Archive for Komunikasi Pemasaran

Plus-minus selentingan dalam komunikasi organisasi dan bisnis

Hati-hati dengan ‘Selentingan’..!

 Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

Dalam komunikasi organisasi, “selentingan” digambarkan sebagai ”metode penyampaian laporan rahasia dari orang ke orang yang tidak dapat diperoleh melalui saluran biasa” (Sten, 1967). Meskipun sumbernya tampak ”rahasia” namun informasi itu sendiri bukan rahasia. Informasi yang diperoleh lebih memperhatikan ”apa yang dikatakan dan didengar orang-orang” daripada apa yang dikeluarkan pemegang kekuasaan secara resmi. Karena sifatnya yang informal/personal, maka arah aliran informasinya tidak stabil, bisa mengalir ke atas, ke bawah, kiri, kanan dan melintasi saluran dengan hanya sedikit saja yang melewati hubungan posisional.

Salah satu cara untuk mengendalikan selentingan adalah dengan menjaga saluran komunikasi formal tetap terbuka, ke manapun arahnya. Sebetulnya selentingan dapat dimanfaatkan atau dikelola dengan baik sehingga memberikan dampak positif baik bagi perusahaan maupun karyawan itu sendiri. Misalnya, untuk memperoleh pendapat jujur karyawan, atau reaksi yang mendekati realitas, perusahaan dapat melemparkan isu kebijakan tertentu (pengangkatan jabatan seorang karyawan misalnya, atau perekrutan pimpinan tertentu, ataupun dalam penerapan aturan baru) secara selentingan.

Karena sifat selentingan yang biasanya menyebar cepat, perusahaan pun dapat dengan cepat mengambil keputusan yang tepat. Atau dalam mengurangi resistensi dampak kebijakan tertentu (misalnya dalam soal PHK), perusahaan dapat menyebarkan isu selentingan soal ini (termasuk alasan logisnya) sehingga perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang strategis dan bijak, yang mampu meminimalisir dampak negatifnya. Sementara di pihak karyawan sendiri telah merasakan “kesiapan” sejak jauh-jauh hari sebelum keputusan itu benar-benar keluar. Sehingga mereka dapat menerima dan memahaminya dengan baik dan positif. Contoh lain pemanfaatan selentingan secara positif adalah penggunaan strategi word-of-mouth dalam komunikasi pemasaran atau dikenal dengan istilah buzz marketing.

Dalam dunia pemasaran, word-of-mouth yang biasanya disampaikan secara tidak resmi melalui saluran tidak resmi (sembarang media) kadangkala jauh lebih efektif daripada melalui saluran (media) resmi seperti iklan televisi, koran, radio, atau press conference sekalipun. Ambil contoh sebelum peluncuran Nokia E90 (yang memiliki fitur lengkap dan canggih sebagai penyempurnaan seri communicator sebelumnya), terdapat selentingan bahwa produk tersebut dijual sangat terbatas. Hal ini membuat orang-orang berbondong-bondong antri pada saat peluncuran perdananya di Jakarta.

Begitu pula ketika peluncuran i-phone dari Apple,inc. di AS, yang karena pro-kontra mengenai desain maupun keunikan produknya membuat konsumen penasaran hingga bersedia antri di took-toko meskipun produknya sendiri tidak dijual terbatas. Contoh lain adalah fenomena Harry Potter. Semua tidak diawali dengan iklan atau konferensi press (penyampaian resmi), namun hanya menyebar secara selentingan melalui sembarang media, baik dari mulut ke mulut, milis-milis, maupun berita-berita ringan.

Meskipun demikian, selentingan juga bisa dimanfaatkan pesaing untuk menjatuhkan produk tertentu, seperti isu bahan pengawet Mizone, isu lemak babi Ajinomoto, dll. Karena itu strategi khusus diperlukan, misalnya melalui public relation atau crisis management yang terpadu dan terarah. Selentingan memang memiliki kekuatan luar biasa melampaui batas-batas media dan menyebar ke sembarang arah. Tanpa penanganan yang baik, maka selentingan akan sulit dikendalikan. (BSW)

Leave a comment »

Ambient Advertising dan Fenomena Modernitas Dunia Barat

Ambient Advertising dan Fenomena Modernitas Dunia Barat

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Philip Kotler (2000: 3) mengatakan bahwa dunia pemasaran hanya dapat berkembang di negara-negara yang menganut sistem demokrasi dan ekonomi terbuka. Hal ini dikarenakan pasar yang ada di negara-negara tersebut membuka peluang kompetisi yang lebih kondusif. Sedangkan kompetisi pasar merupakan stimulus utama berkembangnya strategi-strategi dan kreativitas baru yang dibutuhkan dalam dunia pemasaran. Tak heran, perkembangan pesat dunia pemasaran atau marketing kebanyakan terjadi di negara-negara maju (Barat) yang telah lama menjalankan sistem demokrasi dan ekonomi pasar bebas, seperti negara Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa barat. Banyak merek-merek produk ternama lahir dari negara-negara tersebut seperti Nike, McDonalds, Mercedes Benz, VW, Nokia, dan lain-lain.

Merek-merek global tersebut tidak dibangun dalam sekejap, namun melalui suatu perjalanan panjang dengan strategi komunikasi pemasaran yang terarah. Salah satu bentuk komunikasi pemasaran paling populer adalah iklan. Tak dapat dipungkiri, bahwa periklanan dengan segala kreativitasnya yang menarik dan terkadang kontroversial telah memberi kontribusi besar bagi perkembangan ekonomi global. Iklan dapat memacu penjualan produk. Iklan dapat menstimulasi lesunya pasar. Iklan dapat mendongkrak image produk. Iklan dapat menciptakan gaya hidup baru. Bahkan iklan pun acap dituding sebagai agen propaganda konsumerisme. Sementara konsumerisme merupakan anak kandung dari kapitalisme yang lahir dari rahim modernitas Eropa dan dunia Barat.

Kapitalisme, sebagaimana teori sistem dunia Immanuel Wallerstein (1974) muncul sebagai sistem ekonomi dominan sejak awal abad ke-16 yang disebut Wallerstein sebagai tahap “ekonomi dunia”. Peran negara (pemerintah) sebagai badan pengatur dan kordinator aktivitas ekonomi mulai merosot dan digantikan oleh pasar.

Pada tahap ini, sistem kapitalis menunjukkan potensi ekspansi yang sangat besar. Dinamika internal untuk bergerak sendiri dan kemampuan menjaga agar suplai barang tetap melimpah menyebabkan sistem ini sangat menarik bagi segmen terbesar penduduk (Sztompka, 2007: 107).

Sistem ini pun mengendalikan kekuasaan politik dan militer sehingga memungkinkan untuk meluaskan kekuasaannya. Pembangunan transportasi, teknologi militer dan komunikasi mempercepat perkembangan sistem kapitalis ke seluruh dunia. Dampaknya pun terasa dengan lahirnya strata dan ketimpangan masyarakat dunia. Masyarakat dunia teriris menjadi tiga strata: inti, menengah atau semi pinggiran dan pinggiran. Sebutan populer untuk stratifikasi ini biasa disebut Dunia Pertama, Dunia Kedua dan Dunia Ketiga.

Sebagaimana telah dipaparkan di atas, kapitalisme berasal dari inti atau Dunia Pertama, yakni masyarakat Eropa barat, kemudian meluas ke semi pinggiran dan pinggiran. Masyarakat di negara pinggiran seperti Indonesia dan beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin terpaksa memasuki sistem masyarakat dunia yang didominasi oleh inti (Dunia Pertama) namun mereka masih tetap berada di pinggiran sistem, setidaknya dipandang dari sudut distribusi kekuasaan dan keuntungan ekonomi dunia (Chirot, 1977).

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, kapitalisme juga mendorong persaingan bebas di pasar sehingga untuk dapat menang di pasar, sebuah merek produk harus mengerahkan segala daya kreatif dan strategi pemasaran yang cerdik. Konsumen tidak lagi dihadapkan pada satu atau dua merek produk, tetapi ribuan merek yang berlomba merebut perhatian mereka. Itulah mengapa, di era pasar moderen yang hiper kompetitif terutama di negara-negara maju seperti Eropa, para pemasar maupun praktisi komunikasi pemasaran pun berlomba menciptakan cara-cara baru dalam mengomunikasikan merek produk agar konsumen tertarik. Perkembangan kreativitas iklan, selain memberi kontribusi ekonomis yang luar biasa bagi perkembangan media-media konvensional seperti televisi, radio, suratkabar dan majalah, juga membuka kemungkinan eksplorasi penggunaan media-media baru dan alternatif, seperti ambient media atau ambient advertising.

Sebagaimana diketahui, ambient advertising dikembangkan pertama kali di London, Inggris oleh sebuah biro iklan bernama Concord Advertising. Di tengah fenomena modernitas masyarakat Eropa yang ditandai berkembangnya teknologi-teknologi baru, gaya hidup moderen yang membuat masyarakat terjebak dalam rutinitas ketergesaan, ketidakpedulian (individualis), serta kian padatnya pesan-pesan produk di hampir setiap sudut tempat, ambient advertising hadir untuk menyita perhatian masyarakat di tempat-tempat yang tak terduga, tanpa “memaksa” mereka menyediakan waktu khusus untuk menikmati media sebagaimana terhadap media-media konvensional seperti televisi dan lain-lain.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi perkembangan ambient advertising adalah:

- Seebagai bentuk penolakan terhadap dominasi kekuasaan media tradisional (konvensional)

- Kebutuhan untuk melakukan komunikasi di tempat penjualan (point-of-sales)

- Kemampuannya menjangkau target khalayak secara tepat (http://wikipedia.org)

Tak heran, ambient advertising menjadi “mainan baru” para praktisi komunikasi pemasaran dan kreatif periklanan. Salah satu contoh iklan ambient media atau ambient advertising adalah iklan sebuah produk mie spaghetti di Jerman yang menyimulasikan mie dengan tali tambang berwarna kuning yang sepintas mirip mie spaghetti yang sebenarnya.

Pada dinding sebuah kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Hamburg, Jerman ditempeli stiker gambar wajah dengan ekspresi nikmat. Stiker tersebut dipasang sedemikian rupa dengan mulut gambar berada tepat di lubang saluran tali. Sehingga ketika tali ditarik dari dalam kapal, gambar seolah-olah sedang menghirup tali dengan nikmat, seperti nikmatnya mengonsumsi mie spaghetti Mondo Pasta, merek produk tersebut.

Gambar 1. Iklan ambient media di pelabuhan Hamburg, Jerman yang menyimulasikan kelezatan mie spaghetti merek Mondo Pasta (Sumber: www.ambient-planet.com)

Sementara di Indonesia, pada tahun 2006 sebuah contoh iklan layanan masyarakat ambient advertising bertema “helping hands” menampilkan tangan-tangan anak-anak yang mengambang di kolam bundaran HI Jakarta, seolah meminta pertolongan. Iklan tersebut disampaikan oleh lembaga pencari donor untuk anak-anak korban bencana tsunami Aceh. Tentu saja pesan yang ingin disampaikan untuk menggugah pengunjung yang melewati jalan di bundaran HI agar menyisihkan sebagian miliknya untuk membantu para korban dengan menyajikan pengalaman bagaimana rasanya melihat langsung anak-anak yang menjadi korban tsunami. Efek yang ditampilkan pasti berbeda jika pesan disampaikan melalui iklan di media konvensional seperti televisi dan suratkabar, yang mana khalayak hanya membayangkan keadaan para korban di tempat aslinya yang jauh. Iklan yang dibuat oleh biro iklan JWT ini berhasil memperoleh penghargaan di ajang lomba periklanan internasional.

Gambar 2. Iklan ambient media di kolam bundaran HI Jakarta dari lembaga pencari donor bagi anak-anak korban tsunami Aceh (Sumber: dok. JWT Indonesia)

Ambient advertising memang memiliki kekuatan menarik perhatian khalayak di sekitarnya dan cenderung lebih mudah menciptakan kepercayaan karena khalayak langsung “mengalami” isi pesan yang disampaikan. Julie Aveyard, Advertising Campaigns Manager perusahaan telekomunikasi BT Cellnet memaparkan pengalamannya di Majalah Marketing (2001) Inggris bahwa, “The essence of ambient advertising is about taking people by surprise and making our communication more relevant and credible.” (Terjemahan: kekuatan ambient advertising adalah memberi kejutan bagi orang-orang dan menjadikan komunikasi kami lebih relevan dan kredibel).

Sedangkan Richard Wier, Direktur HiTech Solutions menggambarkan ambient advertising sebagai medium yang tidak sekompleks media konvensional, namun lebih terjamin untuk dilihat pesannya oleh konsumen. Mike Baker, direktur pemasaran TDI London menyebut ambient advertising sebagai taktik yang tidak membutuhkan investasi besar-besaran namun memberikan dampak lebih diingat dan relevan (Marketing, London: 1997).

Keunikan dan keistimewaan ambient advertising tidak hanya pada eksekusi kreatifnya yang mampu menarik perhatian, sifat komunikasinya yang menyinergikan penyampaian pesan dengan pembuktian pesan sehingga khalayak dapat ‘mengalami’ atau merasakan langsung pesannya, tetapi juga mampu memberikan efek word of mouth dan publisitas yang luas karena menjadi bahan pembicaraan khalayak. Itulah mengapa, Alastair Ray dari Majalah Marketing London menyebut: “Ambient advertising used to be more PR than advertising, with firms striving to be the first brand to advertise in urinals and wheat fields in a bid to generate press coverage worth more than the campaign itself” (Terjemahan: ambient advertising kadang lebih cenderung menjalankan fungsi PR daripada periklanan, dengan menjadi merek pertama yang ditemukan secara unik di suatu tempat yang tidak biasa, maka akan mengundang liputan pers sehingga memberi efek lebih dari sekadar tujuan kampanyenya itu sendiri) (Marketing, London: 2001).

Fenomena ambient advertising yang awalnya muncul dan berkembang di Eropa sebagai konsekuensi logis perkembangan gaya hidup moderen di bawah payung kapitalisme, juga merambah periklanan negara-negara Dunia Ketiga atau pinggiran seperti Indonesia. Selain contoh iklan “helping hands” yang dibuat JWT di atas, cukup banyak iklan-iklan ambient lain yang dibuat oleh tenaga kreatif periklanan Indonesia. Hal ini semakin menegaskan tentang salah satu asumsi dalam teori modernisasi bahwa “masyarakat yang kurang maju harus mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh masyarakat yang lebih maju, mengikuti langkah yang sama, atau berdiri di tangga lebih rendah di eskalator yang sama”.

Apa yang menjadi tren di negara Barat, menjadi tren pula di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Leave a comment »

Kultur Barat dalam Dunia Iklan Indonesia

Kultur Barat dalam Dunia Iklan Indonesia Dipandang dari Sudut Teori Ketergantungan dan Modernisasi

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Pada tahun 2005, dunia periklanan Indonesia dikejutkan oleh fenomena pemutusan hubungan kerja besar-besaran di biro iklan multinasional nomor satu yakni Lowe Indonesia. Selama ini masyarakat periklanan dan para praktisi maupun akademisi pemasaran mengenal Lowe Indonesia sebagai agency yang sehat, bereputasi sangat baik, bermodal kuat sebagai agency yang memiliki billing terbesar hingga mendudukkannya sebagai agency nomor satu di Indonesia, dan yang tak kalah penting: sering memenangkan penghargaan kreatif di ajang festival iklan nasional, bahkan kerap menjadi Agency of The Year. Jadi, suatu hal yang muskil jika agency yang awalnya merupakan inhouse agency PT Unilever Indonesia itu tiba-tiba terancam bangkrut hingga mem-PHK karyawan-karyawannya. Terlebih, sebagian besar karyawan yang di-PHK tersebut adalah tenaga-tenaga kreatif.

Rupanya, faktor penyebabnya bukan karena Lowe kekurangan modal hingga terancam bangkrut, namun ada faktor kebijakan global yang memengaruhinya. PT Unilever sebagai klien utama Lowe menetapkan kebijakan baru yang hanya menayangkan konsep iklan global untuk semua merek produk globalnya di seluruh dunia. Itu berarti, tidak ada konsep iklan baru yang dibuat di Indonesia. Tugas agency hanya mengadaptasi konsep iklan global tersebut ke bahasa setempat. Dengan demikian tidak diperlukan tenaga kreatif yang banyak.

Peristiwa tersebut menyadarkan masyarakat periklanan Indonesia tentang pengaruh kekuatan global yang tidak saja mencengkeram organ kebijakan perekonomian makro nasional melalui tangan IMF, tetapi juga kebijakan perekonomian mikro melalui jalur privat atau swasta termasuk dunia periklanan yang merupakan salah satu industri kreatif andalan nasional. Tak cukup sampai di situ, pada tahun berikutnya, 2006, agency multinasional lain yakni McCann melakukan tindakan PHK serupa akibat kebijakan efisiensi jaringan globalnya. Agency multinasional lain, Leo Burnett juga mengalami hal yang sama, meskipun dalam lingkup yang lebih kecil.

Teori modernisasi dan ketergantungan agaknya berlaku pula di industri periklanan Tanah Air. Semenjak krisis ekonomi, banyak biro iklan lokal yang rontok. Di lain pihak, biro iklan multinasional menjamur. Industri periklanan nasional akhirnya harus bergantung pada modal asing untuk dapat tetap bertahan dan tumbuh. Tapi akibatnya, industri ini pun harus takluk pada segala kebijakan global yang memengaruhinya, termasuk kebijakan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja karyawannya. De Santos dalam tesisnya mengenai teori ketergantungan menyebutkan salah satu model ketergantungan yang menimpa negara-negara dunia ketiga adalah ketergantungan finansial- industri, yang membawa konsekuensi pengendalian melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan finansial-industri.

Konsekuensi lain adalah dalam konteks globalisasi kultur. Bukan rahasia lagi, bahwa kultur Barat sangat mewarnai iklim komunikasi maupun iklim organisasi perusahaan-perusahaan periklanan dalam negeri. Mereka yang mahir berbahasa asing akan bernilai lebih tinggi dibandingkan mereka yang gagap dalam berbahasa asing. Bahkan semua yang berbau Barat dianggap lebih berkelas. Presentasi kepada klien lokal pun tetap dianggap lebih hebat bila disajikan dalam bahasa atau istilah-istilah asing (baca: Inggris), meskipun isinya belum tentu sehebat bahasanya. Sehingga tak heran, produk-produk iklan yang dihasilkan pun selalu mengorelasikan citra Barat dengan citra kelas atas yang hebat, dan citra lokal dengan citra kelas bawah yang kampungan.

Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan periklanan yang memiliki tenaga asing akan dianggap lebih bonafid daripada perusahaan yang hanya mengandalkan semata-mata tenaga lokal. Padahal, kenyataannya tidak semua tenaga asing itu berkualitas, baik secara kreatif maupun strategi, dan tidak semua tenaga lokal memiliki kualitas di bawah tenaga asing. (Bisnis Indonesia, 2008).

Globalisasi kultur ditelaah pertama kali oleh ahli antropologi-sosial B. Malinowski (1884-1942) dan A.R. Radcliffe Brown (1881-1955) yang melihat fenomena kontak, benturan atau konflik kultural ketika peradaban Barat merasuk ke dalam kultur pribumi di kawasan jajahan mereka. Terdapat dua jenis pandangan mengenai kontak kultural ini. Pertama, pandangan yang melihat kontak kultural sebagai imperialisme kultural yang menimbulkan bencana besar. Dalam masyarakat moderen, kontak kultural semacam ini ditimbulkan oleh pertumbuhan “westernisasi” (Amerikanisasi), yang mana terjadi proses “penyelarasan kultural” tanpa teladan historis sehingga berbagai sistem kultur dunia yang menonjol mengalami kemerosotan (Hamelink, 1983). Komersialisasi dan dijadikannya produk kultural sebagai komoditi membuat kualitas produk menurun ke tingkat terbawah.

Kedua, pandangan yang dipengaruhi konsep modernisasi berkaitan dengan keinginan untuk menyusul masyarakat paling maju, ada kesiapan merangkul pola Barat sebagai cara atau syarat emansipasi masyarakat atau setidaknya merupakan simbol kemajuan peradaban. Inilah yang menjadi sikap khas kaum elit terpelajar, elit politik dan elit ekonomi di negara jajahan (Sztompka, 2007:109).

Hal itu pula yang terlihat pada fenomena dunia periklanan di Indonesia. Kaum elit periklanan banyak yang berkiblat ke Barat, bahkan cenderung “menyembah”-nya. Gaya hidup keseharian mereka meniru gaya hidup para ekspatriat, alih-alih mengadopsi teknologi kreatif dan keterampilan strategis ekspatriat itu. Tak heran, paradigma orang iklan mengenai standar kreativitas tinggi selalu mengacu pada iklan-iklan yang dibuat oleh negara-negara Barat. Padahal cara mengontruksi realitas sosial budaya dan cara berkomunikasi mereka berbeda dengan bangsa kita. Maka ketika diikutkan pada ajang penghargaan kreatif iklan internasional, karya kreatif iklan bangsa kita lebih sering dianggap memiliki tingkat yang rendah karena lebih banyak mengekor kreativitas negara lain, atau dengan kata lain tidak memiliki kepribadian dan orisinalitas yang kuat (Media Indonesia, 2008).

Dalam periode belakangan ini, unifikasi dan homogenisasi kultur pada skala global umumnya ditampilkan melalui media massa terutama TV, dan tidak terkecuali iklan-iklan asing (global) yang ditayangkan di dalamnya. “Imperialisme media” telah mengubah dunia menjadi “dusun global” (global village) di mana lingkup pengalaman kultural dan produknya pada dasarnya adalah sama. Media memiliki pengaruh dalam pembentukan pesan serta pembentukan ulangnya secara terus-menerus dalam individu, masyarakat, dan persepsi kultur serta pemahaman dunia (McLuhan, 2005: 15).

Padahal, iklan dan produk-produk kultural lainnya yang hadir di berbagai media adalah menunjukkan identitas sebuah bangsa. Jika semua menghadirkan hal yang seragam, maka identitas itu pun menjadi kabur. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh Norman Douglas dalam karyanya South Wind (1917):

You can tell the ideals of a nation by its advertisements.”

Kesimpulan

Beberapa hal penting dan menarik yang dapat disimpulkan dari uraian di atas antara lain:

  • Proses dan dampak modernisasi juga merambah dunia periklanan. Konsep-konsep kreatif iklan Barat menjadi acuan dan standar kualitas yang banyak diikuti oleh insan-insan periklanan di negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Sehingga biro-biro iklan yang memiliki tenaga asing dianggap lebih berkualitas dibandingkan tenaga lokal.
  • “Pemujaan” terhadap Barat sebagaimana disinyalir Bendix, Tiryakian dan Chodax yang mengritisi konsep dalam teori modernisasi tercermin pula dari konsep-konsep kreatif yang dihasilkan insan kreatif Tanah Air. Segala hal yang berbau asing (baca: Barat) dianggap lebih berkelas dan yang berbau lokal dikonotasikan ke kelas yang lebih rendah, demikian pula ukuran kegantengan dan kecantikan acap distandarkan pada wajah-wajah keturunan Barat.
  • Ketergantungan finansial-industri negara-negara pinggiran sebagai dikemukakan oleh de Santos, yang mana memberi dampak kekuasaan bagi negara-negara inti (Barat), juga terlihat pada fenomena biro iklan multinasional di Indonesia. Dikarenakan ketergantungan terhadap modal asing, maka biro-biro iklan di Indonesia terpaksa harus tunduk terhadap berbagai pengaruh kebijakan global
  • Globalisasi kultur lewat periklanan dan media massa dapat mengaburkan identitas bangsa-bangsa terutama negara dunia ketiga. Pesan-pesan dan citra produk yang ditampilkan cenderung diseragamkan dengan mengacu pada kultur Barat sebagai negara inti atau istilah Tiryakian, “negara rujukan” atau “negara model” menurut Bendix. Padahal, Norman Douglas mengingatkan bahwa identitas sebuah bangsa dapat dilihat dari iklan-iklannya. Karena itu, perlu dilakukan suatu self-filtered bagi masyarakat terutama di negara-negara dunia ketiga dengan lebih banyak menggali dan memberdayakan potensi-potensi lokal. Peraturan Pemerintah Indonesia No. 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 tentang Sumber Daya Lokal dalam Siaran Iklan Televisi tampaknya hendak mengakomodir pemikiran ini, meskipun dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan.

Leave a comment »