penelitian) untuk memahami fenomena yang akan kita teliti, jadi mirip2 fungsinya dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap fenomena yang kita teliti.

    Sama saja begini:
    Sebelum saya memasuki suatu kota, tentu saya membutuhkan beberapa petunjuk dan informasi sebelumnya. Nah, salah satunya dari orang yang pernah datang ke kota tersebut, atau, kalau tidak ada orang yang pernah ke kota tersebut, paling tidak pernah datang ke wilayah di sekitar kota tersebut. Segala informasi dan petunjuk yang kita dapatkan tersebut sama dengan teori maupun hasil penelitian peneliti sebelumnya mengenai fenomena yang akan kita teliti. Dari situ pula kita mendapatkan gambaran awal bagaimana kita akan masuk ke kota tersebut dan bagaimana nanti bila kita telah berada di kota tersebut. Ibaratnya biar tidak kayak rusa masuk kampung gitu :)
    Itulah mengapa, teori ini biasanya dipaparkan pada Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran/Konseptual/Teoritis. Bagaimana kita memandang fenomena, bagaimana kita ‘melihat’ kota tersebut sebelum masuk sangat dibantu oleh teori atau hasil penelitian sebelumnya.

    Bagaimana jika kita orang pertama yang akan masuk ke kota tersebut?
    Seperti tadi saya jelaskan, carilah informasi dari orang yang pernah ke wilayah di sekitarnya yang memiliki karakteristik mirip dengan kota tersebut. Jadi carilah teori atau hasil penelitian yang paling mendekati kerangka berpikir Anda dalam melihat fenomena yang akan Anda teliti. Pasti ada. Dan tentu saja Anda pasti tahu “tidak sama”nya di mana, kan?

    Kedua, fungsi teori yang lain adalah sebagai insight atau wawasan dalam membandingkan apa yang Anda lihat, rasakan, dan temukan setelah berada di kota tersebut (setelah Anda meneliti). Apa yang Anda temukan tiba-tiba mengingatkan Anda pada suatu teori. Apakah bertentangan atau sama dengan teori tersebut, itulah hasil perbandingan dan interpretasi Anda. Karena itu, fungsi kedua ini biasanya muncul pada bab Pembahasan/ Analisis Hasil Penelitian. Pada Bab ini, bisa jadi banyak teori, pendapat, hasil penelitian lain, artikel, dsb yang menjadi bahan perbandingan Anda tergantung kebutuhan penelitian dan keluasan wawasan Anda. Semakin kaya wawasan teoritis maupun wawasan pengalaman (dari bacaan dll) Anda, maka semakin tajam analisis Anda. Dari sinilah Anda bisa memeras segala temuan dan analisis Anda menjadi sebuah teori baru yang (bisa jadi) dipakai lagi oleh peneliti berikutnya. Kalau sudah begini, selamat, hasil penelitian Anda benar-benar insightful!

    Semoga penelitian Anda sukses.

    Salam,
    Bambang

  5. 5

    elang said,

    penelitian kualitatif,yg anda angkat sngt menarik,tanggapan anda yg biasa terhadap teori ini juga menjadikan saya bersemangat menggunakan penltian kualitatif sbgai pendekatan yg saya pilih dalam skrisp s1 saya.

    bisa minta petunjuk???

    saya sedang skrispsi tentang penelitian yg berjudul :
    Apresiasi khalayak terhadap film dokumenter.
    studi kasus apresiasi mahasiswa terhadap film dokumenter; perempuan dalam sebuah wacana.

    kebetulan film dokumenter tersebt saya sendiri yg membuatnya.
    kemudian maksud saya, saya ingin meneliti apresiasi film saya yg salah satunya adlh film dokmnter.

    saya memilih pendekatan deskriptif kualitatif.
    dengan metode studi kasus.
    pengumpulan data saya memilih FGD (focus group discussion)
    landasan teori saya pakai adalah teori uses and gratifications.

    yg saya tanyakan ;
    1. apakah bisa yg saya lakukan diatas.
    2. kalau bisa, ini yg telah saya lakukan;
    – saya memutarkan film saya tersebut, lalu saya membuka diskusi (FGD)
    dengan membagi 2 kelompok. setiap kelompoknya saya bagi 5 orang denga didampingi oleh satu orang ahli (dosen film undangan dan film maker dokumenter)
    – kemudian saya mencatat hasil FGD tersebut dan merekamnya dng video recorder (handycam) sesuai petunjuk penggunaan teori FGD.

    Pertanyaan lagi;
    1. apa yg saya lakukan tersebut salah?????
    2. kalau benar saya harus ngapain lagi, karena saya bingung banget dalam analiss data deskriptif kualitatif dengan penulisannya hasil analisis datanya.
    3. kalau digabungkan dengan FGD benar tidak?
    4. apakah hasil tersebut bisa saya bandingkan dengan teori uses and gratifications????
    5. kalu saya bisa bandingkan dngn teori yg saya pakai, bagaimana menganalisanya kembali,..

    trims atas petunjuknya

    elang khatulistiwa
    mahasiswa yg 8 tahun belum lulus, karena skrispi dan tugas akhir film nya yg idealis yg membuat susah dirinya sendiri.

    tapi karena tanggapan anda sblumnya diatas, membuat saya semnagat kembli,

    trims.
    26 mei 20008

  6. 6

    anie said,

    assalamu’alaikum, mas…

    maaf…saya sedang menyusun tesis. subjek penelitian saya adalah tunagrahita. dengan objek komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal mereka. bilamana saya menggunakan acuan etnografi komunikasi dari Hymes, katakanlah untuk identifikasi masalahnya, dengan komponen SPEAKINGnya, apa tepat? mungkin tidak semua yang saya ambil juga.

    kemudaian, saya dapat masukan dari dosen untuk menggunakan metode studi kasus. apa sebenarnya kelebihan studi kasus itu? kemudian, kalo saya combine antara studi kasus dengan etnografi komunikasi, apakah bisa? lantas apa etnografi komunikasi ini menjadi teori ataukah menjadi metode?

    terimakasih atas jawabannya.

  7. 7

    Ifran said,

    Selamt pagi mas!..,saya saat ini sedang mencari contoh penelitian kualitaif dan contoh kuesionernya seperti apa..saya masih bingung,mohon dibantu terimakasih.

  8. 8

    chrisanda said,

    apakah teori kualitatif bisa disebut sebagai sesuatu yang ilmiah??

  9. 9

    bambangsukmawijaya said,

    maksud Anda mungkin teori yang dihasilkan dari penelitian kualitatif? tentu saja bisa… karena semua teori telah melalui serangkaian “ujian”, terbukti mencerminkan realitas/fenomena yang ada, dan sering dikutip/digunakan oleh para peneliti berikutnya…

    memang ada yang mempertentangkan istilah “ilmiah” dan “alamiah”. “ilmiah” merujuk pada paradigma kuantitatif yang dapat di-set lalu diukur, sedangkan “alamiah” merujuk pada paradigma kualitatif yang apa adanya (terutama dikembangkan dalam tradisi fenomenologi)… tapi dalam konteks akademis, baik teori yang dihasilkan dari metode kualitatif maupun kuantitatif bisa dianggap sebagai sesuatu yang ILMIAH, dalam arti bersifat ilmu, menjadi rujukan para ilmuwan serta memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

  10. 10

    kaka said,

    saya masih bingung tentang tradisi fenomenologi. tolong jelaskan secara luas pengertian tradisi fenomenologi dalam penelitian kualitatif? disini saya sedang melakukan penelitian tentang fanatisme dan stereotype konflik suporter sepakbola di indonesia
    thanks banyak atas bantuannya.

  11. 12

    irnaaaa said,

    saya binggung nih..judul skripsi menggunakan metode kualitatif..dan saya disuru mempelajari tentang unit analisis sama triangulasi..bisa tolong di jelaskan..katana untuk menggunakan metode kualitatif harus mempelajari dua hal tersebut

  12. 13

    nawi said,

    mana yang kuantitatif atau kualitatif? semuanya bikin pusing dan masih harus dipelajari lebih lanjut….

    • 14

      Mana yang kuantitatif atau kualitatif? maksudnya apa, wan?

      ulasan di artikel ini hanya menjelaskan peran dan posisi teori dalam penelitian kualitatif, tidak menjelaskan apa itu penelitian kualitatif dan apa itu kuantitatif? Atau dirimu masih bingung apa itu penelitian kualitatif dan apa itu kuantitatif? Hmmm.. pembahasan mengenai perbedaan dan apa itu penelitian berparadigma kualitatif dan kuantitatif sebenarnya ada di bagian lain dalam blog ini (dalam kategori METODE RISET KOMUNIKASI dengan judul artikel: “Paradigma Kualitatif dan Kuantitatif”). Silakan dicek sendiri.. bebas kok!

      Moga bermanfaat.
      BSW

  13. 15

    ita said,

    kl judul sekripsi tentang pola penggunaan televisi dg metode diskriptif kualitatif maka teori yang di gunakan apa ya?

  14. 16

    FAS said,

    Alhamdulillah….thanks to God….thanks…it’s help me

  15. 17

    FAS said,

    Mohon maaf jika pernyataan saya keliru :

    “Hampir bisa dipastikan kata-kata ilmiah maupun alamiah yang terhimpun di dalam sebuah penelitian (skripsi & tesis), baik susunan kata-kata & kalimatnya harus kita fahami “MAKNA’ darinya, tidak hanya secara matang, melainkan secara baik dan benar.

    Mengapa ?

    Karena begitulah seharusnya Anda berfikir, merasa dan bertindak.(bingkai ilmiah)
    dengan hal itu pula,

    Anda akan memahami Maksud & Tujuan Penelitian tersebut
    karena jika “tidak”, itu artinya Anda sedang menelannya
    (kata-kata dan kalimat tersebut) mentah-mentah.

    Faditia AS, Student of Moestopo University & Pusat Studi Islam Al-Manar
    seiracybercity@yahoo.com

  16. 18

    jimmy said,

    ass….
    saya tertarik dari semua isi blog anda..
    saya sdg mnyusun skripsi mas bams, mengenai analisis karikatur di surat kabar, metode yg digunakan kualitatif deskriptif…nah tu gmana jdnya??mnrut pandngan anda bagaimana??

  17. 19

    Ika Rusdiana said,

    thanks artikelnya..ckup mencerahkan dan membuat tetp smangt mengambl penelitian kualitatif..”stelah skian lama pening..”

    dalam penelitian kualitatif, saya mash bngung dg istilah validasi & verifikasi. tolong dijelaskan mas, bagaimana sbenarnya menguji validitas “data” kualitatif?. saya menggunakan pendekatan IPA (interpretative Phenomenologycal Analysis).

    salam kenal and thanks,

  18. 20

    terimakasih mas, merasa ada gambaran untuk membuat karya ilmiah, dan bagaimana teori itu di posisikan…


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: