Archive for Komunikasi Kreatif

PENGUMUMAN (Announcement)

PERINGATAN (WARNING)

Berhubung beberapa kali saya temukan artikel di blog-blog dan media lain yang mengutip bahkan meng-copy paste artikel-artikel saya yang ada di blog ini, mohon dengan sangat agar JUJUR dan BERTANGGUNGJAWAB dengan mencantumkan nama penulis artikel, judul dan nama  jurnal/ buku/ webblog ini sebagai sumber referensi, pada daftar pustaka Anda atau di endnote/daftar kutipan sebagaimana layaknya standar penulisan ilmiah (akademik). Jika Anda menerbitkannya dalam blog, maka tuliskan dengan jelas sumbernya, tautan blog ini http://www.komunikasiana.com atau langsung ke nama penulis, judul dan jurnal yang tercantum pada artikelnya.

Tindakan mengutip apalagi meng-copy paste tanpa mencantumkan sumber rujukan sangat DIHARAMKAN dalam dunia ilmiah dan termasuk salah satu bentuk KORUPSI KOMUNIKASI.

Terimakasih atas pengertian dan kerjasama Anda.

Selamat berkarya!

(Since I often found articles on several blogs and other media are quoting even copy-pasting my articles from this blog, therefore I implore you to be HONEST and RESPONSIBLE by mentioning the author’s name of article, title and name of the journal / book/ this webblog  as a reference source, in your bibliography or endnotes / citations list as appropriate standards of scientific writing (academic). If you publish it in a blog, then write down clearly the source, this blog link http://www.komunikasiana.com –or directly quoting the author’s name, title and journal name of the article.

Action of citing especially of copy-pasting without including the reference source is extremely FORBIDDEN in the scientific and professional world, and is one form of CORRUPTION OF COMMUNICATION.

Thank you for your understanding and cooperation. )

Leave a comment »

Wijaya, B. S. (2013). ‘Dimensions of Brand Image: A Conceptual Review from the Perspective of Brand Communication’, European Journal of Business and Management, 5 (31), p. 55-65

Cover EJBMDIMENSIONS OF BRAND IMAGE: A Conceptual Review from the Perspective of Brand Communication

Bambang Sukma Wijaya

Abstract: Currently almost all products have the brand, and all companies strive to develop and maintain their brand reputation. Brand is a mark left on the minds and hearts of consumers, which creates a specific sense of meaning and feeling. Thus, brand is more than just a logo, name, symbol, trademark, or label attached to a product. Using theoretical review and reflective method, this conceptual paper aims to review the dimensions of brand image as one stage in the hierarchy of branding or brand communications, so it can be a guide for future studies related to the brand image. Brand image plays an important role in the development of a brand because the brand image associated with the reputation and credibility of the brand which later became the “guidelines” for the consumer audience to try and use a product or service then creating a particular experience that will determine whether the consumer will be into brand loyalist, or simply an opportunist (easy to move to another brand). The dimensions of brand image in this study include brand identity, brand personality, brand association, brand attitude & behavior, and brand benefit & competence.

Keywords: brand image dimensions, brand communication, hierarchy of branding, brand development

 

Abstrak: Saat ini hampir semua produk memiliki merek, dan semua perusahaan berusaha mengembangkan dan menjaga reputasi merek mereka. Merek adalah tanda jejak yang tertinggal pada pikiran dan hati konsumen, yang menciptakan makna dan perasaan tertentu. Dengan demikian maka merek lebih dari sekadar logo, nama, simbol, merek dagang, atau sebutan yang melekat pada sebuah produk. Melalui penelusuran pustaka dan metode reflektif, makalah konseptual ini bertujuan mengaji dimensi citra merek (brand image) sebagai salah satu tahap dalam hirarki komunikasi merek, sehingga dapat menjadi panduan untuk penelitian-penelitian berikutnya yang berkaitan dengan citra merek. Citra merek memegang peranan penting dalam pengembangan sebuah merek karena citra merek menyangkut reputasi dan kredibilitas merek yang kemudian menjadi “pedoman” bagi khalayak konsumen untuk mencoba atau menggunakan suatu produk barang atau jasa sehingga menimbulkan pengalaman tertentu (brand experience) yang akan menentukan apakah konsumen tersebut akan menjadi loyalis merek atau sekadar oportunis (mudah pindah ke lain merek). Dimensi-dimensi citra merek dalam kajian ini adalah identitas merek, kepribadian merek, asosiasi merek, sikap dan perilaku merek, serta manfaat dan kompetensi merek.

Kata kunci: dimensi citra merek, komunikasi merek, hierarchy of branding, pengembangan merek

See the full-text paper here: Dimensions of Brand Image

Comments (3) »

Wijaya, B. S. (2011). ‘Kajian Produksi Pesan Iklan Ambient Media’, Jurnal Ilmu Komunikasi [Indonesian Journal of Communication Science], 9 (3), p. 344-359

Kajian Produksi Pesan Iklan Ambient Media (A Study about Message Production of Ambient  Media Advertising)

Bambang Sukma Wijaya

Abstract:  This study aims to uncover the knowledge used by creators in producing the message of ambient media ad and compare it with Action Assembly Theory, a message production theory by John Greene who revealed that a message is formed from several knowledges possessed and managed by communicator. By using exploratory-qualitative method through an interpretive approach, the researcher interviewed in depth some subjects or informant namely ambient media ad creators from various backgrounds, ranging from executive creative director to Visual Communication Design student who ever win an ambient media ad competition. Researcher found that the creators of ambient media ad use subjective knowledge derived from personal experience and objective knowledge derived from creative brief as content knowledge in producing the message of ambient media ad. Beside that, researcher found that in addition to ‘content knowledge’ and ‘procedural knowledge’ as mentioned in Action Assembly Theory, ambient media ad creators also use ‘context knowledge’ in producing the message. This context knowledge even has a crucial role in shaping consumer audience’s experience towards the message as a typical characteristic of ambient media ad.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengungkap pengetahuan-pengetahuan yang digunakan kreator dalam memproduksi pesan iklan ambient media dan membandingkannya dengan teori produksi pesan Action Assembly Theory dari John Greene yang mengungkapkan bahwa pesan dibentuk dari pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dan diorganisasikan oleh komunikator. Dengan menggunakan metode kualitatif-eksploratoris melalui pendekatan interpretif, peneliti mewawancarai secara mendalam beberapa subyek atau informan yakni kreator iklan ambient media dari berbagai latar belakang, mulai dari pengarah kreatif eksekutif hingga mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) yang karya iklan ambient media-nya pernah memenangkan lomba. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa kreator iklan ambient media menggunakan pengetahuan subyektif yang berasal dari pengalaman pribadi dan pengetahuan obyektif yang berasal dari taklimat (brief) kreatif sebagai pengetahuan isi (content knowledge) dalam memproduksi iklan ambient media. Selain itu, peneliti menemukan bahwa di samping content knowledge dan procedural knowledge seperti yang terdapat dalam Action Assembly Theory, kreator iklan ambient media juga ternyata menggunakan context knowledge dalam memproduksi pesan, bahkan pengetahuan ini memiliki peran sangat penting dalam membentuk pengalaman khalayak konsumen terhadap pesan yang merupakan ciri khas iklan ambient media.

Kata kunci: produksi pesan, iklan ambient media, action assembly theory, pengetahuan isi (content knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), pengetahuan konteks (context knowledge)

See the complete paper:  Kajian Produksi Pesan Iklan Ambient Media

Leave a comment »

Ambient Media Advertising: Concept, Message Strategy and Implementation (a book published by UB Press)

Title: Iklan Ambient Media: Konsep, Strategi Pesan dan Implementasi (AMBIENT MEDIA ADVERTISING: CONCEPT, MESSAGE STRATEGY & IMPLEMENTATION)

Author:  Bambang Sukma Wijaya

Publisher:  UB Press

2011

1st Edition

183 pages

Book Paper

Soft Cover

SINOPSIS

Semakin padat dan ramainya pesan-pesan komunikasi pemasaran di media-media konvensional, membuat banyak pengiklan kini mulai melirik cara-cara berkomunikasi  melalui media yang tidak biasa. Salah satunya melalui iklan berbentuk ambient media. Iklan ambient media memiliki ciri khas yaitu mampu menyinergikan pesan dan pengalaman khalayak konsumen, sehingga khalayak dapat langsung ‘merasakan’ kebenaran pesan yang disampaikan. Karena unik,  iklan ambient media juga dapat menimbulkan word-of-mouth dan publisitas yang luas.

Buku ini memaparkan bagaimana perkembangan iklan ambient media, bagaimana para kreator memproduksi pesan iklan ambient media yang unik, dan bagaimana pola komunikasi iklan ambient media.

Selain bermanfaat bagi para praktisi sebagai jendela untuk melihat cara-cara alternatif dan kreatif dalam mengomunikasikan pesan-pesan merek produk, buku ini juga dapat menjadi referensi bagi para akademisi dan peneliti sekaligus menjawab kelangkaan literatur mengenai iklan ambient media.

Comments (7) »

Wijaya, B. S. (2011). ‘Model Komunikasi Berasa dalam Komunikasi Pemasaran: Studi tentang Iklan Ambient Media dalam Meraih Kepercayaan Khalayak Konsumen’, Journal Communication Spectrum, 1 (1), p. 55-74

comm spectrum vol 1Model Komunikasi Berasa dalam Komunikasi Pemasaran: Studi tentang Iklan Ambient Media dalam Meraih Kepercayaan Khalayak Konsumen

(Experientially-Meaningful Communication Model in the Marketing Communications: A Study of Ambient Media Advertising in Gaining Consumer Audience’s Trust)

Bambang Sukma Wijaya

Abstract: The more cluttered and intense of marketing communications messages in conventional media had turned many advertisers to take a glance at ways of communication through unconventional media. One of them is through ambient media advertisement. This paper is to review the advantages of ambient media ad as one of marketing communication strategy in gaining the audience/consumer’s trust. By using qualitative case study method, writer found that one distinct characteristic of ambient media ad is its capable of synergizing a message and message proofing through consumer’s experience with a conducive ambience, thus consumers are able to sense directly the truth of the presented message. This kind of communication model is called Komunikasi Berasa or Experientially-Meaningful Communication or Ambient Communication. Unlike ‘experience’ concept in marketing which is more oriented to experience of a “product”, ‘experience’ concept within Experientially-Meaningful Communication is more oriented to experience of a “message”. Therefore, with direct or instant experience (without delay) of a message which is presented synergically, consumers will tend to directly accept the truth of that message. Experientially-Meaningful Communication model which is a pattern of this ambient media ad communication becomes one of the solutions in the midst of the lessening of consumers trust to promises or advertisement message in the conventional media. To optimize communication result of ambient media ad, writer suggested creators to mix it with public relation strategy by creating word-of-mouth and publicity.

Key Words: Experientially-Meaningful Communication (Komunikasi Berasa), Ambient Media Ad (Iklan Ambient Media), Consumer Audience (Khalayak Konsumen)


See the complete paper:  Model Komunikasi Berasa dalam Komunikasi Pemasaran

Leave a comment »

Abstrak Tesis Produksi Pesan Iklan Ambient Media

Abstrak Tesis:

PRODUKSI PESAN IKLAN AMBIENT MEDIA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI BERASA: SEBUAH STUDI EKSPLORATORIS

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Semakin padat dan ramainya pesan-pesan komunikasi pemasaran di media-media konvensional, membuat banyak pengiklan kini mulai melirik cara-cara berkomunikasi  melalui media yang tidak biasa. Salah satunya melalui iklan berbentuk ambient media. Iklan ambient media memiliki ciri khas yaitu mampu menyinergikan pesan dan pengalaman khalayak konsumen, sehingga khalayak dapat langsung merasakan kebenaran pesan yang disampaikan. Karena unik,  iklan ambient media juga dapat menimbulkan word-of-mouth.

Penelitian ini berfokus pada bagaimana kreator iklan memproduksi pesan iklan ambient media yang mampu bersinergi dengan pengalaman khalayak. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui, mengkaji dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan kreator dalam menciptakan pesan iklan ambient media, (2) mengetahui dan memahami cara kreator mengolah pengetahuan tersebut menjadi pesan iklan ambient media yang mampu bersinergi dengan pengalaman khalayak konsumen. Penelitian eksploratoris ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretif yang memadukan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan netnography. Subyek utama penelitian ini adalah para kreator yang memiliki pengalaman membuat iklan ambient media, mulai dari executive creative director, creative director, art director, copywriter hingga mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang karya iklan ambient media-nya pernah memenangkan lomba kreatif iklan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan mengkategorisasi, menginterpretasi makna, mendialogkan dengan teori dan sumber-sumber lain serta triangulasi khalayak konsumen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, terdapat tiga pengetahuan penting yang dibutuhkan kreator dalam menciptakan pesan iklan ambient media, yakni pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai konsumen dan konteksnya (consumer insights), pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai produk dan konteksnya (product insights) dan pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai medium dan konteksnya (medium insights). Ketiga pengetahuan ini peneliti rangkum dalam sebuah Konsep Segitiga Insight (Insight Triangle’s Concept). Selain itu, membandingkan dengan Action Assembly Theory dari John Greene, peneliti menemukan bahwa di samping pengetahuan isi (content knowledge) dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge), kreator juga memerlukan pengetahuan konteks (context knowledge) dalam memproduksi pesan. Kedua, kreator mengolah pengetahuan menjadi pesan iklan ambient media dengan cara menghubungkan antarpengetahuan menjadi ide, lalu konsep kreatif hingga eksekusi pesan. Kreator mengoptimumkan kemampuan empatik dan imajinatifnya untuk menjadikan pesan dapat bersinergi dengan pengalaman khalayak. Proses ini peneliti sebut sebagai Model Penciptaan Ambient (Ambient Creation Model). Dari hasil triangulasi terhadap khalayak konsumen, ternyata ditemukan sinergi antara pesan yang disampaikan oleh kreator dengan pengalaman khalayak terhadap pesan, sehingga peneliti menelurkan konsep Model Komunikasi Berasa (Experiential Communication Model) untuk menggambarkan pola komunikasi iklan ambient media yang menyinergikan pesan dan pembuktian pesan melalui pengalaman khalayak.

Sebagai solusi bagi pengiklan yang memiliki keterbatasan biaya promosi, peneliti menyarankan untuk menggunakan iklan ambient media yang cenderung menghasilkan impact besar dengan biaya lebih ringan (low budget high impact) dibandingkan iklan-iklan bermedia konvensional. Untuk itu kreator perlu pula memperhatikan faktor-faktor seperti kesederhanaan eksekusi ide, ketepatan penempatan iklan sesuai konsep Segitiga Insight dan penggunaan strategi public relation yang dapat mendorong terbentuknya word of mouth dan publisitas luas. Peneliti juga menyarankan peneliti lain untuk meneliti lebih jauh mengenai efektivitas iklan ambient media dari sisi khalayak konsumen serta penerapan model Komunikasi Berasa pada ranah komunikasi lain seperti komunikasi politik, komunikasi organisasi, dan lain-lain.

Kata kunci: iklan ambient media, khalayak konsumen, komunikasi berasa.

(jika Anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai Konsep Segitiga Insight, Model Penciptaan Ambient, dan Model Komunikasi Berasa atau Experiential Communication Model untuk referensi penelitian Anda, bisa menghubungi langsung penulisnya ke: bambangsukma@yahoo.com)

Comments (6) »

MOHON MAAF

Berhubung banyaknya comment yang masuk, dan terbatasnya waktu luang saya, dengan ini saya mohon maaf kepada teman-teman yang telah mengirimkan comment namun belum sempat saya jawab.

Saya melihat ada lebih dari seratus comment yang masih ke-pending, menunggu response, sebagian besar berupa pertanyaan-pertanyaan seputar metode penelitian, teori-teori, dan komentar artikel lainya.

Dengan segala keterbatasan saya, saya akan coba menjawab semuanya, tapi tidak bisa sekaligus dalam waktu bersamaan. Karena itu saya minta kesabaran teman-teman.

Kadang pertanyaan yang diajukan sebenarnya sudah ada jawabannya (karena topik dan inti pertanyaannya mirip), baik dalam bentuk artikel di kategori lain dalam blog ini, maupun dalam bentuk jawaban-jawaban penanya lain yang sudah saya posting. Karena itu mohon teman-teman mengecek juga artikel-artikel di kategori lain dan/ atau jawaban-jawaban yang sudah saya berikan untuk penanya lain dalam blog ini.

Atas pengertian dan kerjasamanya, tak lupa saya ucapkan terima kasih. Semoga blog ini bermanfaat dan membantu mencerahkan wawasan kita tentang fenomena dan ilmu komunikasi.

salam hangat,

BSW

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.