<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Oh Bama! It&#8217;s So Hillary-ious&#8230;</title>
	<atom:link href="http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/22/oh-bama-its-so-hillary-ious-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/22/oh-bama-its-so-hillary-ious-2/</link>
	<description>Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 May 2009 21:13:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/22/oh-bama-its-so-hillary-ious-2/#comment-47</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 18:40:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/?p=89#comment-47</guid>
		<description>Pak Nursal,
Terima kasih atas tanggapan Bapak. Memang benar proposisi kita belum bisa dikatakan benar ataupun keliru hingga race pemilihan presiden AS mencapai garis finis. Saya setuju juga dengan perspektif positioning yang Pak Nursal kemukakan. Hal yang saya amati pada fenomena marketing politik, seringkali campaign positioning statement lebih menonjol dari positioning produk/kandidat itu sendiri. Tidak heran sering terjadi perubahan di tengah jalan, tergantung &quot;kondisi pasar&quot; selama masa kampanye dan lokasi sasaran kampanye. Kejelian tim kampanye untuk memahami/ menangkap sign pasar atau calon konsumen politik benar-benar sangat dibutuhkan. Inilah fenomena menarik yang terjadi di AS setiap kali pemilihan presiden: tim di belakang kandidat bekerja keras secara profesional menangkap &quot;sign&quot; tersebut dan mengemasnya menjadi isu menarik yang elegan. Tak ada toleransi sedikit pun terhadap suatu kesalahan, karena risikonya bisa fatal. Jaga image adalah harga mati... hehehe... kapan ya di Indonesia bisa &#039;seprofesional&#039; itu, jadi kita sebagai penonton bisa mendapatkan &#039;tayangan politik&#039; yang lebih menarik daripada sekadar &#039;aksi telenovela&#039; para aktor politik untuk menarik simpati pemilih yang akhirnya (tak heran) melahirkan &#039;pemimpin telenovela&#039; yang melankolis pula. 

Demikianlah pendapat naif saya dari pengetahuan saya yang terbatas.

salam hormat
Bambang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Nursal,<br />
Terima kasih atas tanggapan Bapak. Memang benar proposisi kita belum bisa dikatakan benar ataupun keliru hingga race pemilihan presiden AS mencapai garis finis. Saya setuju juga dengan perspektif positioning yang Pak Nursal kemukakan. Hal yang saya amati pada fenomena marketing politik, seringkali campaign positioning statement lebih menonjol dari positioning produk/kandidat itu sendiri. Tidak heran sering terjadi perubahan di tengah jalan, tergantung &#8220;kondisi pasar&#8221; selama masa kampanye dan lokasi sasaran kampanye. Kejelian tim kampanye untuk memahami/ menangkap sign pasar atau calon konsumen politik benar-benar sangat dibutuhkan. Inilah fenomena menarik yang terjadi di AS setiap kali pemilihan presiden: tim di belakang kandidat bekerja keras secara profesional menangkap &#8220;sign&#8221; tersebut dan mengemasnya menjadi isu menarik yang elegan. Tak ada toleransi sedikit pun terhadap suatu kesalahan, karena risikonya bisa fatal. Jaga image adalah harga mati&#8230; hehehe&#8230; kapan ya di Indonesia bisa &#8217;seprofesional&#8217; itu, jadi kita sebagai penonton bisa mendapatkan &#8216;tayangan politik&#8217; yang lebih menarik daripada sekadar &#8216;aksi telenovela&#8217; para aktor politik untuk menarik simpati pemilih yang akhirnya (tak heran) melahirkan &#8216;pemimpin telenovela&#8217; yang melankolis pula. </p>
<p>Demikianlah pendapat naif saya dari pengetahuan saya yang terbatas.</p>
<p>salam hormat<br />
Bambang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adman Nursal</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/22/oh-bama-its-so-hillary-ious-2/#comment-39</link>
		<dc:creator>Adman Nursal</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 20:45:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/?p=89#comment-39</guid>
		<description>Mas Bambang,
Tulisan Anda menarik sekali.  Ada beberapa pertanyaan penting yang dapat diajukan untuk memperdalam kupasan tentang Hillary vs Obama. (1). Mengapat terjadi  pergeseran positioning statement Hillary dari Ready to Change menjadi Solutions for America.  (2).  Apa perbedaan mendasar Ready to Change dengan Change We Can Believe In dalam hal menguatkan positioning ke dalam pikiran dan hati pemilih, (3). Bagaimana kinerja Solutions for America dibandingkan Ready to Change, dst.. dst. Saya sendiri mempunyai pandangan yang berbeda tentang positioning kedua kandidat.  Obama mengarahkan pertarungan pada Pemersatu - Pluralis vs Pemecah Belah - Rasialis.  Hillary ingin menyetir pertarungan ke arah Kompeten Berpengalaman vs Tak ada track record -Banyak Omong.  Tentu saja, saya bisa saja keliru, dan Mas Bambang lebih tepat.  Akan tetapi, sebelum ada pengujian empiris, nampaknya pandangan Mas Bambang dan exercise saya bisa dianggap sebagai dua proposisi yang belum bisa dikatakan benar maupun keliru. Wacana yang mungkin dapat memperkaya pemikiran kita. Salam hormat.  Adman Nursal</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Bambang,<br />
Tulisan Anda menarik sekali.  Ada beberapa pertanyaan penting yang dapat diajukan untuk memperdalam kupasan tentang Hillary vs Obama. (1). Mengapat terjadi  pergeseran positioning statement Hillary dari Ready to Change menjadi Solutions for America.  (2).  Apa perbedaan mendasar Ready to Change dengan Change We Can Believe In dalam hal menguatkan positioning ke dalam pikiran dan hati pemilih, (3). Bagaimana kinerja Solutions for America dibandingkan Ready to Change, dst.. dst. Saya sendiri mempunyai pandangan yang berbeda tentang positioning kedua kandidat.  Obama mengarahkan pertarungan pada Pemersatu &#8211; Pluralis vs Pemecah Belah &#8211; Rasialis.  Hillary ingin menyetir pertarungan ke arah Kompeten Berpengalaman vs Tak ada track record -Banyak Omong.  Tentu saja, saya bisa saja keliru, dan Mas Bambang lebih tepat.  Akan tetapi, sebelum ada pengujian empiris, nampaknya pandangan Mas Bambang dan exercise saya bisa dianggap sebagai dua proposisi yang belum bisa dikatakan benar maupun keliru. Wacana yang mungkin dapat memperkaya pemikiran kita. Salam hormat.  Adman Nursal</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
