Archive for December, 2009

Balada Prita dan Nestapa Konsumen (published at Kontan, Dec 15, 2009)

Balada Prita dan Nestapa Konsumen

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

Bayangkanlah Anda seorang Prita Mulyasari, ibu muda yang harus mendekam di penjara karena surat keluhan konsumen yang dilayangkannya melalui sebuah email dan kemudian tersebar di milis. Prita dituduh bersalah mencemarkan nama baik dan melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman kurungan 6 tahun penjara dan/atau denda hingga Rp 1 miliar. Padahal ibu malang ini hanya mengekspresikan kekecewaannya atas pelayanan dan sikap kurang simpatik sebuah rumah sakit yang dialaminya.

Suatu hal yang wajar, ketika kita sebagai konsumen mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mendapatkan hak-hak nyaman menikmati sebuah produk atau layanan, kemudian kita mengeluhkannya karena tidak sesuai harapan atau bahkan merugikan kita. Menulis surat pembaca melalui media pun akhirnya menjadi jalan berikutnya bila keluhan itu tak ditangani dengan baik oleh produsen atau penyedia layanan. Tapi kini, kisah Prita berbicara lain. Jangankan memperoleh penyelesaian yang melegakan, bisa-bisa konsumen langsung masuk bui oleh keluhannya sendiri.

 

Horor hukum

Lepas dari berbagai kontroversi saat Undang-Undang ITE nomor 11 Tahun 2008 (terutama Pasal 27 Ayat 3) pertama dirilis, kini masyarakat mulai tahu siapa yang diuntungkan oleh undang-undang tersebut.

Sekilas terkesan UU itu hendak melindungi hak warga. Namun sesungguhnya mengandung kekuatan terselubung untuk membungkam warga mengeluarkan pendapat, keluhan dan aspirasinya melalui medium digital. Kasus Prita menyadarkan kita bahwa undang-undang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai senjata baru bagi produsen yang tidak mampu mengelola divisi penanganan konsumen dan hubungan masyarakatnya dengan baik. Senjata ini melengkapi pasal pencemaran nama baik KUHP yang selama ini digunakan produsen untuk membungkam konsumen yang ‘ngeyel’ menuntut haknya.

Barangkali kita masih ingat kasus Fifi Tanang, seorang pemilik kios di Mangga Dua beberapa waktu lalu yang dimejahijaukan oleh pengembang pusat perbelanjaan itu karena keluhannya di sebuah kolom Surat Pembaca koran. Fifi pun dikenai pasal pencemaran nama baik, dan divonis 6 bulan penjara bersama tiga konsumen lain.

Jika konsumen terus-menerus dibungkam secara represif menggunakan perangkat aturan hukum, lalu siapa yang akan mengontrol produsen jika merugikan konsumen?

Kita memang memiliki Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen, namun agaknya undang-undang yang diharapkan dapat melindungi hak-hak konsumen ini terlindas jauh di bawah UU ITE dan pasal pencemaran nama baik yang cenderung ‘membela’ hak produsen. Kepentingan produsen lebih diperhatikan, sementara kepentingan konsumen diabaikan.

 

Inferioritas Budaya Konsumen

Di samping monster hukum yang terus berjaga di halaman depan produsen, kenyataannya konsumen kita juga memiliki ‘budaya’ pasrah berkaitan dengan keluhan-keluhan dan ketidakpuasan mereka terhadap suatu produk atau layanan. Betapa sering kita melihat (atau bahkan merasakan sendiri) konsumen yang mengambil jalan ‘damai’ dengan merelakan saja hak-haknya tak terpenuhi daripada harus berurusan dengan birokrasi panjang, atau akan menemui kenyataan bahwa keluhan mereka tak tertangani dengan baik bahkan cenderung diabaikan.

Pemikiran bahwa hanya membuang-buang waktu dan energi saja mengurusnya, sementara masih banyak hal lain yang perlu dikerjakan, membuat mereka terpaksa menelan sendiri kekecewaan dan keluhan mereka. Tidak jarang pula konsumen yang berkompromi dengan layanan atau produk yang kurang memuaskan. Ditambah kurangnya informasi mengenai hak-hak hukum dan prosedur pengaduan, konsumen pun akhirnya cenderung melupakan ketidakpuasannya.

Sementara di sisi lain, pengaduan konsumen juga kerap dikendalai oleh ‘lingkungan budaya’ masyarakat kita yang kurang mendukung. Seorang konsumen yang gigih menuntut haknya –apalagi jika nilainya tak seberapa, sering dianggap aneh dan ngeyel, atau ‘hanya mencari masalah saja’. Sehingga tak ayal, banyak konsumen menjadi enggan untuk meneruskan perjuangan menuntut haknya.

Semua kondisi tersebut akhirnya menciptakan inferioritas budaya konsumen yang memprihatinkan dan memberikan preseden buruk bagi perkembangan demokrasi pasar.

Dengan kenyataan seperti ini, maka dapat dipastikan bahwa Indonesia adalah surga buat produsen nakal. Apa yang dialami Prita membuat para produsen dapat bersikap pongah dan merasa di atas angin. Alih-alih meminta maaf kepada konsumen jika memberikan pelayanan yang kurang memuaskan, malah menuntut konsumen untuk meminta maaf jika tak ingin dijebloskan ke penjara.

Produsen maupun penyedia layanan di Indonesia akan menjadi juragan lalim yang dapat berbuat semena-mena terhadap konsumen. Pemeo ‘konsumen adalah raja’ hanyalah mitos. Kenyataannya, di Indonesia, produsenlah yang menjadi raja. Dan pemerintah maupun para wakil rakyat yang telah menciptakan undang-undang ‘jebakan batman’ buat konsumen adalah serupa centeng yang siap membela dan mengawal sang raja.

Namun sesungguhnya, meskipun berbagai ‘fasilitas kelas satu’ yang menjamin kelalimannya disediakan pemerintah, para produsen dan penyedia layanan itu tak dapat menyangkali dahsyatnya ‘people power’ konsumen yang sewaktu-waktu siap menyantapnya. Laiknya para gerilyawan pemberontak, akan selalu ada saluran lain untuk menghindari ‘jebakan batman’ penguasa dan diam-diam menyusun kekuatan untuk merebut kembali hak-haknya. Dukungan masyarakat lewat Facebook dan gerakan pengumpulan koin untuk Prita adalah bukti bahwa ‘people (consumer) power’ tak bisa dipandang sebelah mata.

Kediaman konsumen, kepasrahan konsumen, ketidakadilan yang dirasakan konsumen akan menjadi bom waktu yang menghancurkan reputasi produsen itu sendiri. Sehingga produsen tinggal memilih, tetap menjadi raja yang lalim, atau raja yang pengasih dan dikasihi rakyatnya karena selalu melayani dengan sepenuh hati, menjadi sahabat yang sabar mendengar keluhan-keluhan mereka, dan siap sedia membantu menyelesaikan masalah dengan baik.

Comments (2) »

Brand Inspiration (published at ADOI Magazine, May-June, 2009)

Brand & Me

 by: Bambang Sukma Wijaya

This all began one night with an urge to watch a simple, undemanding movie called “Marley and Me.” I was intrigued. When the promotion trailer was shown in theaters a few weeks before the actual film was run, it only presented a few simple scenes of a small dog running on a beachfront, chased by a few adults shouting its name: “Marleeeeyy…,” followed by the title “Coming Soon.” All so simple, so uncomplicated, and yet –for me –so intriguing.

My feelings were answered when I watched the movie and it turned out to be quite an inspiring experience. The story starts with a friend’s suggestion that John Grogan, a reporter for the Philadelphia Inquirer, buy himself a dog to give him and his wife, Jen a taste of parenthood.

The couple went to visit a local pet shop where they bought themselves a small dog – for cheap because it was unwanted – and called it Marley, after the late Bob Marley, the singer. But soon the forewarnings about the dog’s ill behavior were proved true. Marley was hyperactive and uncontrollable. It ran through the house all day, biting and tearing at almost everything that came in his sight and eating more than his normal portion of dog food. He really wreaks havoc, gets kicked out of obedience school.

But surprisingly when Jen lost her first-born baby at its birth, Marley showed his tender side, sitting quietly on Jen’s lap, allowed the brokenhearted woman to embrace it and dry her tears on its furry head. From that moment on, Jen and John gave Marley all the love he deserved as a member of the family. 

Until one day, Jen, who by now had to look after two toddlers plus the unruly Marley, aired her feelings of depression on John. When John reminded her that it was all because of her own choice, Jen told him she was depressed not because she had given up her job to look after her family, but because of the unruliness of a small dog called Marley.

Now imagine. What if Marley was a consumer, chosen by us from out of so many market segments to be a target for our product’s brand. What if – when within one specific category everyone controlled the same segment – we had the nerve to choose one particular segment that few other marketers wanted?  To look after it, we create new market opportunities, but when times get rough, crisis looms and challenges emerge, when competitors intensify their attacks, we regret our own choice?  Quite a number of marketers would hastily redefine their segments or broaden their segments in order to secure their brand. But let us learn from Jen.

“Honey I’m so sorry,” Jen said sadly to John when she hear Marley had been evacuated to avoid her angry.  “I wasn’t going anywhere. I’ve just got for around,” she expressed her connection with Marley.

One fact is often overlooked by marketers. Building a brand relationship is important. However unruly our customers may be, we must not give up building a caring relationship with them. Jen realized that she had tended to put the blame on circumstances while in reality the blame was on her not being patient and committed enough. We often tend to demand only the loyalty of our customers, forgetting that we ourselves lack in loyalty to them. When a brand crisis occurs, many marketers tend to become skeptical and say that consumer demand is becoming more difficult to gauge, that they are becoming more capricious, and even more so when the number of competitors within the same category is growing.

The marketer then begins to “betray” the segment by shifting his focus away and offering goods it does not want, ignoring protests. But if only a little patience could be exerted, one would find that the key to the problem would be to see to it that the brand remained connected to the consumer and vice-versa the consumer to the brand.

Over time, change is certain to come, new challenges are certain to emerge, and yet the harmonious relationship is sure to be preserved. Up to the moment when Jen and Josh had to take care of their three lovable children, they remained true to Marley, who was now getting old and frail. Every day when the school bus brought the children back home from school, the now infirm Marley would be waiting for them at the curbside, wagging its tail. Until and beyond the moment of Marley’s death, the Grogan family remained true in its love for Marley, the wayward dog.

How strong and beautiful was the connection between Marley and the Grogans to be able to forge such a lasting loving relationship. There is no better way to build such a similarly long-lasting brand loyalty than by continually nurturing this brand relationship in order to ensure that brand and consumer remain connected. How then to build such a connection so that it can withstand to onslaught of time?

To quote John’s words, subtitled at the end of the story: “Just give your heart to him, and then he will give his heart to you.”

Have we, through our brand, given our heart to our consumers?

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.