<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for www.komunikasiana.com</title>
	<atom:link href="http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com</link>
	<description>Blog ini menampilkan spektrum warna-warni komunikasi dari berbagai sudut pandang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 May 2009 21:13:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-224</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 21:13:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-224</guid>
		<description>dear faisal.. Harus kamu tau dulu perbedaan pendekatan antara fenomenologi dan interaksionisme simbolik, karena pada intinya hampir sama. Bedanya, fenomenologi fokus pada fenomena alamiah, sedangkan interaksionisme simbolik fokus pada pemaknaan simbolik dari interaksi. Tapi dalam aplikasinya, sama saja, keduanya bisa menggunakan observasi partisipan. Kalau kamu senang menganalisis makna simbol2 sosial di mata individu masyarakat, pakailah interaksionisme simbolik. Tapi kalau kamu senang mengamati fenomena sosial yang muncul beserta simbol-simbol yang ada tanpa terlalu jauh masuk ke ruang pemaknaan individu masyarakat, pakailah fenomenologi. Di fenomenologi kamu harus membahas juga tentang sistem2 sosial budaya ekonomi dll yang memengaruhi dan membentuk fenomena tersebut. Intinya, kalau interaksionisme simbolik kamu WAJIB MEMAKAI KACAMATA INDIVIDU MASYARAKAT dalam memaknai simbol2 sosial budaya, sedangkan fenomenologi tidak wajib, tapi PERLU untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap fenomena tersebut. Jadi sekarang kamu bisa bedakan antara WAJIB dan PERLU kan?

Dari masalah penelitian kamu, saya melihat agaknya menjurus ke interaksionisme simbolik. Tapi saran saya, coba ditekankan lebih banyak ke pertanyaan penelitian 3-mu: tentang makna simbol bagi masyarakat di situ. Yang harus kamu ketahui dan gali: 
1. APA SAJA MAKNA BUWUH SEBAGAI SIMBOL SOSIAL/BUDAYA/EKONOMI BAGI MASYARAKAT SETEMPAT?
2. BAGAIMANA MEREKA MEMAKNAI SIMBOL-SIMBOL TERSEBUT?
3. MENGAPA MEREKA MEMAKNAI SEPERTI ITU?

Sekali lagi, jangan lupa, untuk dapat memahami dan menjawab pertanyaan2 tersebut, KAMU WAJIB MENJADI MEREKA, MEMINJAM KACAMATA MEREKA. Caranya, hiduplah di antara mereka, dan rasakan bagaimana mereka memandang Buwuh itu. BAGAIMANA BUWUH ITU MEMENGARUHI INTERAKSI SOSIAL BUDAYA MEREKA DAN MENJADI SIMBOL KHAS KEMASYARAKATAN DAN BUDAYA MEREKA.
Itu berarti metode pengumpulan datanya melalui observasi partisipan. Udah tahu, kan?

Setelah data terkumpul, kamu kategorikan semua informasi yang ada menurut pola2 tertentu yang kamu temukan... biasanya informasi itu membentuk pola-pola tertentu (atau kesamaan2 tertentu) yang unik, sehingga kamu mudah mengategorisasikan. Misalnya: Buwuh sebagai simbol ritual keagamaan, buwuh sebagai simbol adat, buwuh sebagai simbol ekonomi (kekayaan), dll. Itu baru kategorisasi yang menjawab pertanyaan 1, belum untuk pertanyaan 2 dan seterusnya.

Kemudian, dari hasil temuan, kamu lihat, apakah ada penelitian sebelumnya atau teori2 yang relevan atau berkaitan dengan hasil yang kamu dapat? analisis, di mana persamaannya, dan di mana perbedaannya. Jika kamu menemukan banyak perbedaan, berarti KAMU BERHASIL MENGOREKSI/MEMATAHKAN TEORI ATAU PREPOSISI PENELITIAN SEBELUMNYA, DAN SIAP-SIAPLAH MEMUNCULKAN TEORI ATAU PREPOSISI BARU berdasarkan hasil penemuanmu di lapangan.

Simpel, kan?

Oke, selamat meneliti!

salam,
BSW</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dear faisal.. Harus kamu tau dulu perbedaan pendekatan antara fenomenologi dan interaksionisme simbolik, karena pada intinya hampir sama. Bedanya, fenomenologi fokus pada fenomena alamiah, sedangkan interaksionisme simbolik fokus pada pemaknaan simbolik dari interaksi. Tapi dalam aplikasinya, sama saja, keduanya bisa menggunakan observasi partisipan. Kalau kamu senang menganalisis makna simbol2 sosial di mata individu masyarakat, pakailah interaksionisme simbolik. Tapi kalau kamu senang mengamati fenomena sosial yang muncul beserta simbol-simbol yang ada tanpa terlalu jauh masuk ke ruang pemaknaan individu masyarakat, pakailah fenomenologi. Di fenomenologi kamu harus membahas juga tentang sistem2 sosial budaya ekonomi dll yang memengaruhi dan membentuk fenomena tersebut. Intinya, kalau interaksionisme simbolik kamu WAJIB MEMAKAI KACAMATA INDIVIDU MASYARAKAT dalam memaknai simbol2 sosial budaya, sedangkan fenomenologi tidak wajib, tapi PERLU untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap fenomena tersebut. Jadi sekarang kamu bisa bedakan antara WAJIB dan PERLU kan?</p>
<p>Dari masalah penelitian kamu, saya melihat agaknya menjurus ke interaksionisme simbolik. Tapi saran saya, coba ditekankan lebih banyak ke pertanyaan penelitian 3-mu: tentang makna simbol bagi masyarakat di situ. Yang harus kamu ketahui dan gali:<br />
1. APA SAJA MAKNA BUWUH SEBAGAI SIMBOL SOSIAL/BUDAYA/EKONOMI BAGI MASYARAKAT SETEMPAT?<br />
2. BAGAIMANA MEREKA MEMAKNAI SIMBOL-SIMBOL TERSEBUT?<br />
3. MENGAPA MEREKA MEMAKNAI SEPERTI ITU?</p>
<p>Sekali lagi, jangan lupa, untuk dapat memahami dan menjawab pertanyaan2 tersebut, KAMU WAJIB MENJADI MEREKA, MEMINJAM KACAMATA MEREKA. Caranya, hiduplah di antara mereka, dan rasakan bagaimana mereka memandang Buwuh itu. BAGAIMANA BUWUH ITU MEMENGARUHI INTERAKSI SOSIAL BUDAYA MEREKA DAN MENJADI SIMBOL KHAS KEMASYARAKATAN DAN BUDAYA MEREKA.<br />
Itu berarti metode pengumpulan datanya melalui observasi partisipan. Udah tahu, kan?</p>
<p>Setelah data terkumpul, kamu kategorikan semua informasi yang ada menurut pola2 tertentu yang kamu temukan&#8230; biasanya informasi itu membentuk pola-pola tertentu (atau kesamaan2 tertentu) yang unik, sehingga kamu mudah mengategorisasikan. Misalnya: Buwuh sebagai simbol ritual keagamaan, buwuh sebagai simbol adat, buwuh sebagai simbol ekonomi (kekayaan), dll. Itu baru kategorisasi yang menjawab pertanyaan 1, belum untuk pertanyaan 2 dan seterusnya.</p>
<p>Kemudian, dari hasil temuan, kamu lihat, apakah ada penelitian sebelumnya atau teori2 yang relevan atau berkaitan dengan hasil yang kamu dapat? analisis, di mana persamaannya, dan di mana perbedaannya. Jika kamu menemukan banyak perbedaan, berarti KAMU BERHASIL MENGOREKSI/MEMATAHKAN TEORI ATAU PREPOSISI PENELITIAN SEBELUMNYA, DAN SIAP-SIAPLAH MEMUNCULKAN TEORI ATAU PREPOSISI BARU berdasarkan hasil penemuanmu di lapangan.</p>
<p>Simpel, kan?</p>
<p>Oke, selamat meneliti!</p>
<p>salam,<br />
BSW</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-223</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 20:09:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-223</guid>
		<description>bisa, dan tepat.
kau bisa menggunakan pendekatan fenomenologi. jangan lupa ya, metode kualitatif yang penting kedalaman informasinya. jadi kau harus menggali sedalam2nya, dengan wawancara mendalam dan observasi (partisipan). liat dan foto langsung bagaimana benny dan mice lagi buat kartun, gimana proses kreatif mereka, kebiasaan2 mereka yang memengaruhi penciptaan mereka, dll. Sambil terus menanyakan/ diskusi tentang makna2 pesan dari apa yang mereka ciptakan lewat kartun, kenapa mereka menyampaikan pesan itu, dan bagaimana mereka menyampaikannya agar nyambung ke benak pembaca. Observasi secara alamiah dan gali informasi di kepala mereka. Itulah fenomenologi.

moga penjelasan singkat ini bermanfaat ya.

cheers, B.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bisa, dan tepat.<br />
kau bisa menggunakan pendekatan fenomenologi. jangan lupa ya, metode kualitatif yang penting kedalaman informasinya. jadi kau harus menggali sedalam2nya, dengan wawancara mendalam dan observasi (partisipan). liat dan foto langsung bagaimana benny dan mice lagi buat kartun, gimana proses kreatif mereka, kebiasaan2 mereka yang memengaruhi penciptaan mereka, dll. Sambil terus menanyakan/ diskusi tentang makna2 pesan dari apa yang mereka ciptakan lewat kartun, kenapa mereka menyampaikan pesan itu, dan bagaimana mereka menyampaikannya agar nyambung ke benak pembaca. Observasi secara alamiah dan gali informasi di kepala mereka. Itulah fenomenologi.</p>
<p>moga penjelasan singkat ini bermanfaat ya.</p>
<p>cheers, B.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Teori-teori Semiotika, Sebuah Pengantar by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori-semiotika-sebuah-pengantar/#comment-222</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 20:02:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori-semiotika-sebuah-pengantar/#comment-222</guid>
		<description>hmmm.. kalo ngga dibaca ya pasti ngga bakalan ngerti, tika. 

jangan malas baca ah. membaca sama dengan ketika kita berada di dalam sebuah kamar gelap dan pengap, tiba2 kita menemukan kunci jendela lalu membuka jendela itu lebar2 sehingga kita bisa menghirup udara segar sekaligus melihat luasnya hamparan langit yang indah. nah, tika tinggal milih aja, mau terus-menerus dalam ruangan gelap dan pengap atau membuka jendela dan menghirup udara segar.

salam, B.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmmm.. kalo ngga dibaca ya pasti ngga bakalan ngerti, tika. </p>
<p>jangan malas baca ah. membaca sama dengan ketika kita berada di dalam sebuah kamar gelap dan pengap, tiba2 kita menemukan kunci jendela lalu membuka jendela itu lebar2 sehingga kita bisa menghirup udara segar sekaligus melihat luasnya hamparan langit yang indah. nah, tika tinggal milih aja, mau terus-menerus dalam ruangan gelap dan pengap atau membuka jendela dan menghirup udara segar.</p>
<p>salam, B.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-221</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 19:57:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-221</guid>
		<description>Keke, saya kira ngga perlu pake interaksi simbolik, karena kamu kan ingin meneliti dari sisi kreatornya. Lebih cocok kamu pake teori kontruksi sosial Berger &amp; Luckmann dalam tradisi konstruktivisme, yang dikoreksi oleh penelitian Prof Burhan Bungin dengan konsep &quot;Kontruksi realitas media&quot;, karena simbol2 yang kau maksud itu ditayangkan di media. (baca buku Pak Bungin berjudul: &quot;Imaji Media Massa&quot;). Jadi kau bisa menggali makna apa yang hendak dimunculkan oleh pembuat program itu (tentu saja atas pesanan klien), dan bagaimana mereka mengemasnya menjadi sebuah simbol kenyamanan yang kau maksud. Cukup sampai di situ. Kalau Pak Bungin, karena dalam bentuk desertasi, dia juga menelusuri pemaknaan simbolik dari sisi konsumen, dan juga kajian medianya. Tapi saya kira kamu ngga perlu harus seluas dan sekompleks itu. Toh tuntutan akademis bagi S1 tidak setinggi S3. Cukup pilih fokus di satu sisi aja. Kalau itu bisa kau kaji dengan dalam dan bernas, karyamu tidak akan kalah dengan karya S3. Dalam penelitian kualitatif, yang diutamakan adalah kedalaman, bukan keluasan.

Mudah2an penjelasan &#039;seadanya&#039; ini cukup membantu kamu memutuskan untuk menggunakan teori dan metode apa. Metodologi diciptakan untuk memudahkan dan menjernihkan suatu masalah dengan pemecahan yang sistematis. Jadi tak perlu mempersulit diri.

cheers, B.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Keke, saya kira ngga perlu pake interaksi simbolik, karena kamu kan ingin meneliti dari sisi kreatornya. Lebih cocok kamu pake teori kontruksi sosial Berger &amp; Luckmann dalam tradisi konstruktivisme, yang dikoreksi oleh penelitian Prof Burhan Bungin dengan konsep &#8220;Kontruksi realitas media&#8221;, karena simbol2 yang kau maksud itu ditayangkan di media. (baca buku Pak Bungin berjudul: &#8220;Imaji Media Massa&#8221;). Jadi kau bisa menggali makna apa yang hendak dimunculkan oleh pembuat program itu (tentu saja atas pesanan klien), dan bagaimana mereka mengemasnya menjadi sebuah simbol kenyamanan yang kau maksud. Cukup sampai di situ. Kalau Pak Bungin, karena dalam bentuk desertasi, dia juga menelusuri pemaknaan simbolik dari sisi konsumen, dan juga kajian medianya. Tapi saya kira kamu ngga perlu harus seluas dan sekompleks itu. Toh tuntutan akademis bagi S1 tidak setinggi S3. Cukup pilih fokus di satu sisi aja. Kalau itu bisa kau kaji dengan dalam dan bernas, karyamu tidak akan kalah dengan karya S3. Dalam penelitian kualitatif, yang diutamakan adalah kedalaman, bukan keluasan.</p>
<p>Mudah2an penjelasan &#8217;seadanya&#8217; ini cukup membantu kamu memutuskan untuk menggunakan teori dan metode apa. Metodologi diciptakan untuk memudahkan dan menjernihkan suatu masalah dengan pemecahan yang sistematis. Jadi tak perlu mempersulit diri.</p>
<p>cheers, B.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Teori dalam penelitian kualitatif by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/01/16/teori-dalam-penelitian-kualitatif/#comment-220</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 19:34:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/01/16/teori-dalam-penelitian-kualitatif/#comment-220</guid>
		<description>kaka, bisa baca artikel saya di blog ini yang berjudul &quot;Fenomenologi dan Interaksi Simbolik&quot;, ada di kategori METODE RISET KOMUNIKASI.

thx n rgds, B.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kaka, bisa baca artikel saya di blog ini yang berjudul &#8220;Fenomenologi dan Interaksi Simbolik&#8221;, ada di kategori METODE RISET KOMUNIKASI.</p>
<p>thx n rgds, B.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Studi Kasus, Metode &#8220;Hermaphrodite&#8221;? by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-219</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 19:23:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-219</guid>
		<description>thesa, kalau kau temukan kasus unik yang tentang persepsi karyawan terhadap filosofi perusahaan, kau boleh pake studi kasus.. lalu kau gunakan pendekatan interaksi simbolik. coba pelajari teorinya.. ngga usah yang terlalu rumit, pelajari intinya aja, dan bagaimana diaplikasikan ke penelitianmu..
 
kenapa interaksi simbolik? karena filosofi merupakan bagian dari simbol perusahaan.. bagaimana karyawan &#039;berinteraksi&#039; terhadap simbol tersebut dan menghasilkan pemaknaan simbolik yang khas.. itulah yang perlu kau teliti.. pasti setiap karyawan memaknai berbeda terhadap simbol itu, dan bahkan mungkin ada yang menghasilkan &#039;bahasa&#039; simbolik yang hanya bisa dipahami oleh mereka terhadap simbol tersebut.. semua itu pasti menarik untuk digali..
 
memang lebih asyik pake fenomenologi, karena metode ini lebih dekat ke interaksi simbolik, tapi kalau kau ragu, pake metode kualitatif dengan tipe penelitian eksploratif aja.. terlalu banyak pendekatan yang kau pakai malah akan membingungkan.. konstruktivis, dll..
 
sebetulnya fenomenologi tidak harus lama lho, kalo cuma skripsi, ngga perlu sesemprna desertasi, yang penting substansi masalahnya berhasil digali dan dijawab secara sederhana dari hasil penelitian itu. 
 
kalau mau perfect, bahkan penelitianmuini bisa pake cultural studies.. lebih &#039;heboh&#039; lagi dari fenomenologi.. tapi sudahlah nanti kau pusing hehe..
 
kalau kau suka studi kasus, ngga apa2, asal kau tembak suatu kasus tertentu yang unik.. misalnya: karyawan toyota di Indonesia kok tidak mengaplikasikan filosofi seperti dalam buku toyota way.. atau memaknai berbeda terhadap filosofi tersebut hingga mempengaruhi cara bekerja mereka, misalnya mungkin karena dipengaruhi oleh kultur khas Indonesia?
itu bisa kau jadikan studi kasus.. tapi pendekatan teorinya bisa tetap menggunakan interaksi simbolik..
 
mudah2an penjelasan singkat saya ini berguna.
 
salam,
BSW</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thesa, kalau kau temukan kasus unik yang tentang persepsi karyawan terhadap filosofi perusahaan, kau boleh pake studi kasus.. lalu kau gunakan pendekatan interaksi simbolik. coba pelajari teorinya.. ngga usah yang terlalu rumit, pelajari intinya aja, dan bagaimana diaplikasikan ke penelitianmu..</p>
<p>kenapa interaksi simbolik? karena filosofi merupakan bagian dari simbol perusahaan.. bagaimana karyawan &#8216;berinteraksi&#8217; terhadap simbol tersebut dan menghasilkan pemaknaan simbolik yang khas.. itulah yang perlu kau teliti.. pasti setiap karyawan memaknai berbeda terhadap simbol itu, dan bahkan mungkin ada yang menghasilkan &#8216;bahasa&#8217; simbolik yang hanya bisa dipahami oleh mereka terhadap simbol tersebut.. semua itu pasti menarik untuk digali..</p>
<p>memang lebih asyik pake fenomenologi, karena metode ini lebih dekat ke interaksi simbolik, tapi kalau kau ragu, pake metode kualitatif dengan tipe penelitian eksploratif aja.. terlalu banyak pendekatan yang kau pakai malah akan membingungkan.. konstruktivis, dll..</p>
<p>sebetulnya fenomenologi tidak harus lama lho, kalo cuma skripsi, ngga perlu sesemprna desertasi, yang penting substansi masalahnya berhasil digali dan dijawab secara sederhana dari hasil penelitian itu. </p>
<p>kalau mau perfect, bahkan penelitianmuini bisa pake cultural studies.. lebih &#8216;heboh&#8217; lagi dari fenomenologi.. tapi sudahlah nanti kau pusing hehe..</p>
<p>kalau kau suka studi kasus, ngga apa2, asal kau tembak suatu kasus tertentu yang unik.. misalnya: karyawan toyota di Indonesia kok tidak mengaplikasikan filosofi seperti dalam buku toyota way.. atau memaknai berbeda terhadap filosofi tersebut hingga mempengaruhi cara bekerja mereka, misalnya mungkin karena dipengaruhi oleh kultur khas Indonesia?<br />
itu bisa kau jadikan studi kasus.. tapi pendekatan teorinya bisa tetap menggunakan interaksi simbolik..</p>
<p>mudah2an penjelasan singkat saya ini berguna.</p>
<p>salam,<br />
BSW</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Studi Kasus, Metode &#8220;Hermaphrodite&#8221;? by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-218</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 18:53:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-218</guid>
		<description>sama2, dwi. trima kasih.

salam, B.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sama2, dwi. trima kasih.</p>
<p>salam, B.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-217</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:47:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-217</guid>
		<description>wah.. menarik sekali penelitianmu, bunga.. sebetulnya fenomenologi atau etnografi tak perlu kau bingungkan.. sama2 sulit tapi sama2 gampang.. nah lo, tambah bingung, kan? hehe..

Pernah nonton The Nanny Diaries, ngga? si nanny dalam film itu kan sedang melakukan penelitian etnografy untuk keperluan tesisnya tentang antropologi perkotaan, dan dia mengambil tema keluarga urban.. nah, seperti itulah penelitian etnografi yang sesungguhnya, terlibat langsung dengan subyek dan lingkungannya, bahkan kalau perlu tinggal dan menjadi bagian di dalamnya. Apakah perlu menyamar atau tidak, itu tergantung situasinya. Yang penting tujuannya untuk mengambil &#039;informasi sealamiah mungkin&#039;.

Nah, &#039;informasi sealamiah mungkin&#039; inilah yang mirip dengan fenomenologi. Tapi dalam fenomenologi, metodenya tidak harus selarut etnografi murni. Sebetulnya kau tak perlu bingung. Untuk skripsi, biasanya tidak dituntut se&#039;sempurna&#039; tesis S2 atau desertasi S3. yang penting sudah cukup memenuhi kaidah2 metodologis, seperti untuk riset kualitatif perlu wawancara mendalam, observasi (partisipan), penelusuran dokumentatif. Saranku, coba pake pendekatan Fenomenologi aja, minimal tuntutannya tidak &#039;seberat&#039; etnografi murni, meskipun sebenarnya etnografi praktis pun ada seperti penelitian etnografi dalam marketing, atau etnografi online lewat internet yang tidak &#039;seberat&#039; etnografi para antropolog yang melakukan penelitian bertahun2 dan kadang sampai harus kawin dengan penduduk setempat saking menjiwainya budaya dan kehidupan sosial tempat tersebut.

Ok, sudah tahu kan apa itu Fenomenologi? coba baca lagi artikel saya di blog ini dalam kategori &quot;Metode Riset Komunikasi&quot; tentang &quot;Fenomenologi dan Interaksi Simbolik&quot;, atau baca buku2 metode penelitian Prof Deddy Mulyana atau Prof Engkus Kuswarno dari Unpad. Ada di toko buku.

selamat meneliti, moga sukses!

salam, B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah.. menarik sekali penelitianmu, bunga.. sebetulnya fenomenologi atau etnografi tak perlu kau bingungkan.. sama2 sulit tapi sama2 gampang.. nah lo, tambah bingung, kan? hehe..</p>
<p>Pernah nonton The Nanny Diaries, ngga? si nanny dalam film itu kan sedang melakukan penelitian etnografy untuk keperluan tesisnya tentang antropologi perkotaan, dan dia mengambil tema keluarga urban.. nah, seperti itulah penelitian etnografi yang sesungguhnya, terlibat langsung dengan subyek dan lingkungannya, bahkan kalau perlu tinggal dan menjadi bagian di dalamnya. Apakah perlu menyamar atau tidak, itu tergantung situasinya. Yang penting tujuannya untuk mengambil &#8216;informasi sealamiah mungkin&#8217;.</p>
<p>Nah, &#8216;informasi sealamiah mungkin&#8217; inilah yang mirip dengan fenomenologi. Tapi dalam fenomenologi, metodenya tidak harus selarut etnografi murni. Sebetulnya kau tak perlu bingung. Untuk skripsi, biasanya tidak dituntut se&#8217;sempurna&#8217; tesis S2 atau desertasi S3. yang penting sudah cukup memenuhi kaidah2 metodologis, seperti untuk riset kualitatif perlu wawancara mendalam, observasi (partisipan), penelusuran dokumentatif. Saranku, coba pake pendekatan Fenomenologi aja, minimal tuntutannya tidak &#8217;seberat&#8217; etnografi murni, meskipun sebenarnya etnografi praktis pun ada seperti penelitian etnografi dalam marketing, atau etnografi online lewat internet yang tidak &#8217;seberat&#8217; etnografi para antropolog yang melakukan penelitian bertahun2 dan kadang sampai harus kawin dengan penduduk setempat saking menjiwainya budaya dan kehidupan sosial tempat tersebut.</p>
<p>Ok, sudah tahu kan apa itu Fenomenologi? coba baca lagi artikel saya di blog ini dalam kategori &#8220;Metode Riset Komunikasi&#8221; tentang &#8220;Fenomenologi dan Interaksi Simbolik&#8221;, atau baca buku2 metode penelitian Prof Deddy Mulyana atau Prof Engkus Kuswarno dari Unpad. Ada di toko buku.</p>
<p>selamat meneliti, moga sukses!</p>
<p>salam, B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-216</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:29:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-216</guid>
		<description>hi olie.. dengan pengetahuan dan ilmu saya yang terbatas, insya Allah saya akan bantu. Tapi kamu harus tetap konsultasi dengan pembimbingmu, karena bagaimanapun, dialah pembimbing resmimu yang punya wewenang dalam penilaian akademismu. Hasil konsultasi dengan saya hanya sebagai tambahan dan bahan diskusi aja ya. Tetap, kamu harus lebih sering diskusi dengan pembimbingmu. Kecuali kalau saya jadi dosen pembimbingmu, lain cerita hehe.. tapi pada prinsipnya, metodologi penelitian sama aja, yang membedakan mungkin peyampaiannya, karena itu kamu harus lebih sering bertanya dan meminta menjelaskan secara sederhana jika kamu kurang paham.. 

cheers, B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hi olie.. dengan pengetahuan dan ilmu saya yang terbatas, insya Allah saya akan bantu. Tapi kamu harus tetap konsultasi dengan pembimbingmu, karena bagaimanapun, dialah pembimbing resmimu yang punya wewenang dalam penilaian akademismu. Hasil konsultasi dengan saya hanya sebagai tambahan dan bahan diskusi aja ya. Tetap, kamu harus lebih sering diskusi dengan pembimbingmu. Kecuali kalau saya jadi dosen pembimbingmu, lain cerita hehe.. tapi pada prinsipnya, metodologi penelitian sama aja, yang membedakan mungkin peyampaiannya, karena itu kamu harus lebih sering bertanya dan meminta menjelaskan secara sederhana jika kamu kurang paham.. </p>
<p>cheers, B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Metode Kuantitatif dan Kualitatif digunakan bersama? by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/20/metode-kuantitatif-dan-kualitatif-digunakan-bersama/#comment-215</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:22:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/20/metode-kualitatif-dan-kuantitatif-digunakan-bersama/#comment-215</guid>
		<description>waduh, itu test psikologi, bukan metode penelitian.. maaf sekali saya tidak bisa menjawabnya, mungkin bisa cari di buku2 psikologi praktis atau buku2 panduan menghadapi tes masuk kerja..

ok, semangat ya Tamy. moga sukses..

salam,
B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>waduh, itu test psikologi, bukan metode penelitian.. maaf sekali saya tidak bisa menjawabnya, mungkin bisa cari di buku2 psikologi praktis atau buku2 panduan menghadapi tes masuk kerja..</p>
<p>ok, semangat ya Tamy. moga sukses..</p>
<p>salam,<br />
B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Teori tentang Produksi Pesan (1) by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/09/24/teori-tentang-produksi-pesan-1/#comment-214</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:18:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/?p=112#comment-214</guid>
		<description>ohya, yanwar.. tentu msh ingat.. apa kabar? sibuk apa sekarang?

saya masih gini2 aja kok, hehe.. msh terus belajar.. dan terus berbagi.. 

ohya, boleh diskusi, lewat blog ini juga boleh. Maaf saya suka telat membuka blog ini, karena banyak sekali ternyata comment2 yang ke-pending, dan saya harus cukup sabar untuk membalasnya satu2, terutama di tengah kesibukan rutin.

oke, salam buat teman2 lain. Moga sukses ya!

cheers, B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ohya, yanwar.. tentu msh ingat.. apa kabar? sibuk apa sekarang?</p>
<p>saya masih gini2 aja kok, hehe.. msh terus belajar.. dan terus berbagi.. </p>
<p>ohya, boleh diskusi, lewat blog ini juga boleh. Maaf saya suka telat membuka blog ini, karena banyak sekali ternyata comment2 yang ke-pending, dan saya harus cukup sabar untuk membalasnya satu2, terutama di tengah kesibukan rutin.</p>
<p>oke, salam buat teman2 lain. Moga sukses ya!</p>
<p>cheers, B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Studi Kasus, Metode &#8220;Hermaphrodite&#8221;? by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-213</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:12:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/studi-kasus-metode-hermaphrodite/#comment-213</guid>
		<description>bukunya bisa baca karangan Robert K Yin berjudul: STUDI KASUS, Desain &amp; Metode terbitan Rajawali Pers. yang lain kurang lebih sama. moga2 info ini cukup berguna.

salam,
BSW</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bukunya bisa baca karangan Robert K Yin berjudul: STUDI KASUS, Desain &amp; Metode terbitan Rajawali Pers. yang lain kurang lebih sama. moga2 info ini cukup berguna.</p>
<p>salam,<br />
BSW</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Fenomenologi dan Interaksi Simbolik by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-212</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:09:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2007/12/07/fenomenologi-dan-interaksi-simbolik/#comment-212</guid>
		<description>salam kenal juga, shalimow..  
sukses selalu juga!

salam,
BSW</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal juga, shalimow..<br />
sukses selalu juga!</p>
<p>salam,<br />
BSW</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Simbolisasi &amp; Asosiasi Kinesika dalam Iklan Mobil VW Caravelle (published on Jurnal Forum Ilmiah UIEU-Jakarta Edisi 5/ No.3 September 2008) by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/01/07/simbolisasi-asosiasi-kinesika-dalam-iklan-mobil-vw-caravelle/#comment-211</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 16:07:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/01/07/simbolisasi-asosiasi-kinesika-dalam-iklan-mobil-vw-caravelle/#comment-211</guid>
		<description>Rizki (hehe.. kyk nama adik saya).. tulisan saya ini pernah dimuat di jurnal Forum Ilmiah UIEU.. jadi bisa dijadikan salah satu referensi kamu, kalau tugasmu mengharuskan referensi dari jurnal.. tapi kalau kau menginginkan tulisan di jurnal lain, saya bisa share ke alamat emailmu.. yang pang komunikasi non verbal itu sangat luas, termasuk simbol2 bermakna yang merupakan wilayah kajian semiotika dan interaksi simbolik jika ditarik ke konteks sosial budaya.. tapi kalau kajian simbolik iklan dikaitkan dengan komunikasi non verbal secara khusus termasuk dalam mengungkap sisi emosional &#039;benda&#039;, masih jarang saya temukan. Biasanya kajian simbolik iklan sering ditarik ke wilayah kajian semiotika murni.. makanya tulisan itu saya buat, untuk memberi perspektif baru dalam kajian semiotika yang dikaitkan dengan komunikasi non verbal yang membuat iklan tampak &#039;memanusiakan&#039; benda tak bernyawa.

ok, tungg ya, ki. Akan kukirim ke emailmu. Tolong ingatkan saya kalau saya lupa, ke email: bambangsukma@yahoo.com

salam,
B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rizki (hehe.. kyk nama adik saya).. tulisan saya ini pernah dimuat di jurnal Forum Ilmiah UIEU.. jadi bisa dijadikan salah satu referensi kamu, kalau tugasmu mengharuskan referensi dari jurnal.. tapi kalau kau menginginkan tulisan di jurnal lain, saya bisa share ke alamat emailmu.. yang pang komunikasi non verbal itu sangat luas, termasuk simbol2 bermakna yang merupakan wilayah kajian semiotika dan interaksi simbolik jika ditarik ke konteks sosial budaya.. tapi kalau kajian simbolik iklan dikaitkan dengan komunikasi non verbal secara khusus termasuk dalam mengungkap sisi emosional &#8216;benda&#8217;, masih jarang saya temukan. Biasanya kajian simbolik iklan sering ditarik ke wilayah kajian semiotika murni.. makanya tulisan itu saya buat, untuk memberi perspektif baru dalam kajian semiotika yang dikaitkan dengan komunikasi non verbal yang membuat iklan tampak &#8216;memanusiakan&#8217; benda tak bernyawa.</p>
<p>ok, tungg ya, ki. Akan kukirim ke emailmu. Tolong ingatkan saya kalau saya lupa, ke email: <a href="mailto:bambangsukma@yahoo.com">bambangsukma@yahoo.com</a></p>
<p>salam,<br />
B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Serba-serbi audit komunikasi by bambangsukmawijaya</title>
		<link>http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/20/serba-serbi-audit-komunikasi/#comment-210</link>
		<dc:creator>bambangsukmawijaya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 15:20:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/?p=73#comment-210</guid>
		<description>silakan, capie.. moga ujiannya lancar dan dapat nilai A.

salam,
B</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>silakan, capie.. moga ujiannya lancar dan dapat nilai A.</p>
<p>salam,<br />
B</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
