Archive for Komunikasi Cyber

PENGUMUMAN (Announcement)

PERINGATAN (WARNING)

Berhubung beberapa kali saya temukan artikel di blog-blog dan media lain yang mengutip bahkan meng-copy paste artikel-artikel saya yang ada di blog ini, mohon dengan sangat agar JUJUR dan BERTANGGUNGJAWAB dengan mencantumkan nama penulis artikel, judul dan nama  jurnal/ buku/ webblog ini sebagai sumber referensi, pada daftar pustaka Anda atau di endnote/daftar kutipan sebagaimana layaknya standar penulisan ilmiah (akademik). Jika Anda menerbitkannya dalam blog, maka tuliskan dengan jelas sumbernya, tautan blog ini http://www.komunikasiana.com atau langsung ke nama penulis, judul dan jurnal yang tercantum pada artikelnya.

Tindakan mengutip apalagi meng-copy paste tanpa mencantumkan sumber rujukan sangat DIHARAMKAN dalam dunia ilmiah dan termasuk salah satu bentuk KORUPSI KOMUNIKASI.

Terimakasih atas pengertian dan kerjasama Anda.

Selamat berkarya!

(Since I often found articles on several blogs and other media are quoting even copy-pasting my articles from this blog, therefore I implore you to be HONEST and RESPONSIBLE by mentioning the author’s name of article, title and name of the journal / book/ this webblog  as a reference source, in your bibliography or endnotes / citations list as appropriate standards of scientific writing (academic). If you publish it in a blog, then write down clearly the source, this blog link http://www.komunikasiana.com –or directly quoting the author’s name, title and journal name of the article.

Action of citing especially of copy-pasting without including the reference source is extremely FORBIDDEN in the scientific and professional world, and is one form of CORRUPTION OF COMMUNICATION.

Thank you for your understanding and cooperation. )

Leave a comment »

Wijaya, B. S. and D. M. Putri (2013). ‘Is Social Media Impactful for University’s Brand Image?’, Jurnal Manajemen Teknologi [Journal of Technology Management], 12 (3), p. 276-295

Is Social MeCOVER JMT1dia Impactful for University’s Brand Image?

Bambang Sukma Wijaya & Dianingtyas M. Putri

 Abstract: This research aims to verify many opinions and previous studies that stated how powerful of social media in building the image of a brand, also applies for university’s brand image enhancement. Using explanatory survey research, data were collected by giving out questionnaires to samples that were taken randomly from Facebook’s friend list of a private university that located in South Jakarta. The results showed that the most powerful influence occurs on the role of community towards the brand identity and the role of connectivity towards the brand benefits. Another interesting finding of this research is, it turns openness and conversation has no significant effect on all components that make up the brand image. Thus, it can be said that the positive image on the mind of consumer audience regarding the brand identity, personality, association, attitude or behavior and the benefit offered by a university’s brand not necessarily be formed by the openness and willingness to dialogue or make conversations.

Keywords: Social Media, Facebook, UB, Brand Image, University’s Brand Image

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi beberapa pendapat dan penelitian sebelumnya yang menyatakan betapa kuatnya peran media sosial dalam membangun citra merek, juga berlaku untuk peningkatan citra merek universitas. Menggunakan metode survei explanatif, data dikumpulkan dengan memberikan kuesioner kepada sampel yang diambil secara acak dari daftar teman Facebook sebuah universitas swasta yang terletak di Jakarta Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh paling kuat terjadi pada peran komunitas (community) terhadap identitas merek (brand identity) dan peran konektivitas (connectivity) terhadap manfaat merek (brand benefit). Temuan lain yang menarik dari penelitian ini adalah, ternyata keterbukaan (openness) dan percakapan (conversation) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap semua komponen yang membentuk citra merek. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa citra positif di benak khalayak konsumen terkait identitas, kepribadian, asosiasi, sikap atau perilaku merek dan keuntungan yang ditawarkan oleh merek sebuah universitas belum tentu terbentuk karena keterbukaan dan kesediaan untuk berdialog atau membangun percakapan.

Katakunci: Media Sosial, Facebook, UB, Citra Merek, Citra Merek Universitas


[1] Corresponding author. Email: bambang.sukma@bakrie.ac.id

Find the full-text paper here: Is Social Media Impactful for University’s Brand Image?

Leave a comment »

MOHON MAAF

Berhubung banyaknya comment yang masuk, dan terbatasnya waktu luang saya, dengan ini saya mohon maaf kepada teman-teman yang telah mengirimkan comment namun belum sempat saya jawab.

Saya melihat ada lebih dari seratus comment yang masih ke-pending, menunggu response, sebagian besar berupa pertanyaan-pertanyaan seputar metode penelitian, teori-teori, dan komentar artikel lainya.

Dengan segala keterbatasan saya, saya akan coba menjawab semuanya, tapi tidak bisa sekaligus dalam waktu bersamaan. Karena itu saya minta kesabaran teman-teman.

Kadang pertanyaan yang diajukan sebenarnya sudah ada jawabannya (karena topik dan inti pertanyaannya mirip), baik dalam bentuk artikel di kategori lain dalam blog ini, maupun dalam bentuk jawaban-jawaban penanya lain yang sudah saya posting. Karena itu mohon teman-teman mengecek juga artikel-artikel di kategori lain dan/ atau jawaban-jawaban yang sudah saya berikan untuk penanya lain dalam blog ini.

Atas pengertian dan kerjasamanya, tak lupa saya ucapkan terima kasih. Semoga blog ini bermanfaat dan membantu mencerahkan wawasan kita tentang fenomena dan ilmu komunikasi.

salam hangat,

BSW

Leave a comment »

Perkembangan Komunikasi Teknologi dalam organisasi & perusahaan

Implikasi Perkembangan TI dalam Organisasi dan Koreksi Atas Teori Media Richness

 Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

Perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat dewasa ini membuat banyak organisasi/perusahaan melakukan tranformasi teknologi informasi maupun budaya perusahaan. Elizabeth Lane Lawley (1994) menyebut penerapan TI dalam organisasi berimplikasi pada perubahan struktur organisasi dari dekonsentrasi (sentralisasi) menjadi desentralisasi, dari vertical menjadi horizontal.

Implikasi perkembangan TI dalam organisasi dan perusahaan

Implikasi perkembangan TI dalam organisasi dan perusahaan (source: Bambang Sukma Wijaya, 2007)

Perkembangan teknologi informasi juga memunculkan gaya hidup atau cara kerja baru yakni e-office atau virtual organization dan home office. Fenomena e-office menjadikan organisasi berbasis informasi dan gaya kepemimpinan menjadi fleksibel karena memiliki visi untuk senantiasa melakukan perubahan misi sesuai perkembangan situasi. Perusahaan tidak lagi harus mengandalkan ratusan computer, ratusan karyawan, dan gedung sekian lantai untuk membangun kantor perusahaan bonafid. Cukup dengan seperangkat teknologi informasi maka seluruh pekerjaan dapat dilakukan secara virtual. Sehingga biaya-biaya dapat ditekan seminimal mungkin dan margin keuntungan dapat dimaksimalkan.

Biasanya perusahaan virtual mengandalkan tenaga-tenaga freelance berkualitas dan professional. Demikian pula karyawan-karyawan dapat bekerja lintas waktu di rumah masing-masing, sambil menjalankan pekerjaan lain. Klien-klien pun tidak harus selalu bertemu langsung. Karena bisa dilakukan melalui internet, teleconference, video call, dan lain-lain yang kurang lebih sama efektifnya dengan pertemuan langsung secara fisik.

Hal ini mengubah paradigma dan definisi kehadiran sosial menurut pandangan teori Media Richness. Dikemukakan bahwa semakin tinggi kehadiran sosial suatu media maka semakin efektif media tersebut. Dalam teori tersebut, parameter kehadiran sosial diukur menurut tingkat kehadiran fisik. Padahal, di zaman cyber sekarang ini, kehadiran sosial berpindah ke makna baru berupa kehadiran virtual.

Teori Media Richness dan redefinisi kehadiran sosial

Teori Media Richness dan redefinisi kehadiran sosial (source: Bambang Sukma Wijaya, 2007)

Kehadiran sosial bisa sama efektifnya dengan kehadiran virtual. Begitu banyak komunitas-komunitas atau kelompok sosial muncul dalam virtual dan membangun kedekatan sosial tanpa suatu kehadiran fisik, seperti fenomena milis, friendster, facebook, dan lain-lain. Karena itu, makna kehadiran sosial dalam teori Media Richness harus mengalami redefinisi dengan memperluas cakupannya bukan hanya kehadiran fisik, tetapi juga kehadiran virtual. (BSW –complete paper is available on writer’s desk)

Comments (5) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.