Archive for Teori-teori Komunikasi

Abstrak Tesis Produksi Pesan Iklan Ambient Media

Abstrak Tesis:

PRODUKSI PESAN IKLAN AMBIENT MEDIA DALAM KONTEKS KOMUNIKASI BERASA: SEBUAH STUDI EKSPLORATORIS

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Semakin padat dan ramainya pesan-pesan komunikasi pemasaran di media-media konvensional, membuat banyak pengiklan kini mulai melirik cara-cara berkomunikasi  melalui media yang tidak biasa. Salah satunya melalui iklan berbentuk ambient media. Iklan ambient media memiliki ciri khas yaitu mampu menyinergikan pesan dan pengalaman khalayak konsumen, sehingga khalayak dapat langsung merasakan kebenaran pesan yang disampaikan. Karena unik,  iklan ambient media juga dapat menimbulkan word-of-mouth.

Penelitian ini berfokus pada bagaimana kreator iklan memproduksi pesan iklan ambient media yang mampu bersinergi dengan pengalaman khalayak. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui, mengkaji dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan kreator dalam menciptakan pesan iklan ambient media, (2) mengetahui dan memahami cara kreator mengolah pengetahuan tersebut menjadi pesan iklan ambient media yang mampu bersinergi dengan pengalaman khalayak konsumen. Penelitian eksploratoris ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretif yang memadukan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan netnography. Subyek utama penelitian ini adalah para kreator yang memiliki pengalaman membuat iklan ambient media, mulai dari executive creative director, creative director, art director, copywriter hingga mahasiswa Desain Komunikasi Visual yang karya iklan ambient media-nya pernah memenangkan lomba kreatif iklan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan mengkategorisasi, menginterpretasi makna, mendialogkan dengan teori dan sumber-sumber lain serta triangulasi khalayak konsumen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, terdapat tiga pengetahuan penting yang dibutuhkan kreator dalam menciptakan pesan iklan ambient media, yakni pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai konsumen dan konteksnya (consumer insights), pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai produk dan konteksnya (product insights) dan pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai medium dan konteksnya (medium insights). Ketiga pengetahuan ini peneliti rangkum dalam sebuah Konsep Segitiga Insight (Insight Triangle’s Concept). Selain itu, membandingkan dengan Action Assembly Theory dari John Greene, peneliti menemukan bahwa di samping pengetahuan isi (content knowledge) dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge), kreator juga memerlukan pengetahuan konteks (context knowledge) dalam memproduksi pesan. Kedua, kreator mengolah pengetahuan menjadi pesan iklan ambient media dengan cara menghubungkan antarpengetahuan menjadi ide, lalu konsep kreatif hingga eksekusi pesan. Kreator mengoptimumkan kemampuan empatik dan imajinatifnya untuk menjadikan pesan dapat bersinergi dengan pengalaman khalayak. Proses ini peneliti sebut sebagai Model Penciptaan Ambient (Ambient Creation Model). Dari hasil triangulasi terhadap khalayak konsumen, ternyata ditemukan sinergi antara pesan yang disampaikan oleh kreator dengan pengalaman khalayak terhadap pesan, sehingga peneliti menelurkan konsep Model Komunikasi Berasa (Experiential Communication Model) untuk menggambarkan pola komunikasi iklan ambient media yang menyinergikan pesan dan pembuktian pesan melalui pengalaman khalayak.

Sebagai solusi bagi pengiklan yang memiliki keterbatasan biaya promosi, peneliti menyarankan untuk menggunakan iklan ambient media yang cenderung menghasilkan impact besar dengan biaya lebih ringan (low budget high impact) dibandingkan iklan-iklan bermedia konvensional. Untuk itu kreator perlu pula memperhatikan faktor-faktor seperti kesederhanaan eksekusi ide, ketepatan penempatan iklan sesuai konsep Segitiga Insight dan penggunaan strategi public relation yang dapat mendorong terbentuknya word of mouth dan publisitas luas. Peneliti juga menyarankan peneliti lain untuk meneliti lebih jauh mengenai efektivitas iklan ambient media dari sisi khalayak konsumen serta penerapan model Komunikasi Berasa pada ranah komunikasi lain seperti komunikasi politik, komunikasi organisasi, dan lain-lain.

Kata kunci: iklan ambient media, khalayak konsumen, komunikasi berasa.

(jika Anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai Konsep Segitiga Insight, Model Penciptaan Ambient, dan Model Komunikasi Berasa atau Experiential Communication Model untuk referensi penelitian Anda, bisa menghubungi langsung penulisnya ke: bambangsukma@yahoo.com)

Comments (6) »

MOHON MAAF

Berhubung banyaknya comment yang masuk, dan terbatasnya waktu luang saya, dengan ini saya mohon maaf kepada teman-teman yang telah mengirimkan comment namun belum sempat saya jawab.

Saya melihat ada lebih dari seratus comment yang masih ke-pending, menunggu response, sebagian besar berupa pertanyaan-pertanyaan seputar metode penelitian, teori-teori, dan komentar artikel lainya.

Dengan segala keterbatasan saya, saya akan coba menjawab semuanya, tapi tidak bisa sekaligus dalam waktu bersamaan. Karena itu saya minta kesabaran teman-teman.

Kadang pertanyaan yang diajukan sebenarnya sudah ada jawabannya (karena topik dan inti pertanyaannya mirip), baik dalam bentuk artikel di kategori lain dalam blog ini, maupun dalam bentuk jawaban-jawaban penanya lain yang sudah saya posting. Karena itu mohon teman-teman mengecek juga artikel-artikel di kategori lain dan/ atau jawaban-jawaban yang sudah saya berikan untuk penanya lain dalam blog ini.

Atas pengertian dan kerjasamanya, tak lupa saya ucapkan terima kasih. Semoga blog ini bermanfaat dan membantu mencerahkan wawasan kita tentang fenomena dan ilmu komunikasi.

salam hangat,

BSW

Leave a comment »

Teori-teori Klasik, Transisional & Mutakhir

Perbedaan dan Perkembangan Teori-teori KLASIK, Teori TRANSISIONAL, dan Teori MUTAKHIR

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

TEORI KLASIK mementingkan aspek struktur dan fungsi. Bahwa untuk mencapai efisiensi yang tinggi, maka struktur organisasi harus stabil. Semakin stabil maka semakin efisien. Sehingga struktur-struktur dan fungsi cenderung selalu tetap/tidak berubah. Dua bentuk organisasi yang popular dalam teori ini adalah organisasi social dan formal. Dalam organisasi social, perbedaan-perbedaan status social mengembangkan suatu hirarki dalam struktur sosial yang menempatkan figure-figur tertentu dalam posisi penting, yang biasanya dipertahankan bahkan dikultuskan.

Demikian pula dalam organisasi formal atau birokrasi. Struktur dibentuk secara hirarkis (vertical) dengan sistem lini dan staf atau sistem garis komando dalam militer. Tujuannya adalah efisiensi. Teori ini melihat organisasi sebagai ‘organisasi’ (sangat obyektivis), dimana struktur dan kekuasaan yang stabil sangat penting dalam menghasilkan sesuatu. Hal-hal yang mengganggu kestabilan struktur dan fungsi organisasi akan di-reduce seminimal mungkin, bahkan dihilangkan.

Contoh paling nyata adalah Indonesia pada zaman orde baru yang senantiasa mementingkan kestabilan ekonomi, politik dan keamanan, sehingga siapapun atau apapun yang dapat mengganggu kestabilan Negara pasti disingkirkan. Pejabat-pejabat dan posisi strategis selalu ditentukan dari atas untuk menjaga kestabilan tersebut. Organisasi-organisasi yang mengikuti teori klasik ini tidak bisa mengakomodir kreativitas dan dinamika, karena organisasi hanya ingin ‘mencari aman’ saja. Contoh lain dalam dunia bisnis banyak dijumpai pada perusahaan-perusahan keluarga yang cenderung mempertahankan nilai-nilai leluhur yang bergaya tradisional. Demikian pula pada perusahaan-perusahaan BUMN yang banyak dikontrol oleh pemerintah. Tak heran organisasi-organisasi ini cenderung kaku, sulit berkembang dan bersifat mekanis (seperti mesin).

Sehingga muncullah TEORI-TEORI TRANSISIONAL. Teori ini beranggapan bahwa kestabilan struktur dan fungsi ternyata tidak selalu membuat organisasi jadi efisien. Organisasi harus memberi perhatian penting pada aspek human relation. Untuk itu iklim komunikasi harus baik. Semakin baik iklim komunikasinya, semakin efisien organisasi tersebut. Teori ini menyadari bahwa manusia-manusia di dalam organisasi adalah makhluk yang aktif dan dinamis, bukan sekadar alat produksi yang kaku.

Organisasi seharusnya senantiasa mendengarkan aspirasi anggota dan tidak mematikan kreativitas. Hambatan-hambatan komunikasi maupun aliran informasi dalam organisasi yang disebabkan oleh faktor jabatan dan struktur yang kaku harus disingkirkan. Hal ini terlihat ketika zaman reformasi, kebebasan pers di Indonesia mulai dilepas. Budaya militeristik mulai dikurangi, dan otonomi daerah mulai dijalankan. Sentralisasi kekuasaan berubah menjadi desentralisasi. Pengakuan dan penghargaan atas kemajemukan budaya, social dan agama menggantikan paham mayoritas-minoritas.

Dalam dunia bisnis, banyak perusahaan yang beralih dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang berbasis profesionalitas, seperti Bakrie Group, Salim Group, Sinar Mas atau Eka Group, dll. BUMN-BUMN pun banyak yang diprivatisasi seperti Indosat, Telkom, dll. Teori yang tepat mewakili teori transisional ini adalah teori-teori perilaku dan sistem. Teori komunikasi-kewenangan Barnard misalnya, yang menekankan pentingnya mengembangkan dan memelihara suatu system komunikasi. Begitu pula dengan teori hubungan manusiawi Mayo yang menyatakan hubungan kelompok informal lebih penting dan kuat dalam menentukan moral dan produktivitas. Teori Fusi dari Bakke dan Argyris yang menyarankan personalisasi dan sosialisasi individu untuk menghasilkan fusi kebutuhan serta keinginan karyawan dan organisasi. Sedangkan teori peniti penyambung Linkert menganggap organisasi sebagai sejumlah kelompok yang saling berhubungan dengan struktur yang cenderung horizontal. Demikian pula dengan teori system social Katz dan Kahn yang melihat organisasi sebagai suatu system yang menitikberatkan pada hubungan antara orang-orang yang saling berkomunikasi, menerima pesan-pesan dan menyimpan informasi.

Namun, patut digarisbawahi pentingnya pemaknaan peserta organisasi terhadap pesan atau informasi, dan bukan sekadar hubungan komunikasi belaka. Dan pemaknaan ini juga mencakup pemaknaan pesan komunikasi yang lebih luas, karena persaingan yang semakin ketat, serta perkembangan dinamika dunia yang semakin cepat, menuntut organisasi-organisasi dan perusahaan juga harus memperhitungkan faktor lingkungan atau ‘dunia luar’.

Karena itu muncullah TEORI MUTAKHIR ATAU MODEREN. Teori ini memberikan perhatian penting pada aspek adaptasi terhadap lingkungan atau dinamika ‘dunia luar’. Teori ini beranggapan bahwa human relation saja tidak cukup, tapi organisasi juga harus bersifat adaptif. Organisasi tidak bisa eksis jika tidak memperhatikan perkembangan lingkungan di mana organisasi itu tumbuh. Bagaimana mungkin di zaman teknologi informasi yang demikian pesat dewasa ini, organisasi masih seperti ‘katak dalam tempurung’? Bagaimana mungkin kita berpikir paling hebat dan maju sementara di sekeliling kita tumbuh pesat organisasi atau perusahaan-perusahan sejenis yang tak kalah hebat?

Orang-orang dihadapkan pada banyak pilihan, sehingga kompetisi tak terhindarkan. Ketika Wings Group berpikir bahwa hanya dengan ‘bermain harga’ maka mereka bisa memenangkan persaingan pasar consumer goods, maka pesaingnya sudah berpikir jangka panjang bahwa perceived quality lebih penting untuk membangun loyalitas konsumen. Terbukti, ketika masyarakat mulai merasakan ‘akibat’ dari membeli produk murah, mereka mulai ‘pintar’ dengan tidak cuma menuntut harga murah, tapi juga kualitas. Karena itu, Wings Group mengubah strateginya dengan membangun brand relationship dan tidak Cuma ‘menyogok’ konsumen dengan harga murah semurah-murahnya. Perceived quality dibangun, brand activation digencarkan, sehingga kini Wings Group bertransformasi dari ‘perusahaan murahan’ menjadi ‘perusahaan yang patut diperhitungkan’.

Transformasi perusahaan atau organisasi merupakan muara dari adaptasi. Dan transformasi dimulai dari mengubah persepsi organisasi terhadap organisasi itu sendiri. Di sini, teori-teori mutakhir sangat relevan, antara lain Teori Pengorganisasian Wick. Contoh lain penerapan teori ini adalah perusahaan-perusahaan go public bahkan go internasional. Dapatkah dibayangkan bagaimana kondisi Lenovo, sebuah perusahaan komputer China, sebelum mengakuisisi IBM, raksasa komputer dunia? Lenovo hanya sebuah liliput dengan kultur perusahaan keluarga yang kental. Ketika Lenovo mengubah kultur perusahaan menjadi lebih terbuka, perusahaan ini bertransformasi menjadi perusahaan raksasa, bahkan sanggup ’melahap’ perusahaan raksasa lain pesaingnya dari Amerika, yakni IBM. Kini Lenovo bukan lagi ’milik China’ apalagi cuma sekadar perusahaan kecil milik keluarga. Lenovo telah menjadi ’milik dunia’ yang mampu bersaing di kancah internasional.

Perusahaan-perusahaan lain juga banyak melakukan transformasi kultural sebagai bagian dari strateginya menghadapi ketatnya persaingan. Kini banyak berkembang apa yang disebut ’spiritual company’ (bukan religious company), sebuah perusahaan yang alih-alih menerapkan kultur tertentu, mereka lebih menyukai nilai-nilai universal yang menembus batas agama, suku, ras, bahkan negara dan bangsa. Apple, Hp, Garmen Bank, Body Shop adalah beberapa dari perusahaan yang telah menjadi spiritual company. Dengan cara ini, mereka mampu bertahan dan mempertahankan loyalitas pelanggan di seluruh dunia.

Review: Ketiga jenis teori di atas tidak bersifat kronologis, namun demikian dapat dilihat bahwa dalam penerapannya, terdapat pergeseran paradigma dari obyektivis ke arah subyektivis.

Pergeseran paradigma dari objektivis ke subjektivis sejalan dengan perkembangan dan penerapan teori klasik - mutakhir

Pergeseran paradigma dari objektivis ke subjektivis sejalan dengan perkembangan dan trend penerapan teori klasik - mutakhir

Comments (3) »

Teori pemahaman perilaku dalam komunikasi organisasi (1)

Teori Rasional

Pendekatan berdasarkan teori rasional dimulai dengan asumsi bahwa apa yang kita percayai menentukan bagaimana kita berperilaku. Sehingga menurut perspektif teori ini, upaya untuk mengubah perilaku pegawai harus dititikberatkan pada perubahan kepercayaannya. Tanpa perubahan kepercayaan, seseorang akan mengikuti sifat-sifat lama atau kembali ke masa silam. Combs, Avila, dan Purkey (1971) mengemukakan pentingnya personal meaning sebagai salah satu faktor pengubah kepercayaan, sedangkan Craighead, Kazdin, dan Mahoney (1976) mengemukakan tentang self-verbalization.

Pendekatan rasional terhadap perubahan didasarkan pada pengaruh kuat kepercayaan, pemaknaan personal, bahasa dan verbalisasi-diri pada perilaku. Contoh: Saya percaya bahwa untuk dapat kenaikan gaji lebih cepat, maka saya harus pindah kerja ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih tinggi (personal meaning). Hal ini memengaruhi perilaku saya yang mudah pindah kerja, sampai suatu ketika saya membaca sebuah artikel yang mengubah kepercayaan saya tersebut. Sering pindah kerja membuat karir tidak stabil dan dapat merusak reputasi profesionalisme kita. Sejak itu saya berpikir seribu kali sebelum memutuskan pindah kerja meskipun gaji yang ditawarkan cukup menggiurkan. (BSW)

Leave a comment »

Teori pemahaman perilaku dalam komunikasi organisasi (2)

Teori Perilaku

Pendekatan melalui teori perilaku berasumsi bahwa untuk mengubah perilaku seseorang secara lebih efisien, maka kita harus menitikberatkan pada perilakunya yang dapat diobservasi, bukan pada sikap atau kepercayaannya. Bartlet (1967) berpendapat “lebih mudah mengubah perilaku daripada mengubah sikap! Mengapa melancarkan serangan gencar pada sikap kalau sikap akan mengikuti jika perilaku diubah?”. Sedangkan William dan Long (1975) mengaplikasikan prinsip-prinsip behaviorisme ini dengan mengembangkan program pengelolaan-diri yang meliputi penataan kembali konsekuensi perilaku, sehingga perilaku yang diinginkan dapat diperteguh dengan segera.

Contoh paling nyata  penerapan teori ini adalah institusi-institusi (pendidikan) yang berbau militer. Seseorang yang telah ditempa oleh berbagai aturan disiplin dan kegiatan kemiliteran akan memiliki perilaku tegas, disiplin, strategik dan berpandangan obyektif. Dalam perusahaan pun, peraturan-peraturan sering diterapkan untuk mengubah perilaku karyawan agar sinergis dengan budaya dan nilai-nilai yang diinginkan oleh perusahaan. (BSW)

Leave a comment »

Teori pemahaman perilaku dalam komunikasi organisasi (3)

Teori Pencapaian Prestasi

Pendekatan teori ini didasari asumsi bahwa perubahan perilaku muncul karena individu ingin berhasil. McClelland (1953) mengemukakan salah satu ciri individu yang memiliki achievement oriented ini adalah mereka menyukai tantangan serta penghargaan atas diri (kepuasan pribadi). Pekerjaan yang terlalu ringan akan membuat enggan dan terlalu berat akan membuat ragu. Mereka mampu mengukur pencapaian prestasi tersebut sehingga mereka mampu mengerjakan tugas-tugas dengan baik dan penuh semangat. Sehingga, untuk mengubah perilaku karyawan adalah dengan memberikan tugas-tugas menantang dengan target yang cukup rasional, serta menetapkan reward atas keberhasilan mereka.

Contoh untuk teori ini banyak ditemukan pada perusahaan-perusahan marketing atau sales oriented seperti asuransi, property, MLM, dll. Demikian juga di perusahaan service-based oriented yang banyak menggunakan kepuasan pelanggan sebagai alat ukur prestasi karyawan.  Dalam dunia periklanan misalnya.  Ide dan kreativitas merupakan hal yang utama. Tanpa ide dan kreativitas tinggi, bagaimana mungkin bisa menghasilkan terobosan-terobosan baru dalam strategi komunikasi pemasaran di tengah kompetisi yang semakin ketat dan kejam? Iklan-iklan menarik dan berhasil memikat banyak konsumen serta mampu menaikkan angka penjualan produk juga dihasilkan ole ide dan kreativitas tinggi. Sehingga siapapun dia, tanpa mengenal posisi, yang mampu memberikan ide-ide segar akan memperoleh ‘penghargaan’ khusus. Penghargaan berupa bonus, gaji, posisi dan respek atasan maupun sesama karyawan.

Orang-orang yang kreatif dan selalu memiliki ide segar akan selalu diperhatikan dan dipertahankan, karena merupakan ‘aset langka dan bernilai tinggi’. Apalagi bila hasil karyanya mampu berprestasi di ajang kompetisi kreatif periklanan nasional maupun internasional, atau mendapat pujian dari klien karena sales maupun market share mereka meningkat.Tak heran, banyak orang-orang muda kreatif yang cepat meraih posisi tinggi dan strategis dengan gaji dan fasilitas yang melimpah, mengalahkan senior-seniornya. Dan di dunia periklanan atau komunikasi pemasaran, itu adalah hal yang biasa. (BSW)

Leave a comment »

Teori pemahaman perilaku dalam komunikasi organisasi (4)

Teori Posisi

Pendekatan teori posisi didasari atas suatu premis bahwa perilaku seseorang terutama ditentukan oleh peranan atau posisi yang ia duduki. Suatu peranan merupakan seperangkat perilaku sesorang yang menandai posisinya. Hal tersebut mencakup harapan, standar, norma, atau konsep tentang bagaimana berperilaku dalam suatu posisi social.

Seseorang yang baru diangkat jadi menteri akan mengubah perilakunya sehingga berbeda ketika dia masih menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Seseorang yang baru pulang naik haji akan langsung terlihat lebih alim daripada sebelum haji (bahkan mungkin jadi doyan memberi nasihat walau tak diminta). Ketika saya di kantor sebagai karyawan, saya berperilaku sebagaimana layaknya karyawan lain yang sibuk membicarakan gaji, pimpinan, pembagian tugas, karir dan (kadang-kadang) menggoda karyawati yang tampak sexy. Ketika di kelas sebagai mahasiswa, sebagaimana mahasiswa lain sibuk bercanda, berdebat, berbicara teoritis dan serius, serta (kadang-kadang) menilai dosen.

Cocoklah lagu ’Panggung Sandiwara’-nya GodBless mencerminkan teori ini. (BSW)

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.