Teori-teori Semiotika, Sebuah Pengantar

C.S PEIRCE
Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant.

peirce1.jpg

Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.

Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.

Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.

Contoh:  Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian.  Begitu pula ketika Nadia Saphira muncul di film Coklat Strowberi dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai icon wanita muda cantik dan menggairahkan.

peirce-3.jpg

FERDINAND DE SAUSSURE
Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.

saussure1.jpg

Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata “anjing” (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, “Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006).

ROLAND BARTHES
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.

barthes1.jpg

Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.

Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos.

BAUDRILLARD
Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006).

Sebuah iklan menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya ‘mengada-ada’. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek. Namun, cerita iklan dibuat ‘luar biasa’ agar konsumen percaya. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat dengan pengalaman masa kecil (entah sekarang masih ada atau sudah lenyap) di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.

JACQUES DERRIDA
Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksi-nya. Dekonstruksi, menurut Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi –yang dimulai dengan konsep demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified). Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.

Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak hal. Ke-gothic-annya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan. Seseorang bisa menafsirkan bahwa ajaran yang dihantarkan dalam gereja tersebut cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari moral-moral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau mistis di altar gereja, dan sebagainya.

Namun, Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan kemurnian dan kemuliaan ajarannya. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi, ‘berpengalaman’, teruji zaman, sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya temporer.

Di lain pihak, bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai ‘fokus ke atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Gereja tersebut menawarkan kekhidmatan yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk, semata-mata demi Tuhan. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa.

Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas.

Berbeda dari Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas, Derrida lebih melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.

UMBERTO ECO
Stephen W. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer. Menurut Littlejohn, teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teori-teori semiotika sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur, 2006).

Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan, dan ingin memusatkan perhatian pada modifikasi sistem tanda. Eco kemudian mengubah konsep tanda menjadi konsep fungsi tanda. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai sesuai struktur bahasa. Tanpa kode, tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun, dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Kode-s bisa bersifat “denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah), atau “konotatif” (bila tampak kode lain dalam pernyataan yang sama). Penggunaan istilah ini hampir serupa dengan karya Saussure, namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure, di samping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini.

40 Responses so far »

  1. 1

    rani said,

    aq seneng baca tulisan di atas
    ada yg pgn aq tanyain…..boleh? ^_^

    gimana cara jelasin “cara berpakaian sebagai bentuk komunikasi”?
    dengan metode semiotika bs kan?tp yg aq bingungin, bagaimana memaparkan itu jd sesuatu yg ilmiah, contohnya gmn yg bang?
    jelasin dikit dung, buat tema skripsi nih…..hehe :p

  2. 2

    bambangsukmawijaya said,

    tentu aja boleh, Rani. Pakaian kan juga salah satu simbol komunikasi. Pesan yang disampaikan ketika orang berpakaian rapi dan santai kan beda, belom lagi soal model, soal warna, soal padu-padan antara atasan dan bawahan, dll. Saya ada beberapa jurnal mengenai semiotika busana ini. Kalau berminat bisa hubungi saya di: bsukma@writing.com

    saya sayarankan juga untuk membaca artikel Samuel Mulia di halaman 3 atau 5 (kalau ngga salah) KOMPAS MINGGU setiap minggu yang membahas anekdot2, parodi dan (tentu saja) pesan2 menarik berkaitan dengan pakaian/busana dan gaya hidup. Siapa tahu itu cukup membantu memperkaya skripsi rani.

    Selamat bersemiotika-ria ya.

    Salam,
    Bams

  3. 3

    Agus Yanuarsa said,

    mas bambang, saya mau tanya. Kira2 dari teori semiotika yang ada di blog mas ini mana yang paling cocok untuk menganalisis tayangan televisi, khususnya tayangan dialog yang disiarkan oleh TVRI. Terima kasih ya mas. saya berharap jawaban dari mas bambang bisa membantu saya yang sedang menyusun skripsi tentang tayangan semiotika dialog di TVRI..terima kasih sekali lagi.

  4. 4

    hilman said,

    salam untuk kebebasan, bahwa kehidupan adalah suatu hal yang absur dan tidak mapan. oh…ya… saya ingin bertanya bagaimana penerapan konsep dan metode simiotika pada kajian yang yang bukan sastra, misalnya ekonomi, dan lainnya. terima kasih. saya sangat antusias dalam mengekuti dan mempelajara kerangka yang baru hidup lagi karena terkubur oleh strukturalis selama beberapa dan baru muncul tahun 80-90-an di indonesia hingga sekarang masih dalam sebuah pembuktian akademis dan kontroversiat yang harus dipilih oleh oknum untuk digunakan sebagai metodelogi dalam analisis penulisannya. terima kasih….

  5. 5

    Lucy Supratman said,

    Halo salam kenal. Artikel semiotikanya menarik. Mas, saya boleh ikut nanya ya,berhubung laporan TA saya juga tentang semiotika, tapi masih bingung buat milih responden (beneran stuck). Jadi saya mau neliti wanita yang harus selalu tampil langsing gara-gara iklan TV yang bilang kalo wanita seksi itu yang langsing kayak nadira saphira yang mas bambang kupas di artikel diatas. Nah, supaya nelitinya cepet, mendingan pake kuantitatif atau kualitatif? Abis mas bambang lbh expert. Trus kategorisasi responden juga masih bingung?Makasih ya mas dah bantu.. :)

  6. 6

    herry said,

    mas….aku ikut nanya.
    langsung aja yah..
    aplikasi semiotika dalam bidang desain interior, seperti apa??
    sertakan dengan gambar2 juga yah..
    terima kasih…

  7. 7

    MARTHEN said,

    hi,salam kenal
    saya mau nanya dikit ni,saya mo nulis skripsi tentang sebuah adat perkawinan tradisional tapi saya kurang yakin klo itu bisa diterima dan kira – kira yang bagusnya saya mulai dariman???

  8. 8

    yoso said,

    tabik,sekaligus salam kenal.

    mungkin saya orang kesekian yang merepotkan anda. tapi inilah resiko yang harus anda peroleh dari sistem komunikasi dan kepopuleran anda. hehehe..maaf, saya ingin banyak menelusuri tentang teori dekonstruksi. saya melihatnya sedikit di blog anda ini yang menuliskan Derrida. saya masih penasaran dengannya. sebagian orang menganggapnya susah, dan mungkin saya pun juga mengalaminya, alisa sepakat. maaf, jika menambah beban anda,. saya berharap anda mau membantu saya. terimakasih banyak sebelumnya. ttd. yoso.

  9. 9

    feridian said,

    salam kenal …
    wacana semiotika dari dulu sangat menarik hati saya, dengan adanya artikel ini saya jadi tambah wawasan tentang seniotika.
    Rencananya saya ingin mengambil judul ekploitasi wanita dalam film horor. yang saya tanyakan pada anda enaknya saya mulai dari mana ya, seperti yang kita ketahui kebanyakan dalam film horor banyak sekali adegan yang tidak sesuai dengan cerita film horor tapi malah menampilkan adegan yang mengarah ke adegan syur, yang mana yang selalu dieksploitasi wanita. saya juga takut kalau kalau malah dengan judul ini skripsi saya tidak diterima karena judulnya malah mengarah ke fenomenologi. mohon bantuannya. terima kasih

  10. 10

    Djati Pras said,

    Mas saya mo tanya, kalau kita pengen neliti tentang bgmn sebuah sistem simbol budaya tradisi di kreasi atau dikonstruksi sbg bagian dari sebuah strategi budaya ttt; maka jenis semiotik yg mana yg tepat untuk diaplikasikan.
    maturnuwun.

  11. 11

    gizhel said,

    Kalau semiotika film pendek? Pakenya metz ya? Dikaitkannya dengan media kritik sosial.

  12. 12

    TIKA said,

    APA SIH MAKSUDNYA…………
    GUE GAK NGERTI,….
    SOALNYA GUE MALAS BACA…………
    HEHEHEHEHE…..!!!!!!!!!

    • 13

      hmmm.. kalo ngga dibaca ya pasti ngga bakalan ngerti, tika.

      jangan malas baca ah. membaca sama dengan ketika kita berada di dalam sebuah kamar gelap dan pengap, tiba2 kita menemukan kunci jendela lalu membuka jendela itu lebar2 sehingga kita bisa menghirup udara segar sekaligus melihat luasnya hamparan langit yang indah. nah, tika tinggal milih aja, mau terus-menerus dalam ruangan gelap dan pengap atau membuka jendela dan menghirup udara segar.

      salam, B.

  13. 14

    Orin said,

    mas bambang, saya mohon bantuannya dunk. kira-kira orin musti pake teori apa yang berkaitan dengan pengaruh pemakaian lambang smilies dalam sms? Mohon di balas y mas. Terimakasih.

  14. 15

    Nattra said,

    Hye everyone..
    nak tanya pendapat korang..
    cmner nak kaitkan sign, signifiyers and signified dalam persembahan..
    tq

  15. 16

    aditya said,

    Wahh..penjelasan tentang Semantiknya berguna banget, singkat jelas dan padat ^^ plus gambar pula ^^
    Pas lagi nyari2, ehh ada segitiga makna ^^

    Aku minta izin buat pakai gambarnya boleh??

  16. 18

    adhietya said,

    thx bwt penjelasannya yg sngat membantu bgt..
    jd sdikit terinspirasi bwat berkata-kata d skripsi ak, yg kbetulan tentang semiotika foto headline..
    ada saran gak bwat penelitian ak??
    thx b4 =)

  17. 19

    tenni said,

    tulisannya cukup membatu saya niey..
    saya baca d atas, anda punya beberapa jurnal mengenai semiotika busana…
    boleh minta ga???lagi kebingungan niey…
    saya sedang mengajukan skripsi mengenai representasi gaya berpakaian remaja putri..
    thx..

  18. 20

    shintani said,

    hai BSW…

    saya mau numpang tanya nich..
    saya sekarang sedang menyusun skripsi dengan judul (“makna desain komunikasi visual pada sampul majalah remaja – analisis semiotik pada sampul majalah GIRLFRIEND Indonesia”)..

    nah, di skripsi ini saya pake teori semiotik nya Peirce…
    tapi saya masih kurang mengerti bagaimana menghubungkan skripsi saya, yang nantinya akan menganalisa bentuk, gambar, tipografi, warna, layout pada sampul majalah itu dengan menghubungkan ke teori segitiganya Peirce…
    yang mana yang menjadi sign, interpretant n objeknya…

    saya harap BSW bisa bantu nich..hehehe…
    dengan memberikan contoh mungkin…

    thx yach..

    -shintani- (sjab2323@gmail.com)

  19. 21

    niendita said,

    emmmmmmmmmm,,,,minta pendapat mas,tentang penulisan skripsi dengan teori semiotik…kalo misalnya saya angkat tentang bang one (TvOne),kira2 gambaran semiotik yang bisa saya angkat kaya gimana ya mas???
    trimakasih masukannya,,,,

  20. 22

    bongkek said,

    saya anak ilmu komunikasi,kalo mau analisis karikatur cocoknya pake ROLAND BARTHES atau C.S PEIRCE
    mohon pencerahannya.makasi banyak om…..

  21. 23

    defri said,

    bang kalo aku mau teliti foto semiotik yaang aku pake baiknya punya siapa yah??? mohon bantuannya thanks before…

  22. 24

    Laraz said,

    mas bams,, ulasan diatas lumayan ngbantu aku buat sedikit memahami teori semiotika
    aku mo coba tema skripsi tentang bahasa mural di jalanan n ternyata kata dosenku itu juga memakai kajian semiotika n identitas. Aku blum tau banyak mengenai semiotika,, kira-kira teori yang bisa aku pakai untuk mengupas itu yang mana ya? aku lagi tertarik teori Eco tapi lum dapet banyak referensi. Banyak temanku memakai teori Barthes,,
    Dbantu ya mas Bams,,
    Thx

  23. 25

    putri citra said,

    mas.. aku mau nanya..
    klo penggunaan teori semiotika dalam penelitian studi kasus mengenai corporate identity bisa ato ga yah ?? dari kemarn sy nyari2 ttg teori simbol sebagai pegangan buat penelitian soal corpoarte identity..
    makasihh

  24. 26

    indra said,

    terima kasih atas informasinya mas.
    saya agak bingung dalam menggunakan teori.
    skripsi yang saya buat cocoknya pake teori apa y?
    untuk sementara dalam menganalisis tulisan di iklan saya pake teori barthes mengenai denotasi dan konotasi. sedangkan gambarnya pake teori pierce.
    mohon sarannya mas

  25. 27

    irham mashuri said,

    tlg bantuannya mas, aku lg penelitian ttg “Analisis semiotik pesan verbal dan nonverbal dalam film Ketika Cinta Bertasbih 1, tlg bantuannya y, thanks..

  26. 28

    arsy said,

    Siang mas bambang….
    senangnya bisa membaca tulisan mas bambang diatas…

    saya sebetulnya mau menyusun tulisan skripsi studi semiotika pada simbol-simbol perusahaan (logo, warna dan uniform) dalam membentuk citra perusahaan… cuma mas masih bingung gimana nulisnya dan pakai teori semiotika mana yg tepat…

    smoga mas bambang bisa bantu saya…
    mohon pencerahannya mas bambang… makasih sebelumnya…

  27. 29

    Kiky Rizky said,

    Salam untuk penulis.
    Sungguh senang saya membaca tulisan di blog anda. Kebetulan saya sedang akan mengambil skripsi tentang semiotika visual. Kira-kira penulis mempunyai jurnal tentang semiotika visual sampul majalah? Saya hendak ‘meminjam’nya untuk bahan kajian. Terima kasih.

  28. 30

    Reiza Yuliana said,

    aq mw skripsi linguistik pake teori semiotika, mw analisis cover album..
    klo aq tanya2 boleh kn?? Mohon bantuannya ^__^

  29. 31

    kahfie said,

    Artikel bagus.

  30. 32

    Mimi S said,

    Mas bambang, judul skripsi saya “Program Spa for Family sebagai media Pembentukan Citra Perusahaan”.
    sejauh ini saya sudah mencari teori yang terkait dengan “program sebagai media”, saya sudah mencari teori yang sesuai tetapi kenapa semuanya justru lebih membahas media cetak dan elektronik, padahal yang saya maksud di sini bukan media massa ataupun nirmassa.
    Yang saya cari yang terkait program sebagai media pembentukan citra.
    Menurut mas Bambang teori apa yang bisa membantu saya?
    Thx b4

  31. 33

    rio said,

    mas mau tanya donk menurut mas kalau saya membahas soal simbolisasi wayang memakai model apa ya?

  32. 34

    NICCHAN said,

    Artikel yyang bagus dan sangat membantu pengerjaan tugas saya. Terima kasih^^

  33. 35

    narita said,

    halo :D

    tertarik nih tentang semiotikanya pierce, soalnya mau dipakai juga untuk skripsi hee

    kalau logo tipe di koran, sebaiknya menggunakan teori pierce atau barthes yaa sebagai rujukan teori penelitiannya?
    masih bingung eunk

  34. 36

    khanza said,

    Mas klo semiotika tulisan-tulisan di truk itu pakenya teori yang mas tulis atau teori yg lain? soalnya saya tampaknya tertarik untuk menganalisis semiotik tapi ntah benar2 mau milih itu atau tidak soalnya saya masih galau mas, banyak masalah yg ingin saya teliti cuman bingung mau pilih yg mana

  35. 38

    Coba kita perhatikan lambangf negara kita apakah secara semiotika figur burung garuda atau figur burung elang rajawali mohon dijelaskan mengapa antara fakta gamabar dengan teks hukum negara berbeda ?

  36. 39

    yulius said,

    salam hangat mas, saya mau nanya, kajian semiotik yang mana ya yang akan saya pakai ketika saya mau neliti tentang komunikasi non-verbal simbol “Salam Tiga Jari” pada band Surabaya dan masyarakatnya juga? tq before

  37. 40

    Julay said,

    UrGent..
    Mas Bambang, salam kenal.
    Sayabmau tanya pendapat kang mas, klo untuk membahas desain website cocoknya pake teori apa perspektif siapa ya? Bingung nih untuk nyelesein TA akhir Agustus ini. Tolong bantuin ya kang mas. Lebih lanjut, mungkin saya bisa diskusi.
    Tengs berat..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: