Posts tagged makalah

Perkembangan Komunikasi Teknologi dalam organisasi & perusahaan

Implikasi Perkembangan TI dalam Organisasi dan Koreksi Atas Teori Media Richness

 Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

Perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat dewasa ini membuat banyak organisasi/perusahaan melakukan tranformasi teknologi informasi maupun budaya perusahaan. Elizabeth Lane Lawley (1994) menyebut penerapan TI dalam organisasi berimplikasi pada perubahan struktur organisasi dari dekonsentrasi (sentralisasi) menjadi desentralisasi, dari vertical menjadi horizontal.

Implikasi perkembangan TI dalam organisasi dan perusahaan

Implikasi perkembangan TI dalam organisasi dan perusahaan (source: Bambang Sukma Wijaya, 2007)

Perkembangan teknologi informasi juga memunculkan gaya hidup atau cara kerja baru yakni e-office atau virtual organization dan home office. Fenomena e-office menjadikan organisasi berbasis informasi dan gaya kepemimpinan menjadi fleksibel karena memiliki visi untuk senantiasa melakukan perubahan misi sesuai perkembangan situasi. Perusahaan tidak lagi harus mengandalkan ratusan computer, ratusan karyawan, dan gedung sekian lantai untuk membangun kantor perusahaan bonafid. Cukup dengan seperangkat teknologi informasi maka seluruh pekerjaan dapat dilakukan secara virtual. Sehingga biaya-biaya dapat ditekan seminimal mungkin dan margin keuntungan dapat dimaksimalkan.

Biasanya perusahaan virtual mengandalkan tenaga-tenaga freelance berkualitas dan professional. Demikian pula karyawan-karyawan dapat bekerja lintas waktu di rumah masing-masing, sambil menjalankan pekerjaan lain. Klien-klien pun tidak harus selalu bertemu langsung. Karena bisa dilakukan melalui internet, teleconference, video call, dan lain-lain yang kurang lebih sama efektifnya dengan pertemuan langsung secara fisik.

Hal ini mengubah paradigma dan definisi kehadiran sosial menurut pandangan teori Media Richness. Dikemukakan bahwa semakin tinggi kehadiran sosial suatu media maka semakin efektif media tersebut. Dalam teori tersebut, parameter kehadiran sosial diukur menurut tingkat kehadiran fisik. Padahal, di zaman cyber sekarang ini, kehadiran sosial berpindah ke makna baru berupa kehadiran virtual.

Teori Media Richness dan redefinisi kehadiran sosial

Teori Media Richness dan redefinisi kehadiran sosial (source: Bambang Sukma Wijaya, 2007)

Kehadiran sosial bisa sama efektifnya dengan kehadiran virtual. Begitu banyak komunitas-komunitas atau kelompok sosial muncul dalam virtual dan membangun kedekatan sosial tanpa suatu kehadiran fisik, seperti fenomena milis, friendster, facebook, dan lain-lain. Karena itu, makna kehadiran sosial dalam teori Media Richness harus mengalami redefinisi dengan memperluas cakupannya bukan hanya kehadiran fisik, tetapi juga kehadiran virtual. (BSW –complete paper is available on writer’s desk)

Comments (5) »

‘Orang-orang penting’ dalam komunikasi korporat

Mau Menguasai Suatu Organisasi..? Pegang Anggota ‘Klik’-nya!  

Setidaknya ada beberapa unsur dalam jaringan komunikasi pada suatu organisasi yang memiliki peranan cukup penting. Kita dapat membagi mereka ke dalam anggota klik dan bukan anggota klik. Klik adalah sebuah kelompok individu yang paling tidak separuh dari kontaknya merupakan hubungan dengan anggota-anggota lainnya. Agarwala-Rogers (1976) mengemukakan bahwa “kebanyakan anggota klik relative akrab satu sama lain baik dalam komunikasi formal maupun informal”. Satu prasyarat keanggotaan klik adalah setiap individu harus mampu melakukan kontak satu sama lain, bahkan dengan cara tidak langsung. Anggota klik adalah jantung sistem dan bertindak sebagai tujuan akhir bagi kebanyakan pesan. Beberapa anggota klik, antara lain:

Jembatan.

Jembatan adalah anggota klik yang memiliki sejumlah kontak yang menonjol dalam kontak antarkelompok, namun juga menjalin kontak dengan anggota klik lain. Sebagai orang yang menyampaikan pesan dan merupakan citra sentral dalam system komunikasi suatu klik, sebuah jembatan rentan terhadap semua kondisi yang menyebabkan kehilangan, kerusakan, dan penyimpangan informasi. Jembatan merupakan pemroses sentral informasi yang menyediakan hubungan langsung di antara klik-klik yang berlainan. Contoh jembatan dalam suatu perusahaan adalah General Manager dan HRD Manager.

Penghubung.

Penghubung adalah orang yang mengaitkan atau menghubungkan dua klik atau lebih tetapi ia bukan anggota salah satu kelompok yang dihubungkan tersebut. Ross dan Harary (1955) mengemukakan bahwa, “bila seorang penghubung menyebabkan kemacetan, organisasi akan dirugikan, sedangkan bila penghubung efisien, ia cenderung melancarakan aliran informasi di seluruh organisasi”. Penghubung mengintegrasikan dan menjadi penghubung-antarklik. Dalam perusahaan periklanan, contoh penghubung adalah Traffic Manager. Dia mengatur lalu lintas pekerjaan yang masuk dalam departemen kreatif dari departemen pelayanan klien, namun dia bukan bagian dari kreatif.

Penjaga Gawang.

Penjaga Gawang adalah orang yang secara strategis ditempatkan dalam jaringan agar dapat melakukan pengendalian atas pesan apa yang akan disebarkan melalui system tersebut. Penjaga gawang mengendalikan perpindahan pesan-pesan dan kontak-kontak dengan tujuan meminimalkan kelebihan beban dan meningkatkan keefektifan. Contoh penjaga gawang adalah Sekretaris perusahaan.

Pemimpin Pendapat.

Pemimpin pendapat adalah orang tanpa jabatan formal dalam semua system social, yang membimbing pendapat dan memengaruhi orang-orang dalam keputusan mereka. Pemimpin pendapat melancarkan pembentukan dan perubahan sikap dan membantu dalam pengambilan keputusan informal. Contoh Pemimpin Pendapat dalam perusahaan adalah konsultan tetap, baik konsultan HRD, marketing, bisnis, hukum, keuangan, pajak, government relation, dan lain-lain.

Kosmopolit.

Seorang kosmopolit adalah individu yang melakukan kontak dengan dunia luar, dengan individu-individu maupun peristiwa-perisitiwa di luar organisasi. Kosmopolit menghubungkan organisasi dengan orang-orang dan gagasan-gagasan dalam lingkungan yang lebih besar. Dalam suatu perusahaan, orang kosmopolit banyak menempati posisi di departemen public relation dan marketing.

Di samping anggota-anggota klik tersebut, terdapat bukan anggota klik yakni: Penyendiri

Penyendiri adalah mereka yang hanya melakukan sedikit atau sama sekali tidak mengadakan kontak dengan anggota kelompok lainnya. Penyendiri memberi tantangan pada system dan menciptakan derajat ketidakpastian pada keefektifan program penyebaran pesan. Dalam perusahaan, walaupun bisa saja terdapat di semua lini, namun –karena sifat pekerjaannya- contoh penyendiri banyak terdapat di departemen finance dan TI. (BSW)

Leave a comment »

Teori-teori Klasik, Transisional & Mutakhir

Perbedaan dan Perkembangan Teori-teori KLASIK, Teori TRANSISIONAL, dan Teori MUTAKHIR

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

 

TEORI KLASIK mementingkan aspek struktur dan fungsi. Bahwa untuk mencapai efisiensi yang tinggi, maka struktur organisasi harus stabil. Semakin stabil maka semakin efisien. Sehingga struktur-struktur dan fungsi cenderung selalu tetap/tidak berubah. Dua bentuk organisasi yang popular dalam teori ini adalah organisasi social dan formal. Dalam organisasi social, perbedaan-perbedaan status social mengembangkan suatu hirarki dalam struktur sosial yang menempatkan figure-figur tertentu dalam posisi penting, yang biasanya dipertahankan bahkan dikultuskan.

Demikian pula dalam organisasi formal atau birokrasi. Struktur dibentuk secara hirarkis (vertical) dengan sistem lini dan staf atau sistem garis komando dalam militer. Tujuannya adalah efisiensi. Teori ini melihat organisasi sebagai ‘organisasi’ (sangat obyektivis), dimana struktur dan kekuasaan yang stabil sangat penting dalam menghasilkan sesuatu. Hal-hal yang mengganggu kestabilan struktur dan fungsi organisasi akan di-reduce seminimal mungkin, bahkan dihilangkan.

Contoh paling nyata adalah Indonesia pada zaman orde baru yang senantiasa mementingkan kestabilan ekonomi, politik dan keamanan, sehingga siapapun atau apapun yang dapat mengganggu kestabilan Negara pasti disingkirkan. Pejabat-pejabat dan posisi strategis selalu ditentukan dari atas untuk menjaga kestabilan tersebut. Organisasi-organisasi yang mengikuti teori klasik ini tidak bisa mengakomodir kreativitas dan dinamika, karena organisasi hanya ingin ‘mencari aman’ saja. Contoh lain dalam dunia bisnis banyak dijumpai pada perusahaan-perusahan keluarga yang cenderung mempertahankan nilai-nilai leluhur yang bergaya tradisional. Demikian pula pada perusahaan-perusahaan BUMN yang banyak dikontrol oleh pemerintah. Tak heran organisasi-organisasi ini cenderung kaku, sulit berkembang dan bersifat mekanis (seperti mesin).

Sehingga muncullah TEORI-TEORI TRANSISIONAL. Teori ini beranggapan bahwa kestabilan struktur dan fungsi ternyata tidak selalu membuat organisasi jadi efisien. Organisasi harus memberi perhatian penting pada aspek human relation. Untuk itu iklim komunikasi harus baik. Semakin baik iklim komunikasinya, semakin efisien organisasi tersebut. Teori ini menyadari bahwa manusia-manusia di dalam organisasi adalah makhluk yang aktif dan dinamis, bukan sekadar alat produksi yang kaku.

Organisasi seharusnya senantiasa mendengarkan aspirasi anggota dan tidak mematikan kreativitas. Hambatan-hambatan komunikasi maupun aliran informasi dalam organisasi yang disebabkan oleh faktor jabatan dan struktur yang kaku harus disingkirkan. Hal ini terlihat ketika zaman reformasi, kebebasan pers di Indonesia mulai dilepas. Budaya militeristik mulai dikurangi, dan otonomi daerah mulai dijalankan. Sentralisasi kekuasaan berubah menjadi desentralisasi. Pengakuan dan penghargaan atas kemajemukan budaya, social dan agama menggantikan paham mayoritas-minoritas.

Dalam dunia bisnis, banyak perusahaan yang beralih dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang berbasis profesionalitas, seperti Bakrie Group, Salim Group, Sinar Mas atau Eka Group, dll. BUMN-BUMN pun banyak yang diprivatisasi seperti Indosat, Telkom, dll. Teori yang tepat mewakili teori transisional ini adalah teori-teori perilaku dan sistem. Teori komunikasi-kewenangan Barnard misalnya, yang menekankan pentingnya mengembangkan dan memelihara suatu system komunikasi. Begitu pula dengan teori hubungan manusiawi Mayo yang menyatakan hubungan kelompok informal lebih penting dan kuat dalam menentukan moral dan produktivitas. Teori Fusi dari Bakke dan Argyris yang menyarankan personalisasi dan sosialisasi individu untuk menghasilkan fusi kebutuhan serta keinginan karyawan dan organisasi. Sedangkan teori peniti penyambung Linkert menganggap organisasi sebagai sejumlah kelompok yang saling berhubungan dengan struktur yang cenderung horizontal. Demikian pula dengan teori system social Katz dan Kahn yang melihat organisasi sebagai suatu system yang menitikberatkan pada hubungan antara orang-orang yang saling berkomunikasi, menerima pesan-pesan dan menyimpan informasi.

Namun, patut digarisbawahi pentingnya pemaknaan peserta organisasi terhadap pesan atau informasi, dan bukan sekadar hubungan komunikasi belaka. Dan pemaknaan ini juga mencakup pemaknaan pesan komunikasi yang lebih luas, karena persaingan yang semakin ketat, serta perkembangan dinamika dunia yang semakin cepat, menuntut organisasi-organisasi dan perusahaan juga harus memperhitungkan faktor lingkungan atau ‘dunia luar’.

Karena itu muncullah TEORI MUTAKHIR ATAU MODEREN. Teori ini memberikan perhatian penting pada aspek adaptasi terhadap lingkungan atau dinamika ‘dunia luar’. Teori ini beranggapan bahwa human relation saja tidak cukup, tapi organisasi juga harus bersifat adaptif. Organisasi tidak bisa eksis jika tidak memperhatikan perkembangan lingkungan di mana organisasi itu tumbuh. Bagaimana mungkin di zaman teknologi informasi yang demikian pesat dewasa ini, organisasi masih seperti ‘katak dalam tempurung’? Bagaimana mungkin kita berpikir paling hebat dan maju sementara di sekeliling kita tumbuh pesat organisasi atau perusahaan-perusahan sejenis yang tak kalah hebat?

Orang-orang dihadapkan pada banyak pilihan, sehingga kompetisi tak terhindarkan. Ketika Wings Group berpikir bahwa hanya dengan ‘bermain harga’ maka mereka bisa memenangkan persaingan pasar consumer goods, maka pesaingnya sudah berpikir jangka panjang bahwa perceived quality lebih penting untuk membangun loyalitas konsumen. Terbukti, ketika masyarakat mulai merasakan ‘akibat’ dari membeli produk murah, mereka mulai ‘pintar’ dengan tidak cuma menuntut harga murah, tapi juga kualitas. Karena itu, Wings Group mengubah strateginya dengan membangun brand relationship dan tidak Cuma ‘menyogok’ konsumen dengan harga murah semurah-murahnya. Perceived quality dibangun, brand activation digencarkan, sehingga kini Wings Group bertransformasi dari ‘perusahaan murahan’ menjadi ‘perusahaan yang patut diperhitungkan’.

Transformasi perusahaan atau organisasi merupakan muara dari adaptasi. Dan transformasi dimulai dari mengubah persepsi organisasi terhadap organisasi itu sendiri. Di sini, teori-teori mutakhir sangat relevan, antara lain Teori Pengorganisasian Wick. Contoh lain penerapan teori ini adalah perusahaan-perusahaan go public bahkan go internasional. Dapatkah dibayangkan bagaimana kondisi Lenovo, sebuah perusahaan komputer China, sebelum mengakuisisi IBM, raksasa komputer dunia? Lenovo hanya sebuah liliput dengan kultur perusahaan keluarga yang kental. Ketika Lenovo mengubah kultur perusahaan menjadi lebih terbuka, perusahaan ini bertransformasi menjadi perusahaan raksasa, bahkan sanggup ’melahap’ perusahaan raksasa lain pesaingnya dari Amerika, yakni IBM. Kini Lenovo bukan lagi ’milik China’ apalagi cuma sekadar perusahaan kecil milik keluarga. Lenovo telah menjadi ’milik dunia’ yang mampu bersaing di kancah internasional.

Perusahaan-perusahaan lain juga banyak melakukan transformasi kultural sebagai bagian dari strateginya menghadapi ketatnya persaingan. Kini banyak berkembang apa yang disebut ’spiritual company’ (bukan religious company), sebuah perusahaan yang alih-alih menerapkan kultur tertentu, mereka lebih menyukai nilai-nilai universal yang menembus batas agama, suku, ras, bahkan negara dan bangsa. Apple, Hp, Garmen Bank, Body Shop adalah beberapa dari perusahaan yang telah menjadi spiritual company. Dengan cara ini, mereka mampu bertahan dan mempertahankan loyalitas pelanggan di seluruh dunia.

Review: Ketiga jenis teori di atas tidak bersifat kronologis, namun demikian dapat dilihat bahwa dalam penerapannya, terdapat pergeseran paradigma dari obyektivis ke arah subyektivis.

Pergeseran paradigma dari objektivis ke subjektivis sejalan dengan perkembangan dan penerapan teori klasik - mutakhir

Pergeseran paradigma dari objektivis ke subjektivis sejalan dengan perkembangan dan trend penerapan teori klasik - mutakhir

Comments (2) »

Kultur Barat dalam Dunia Iklan Indonesia

Kultur Barat dalam Dunia Iklan Indonesia Dipandang dari Sudut Teori Ketergantungan dan Modernisasi

Oleh: Bambang Sukma Wijaya

Pada tahun 2005, dunia periklanan Indonesia dikejutkan oleh fenomena pemutusan hubungan kerja besar-besaran di biro iklan multinasional nomor satu yakni Lowe Indonesia. Selama ini masyarakat periklanan dan para praktisi maupun akademisi pemasaran mengenal Lowe Indonesia sebagai agency yang sehat, bereputasi sangat baik, bermodal kuat sebagai agency yang memiliki billing terbesar hingga mendudukkannya sebagai agency nomor satu di Indonesia, dan yang tak kalah penting: sering memenangkan penghargaan kreatif di ajang festival iklan nasional, bahkan kerap menjadi Agency of The Year. Jadi, suatu hal yang muskil jika agency yang awalnya merupakan inhouse agency PT Unilever Indonesia itu tiba-tiba terancam bangkrut hingga mem-PHK karyawan-karyawannya. Terlebih, sebagian besar karyawan yang di-PHK tersebut adalah tenaga-tenaga kreatif.

Rupanya, faktor penyebabnya bukan karena Lowe kekurangan modal hingga terancam bangkrut, namun ada faktor kebijakan global yang memengaruhinya. PT Unilever sebagai klien utama Lowe menetapkan kebijakan baru yang hanya menayangkan konsep iklan global untuk semua merek produk globalnya di seluruh dunia. Itu berarti, tidak ada konsep iklan baru yang dibuat di Indonesia. Tugas agency hanya mengadaptasi konsep iklan global tersebut ke bahasa setempat. Dengan demikian tidak diperlukan tenaga kreatif yang banyak.

Peristiwa tersebut menyadarkan masyarakat periklanan Indonesia tentang pengaruh kekuatan global yang tidak saja mencengkeram organ kebijakan perekonomian makro nasional melalui tangan IMF, tetapi juga kebijakan perekonomian mikro melalui jalur privat atau swasta termasuk dunia periklanan yang merupakan salah satu industri kreatif andalan nasional. Tak cukup sampai di situ, pada tahun berikutnya, 2006, agency multinasional lain yakni McCann melakukan tindakan PHK serupa akibat kebijakan efisiensi jaringan globalnya. Agency multinasional lain, Leo Burnett juga mengalami hal yang sama, meskipun dalam lingkup yang lebih kecil.

Teori modernisasi dan ketergantungan agaknya berlaku pula di industri periklanan Tanah Air. Semenjak krisis ekonomi, banyak biro iklan lokal yang rontok. Di lain pihak, biro iklan multinasional menjamur. Industri periklanan nasional akhirnya harus bergantung pada modal asing untuk dapat tetap bertahan dan tumbuh. Tapi akibatnya, industri ini pun harus takluk pada segala kebijakan global yang memengaruhinya, termasuk kebijakan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja karyawannya. De Santos dalam tesisnya mengenai teori ketergantungan menyebutkan salah satu model ketergantungan yang menimpa negara-negara dunia ketiga adalah ketergantungan finansial- industri, yang membawa konsekuensi pengendalian melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan finansial-industri.

Konsekuensi lain adalah dalam konteks globalisasi kultur. Bukan rahasia lagi, bahwa kultur Barat sangat mewarnai iklim komunikasi maupun iklim organisasi perusahaan-perusahaan periklanan dalam negeri. Mereka yang mahir berbahasa asing akan bernilai lebih tinggi dibandingkan mereka yang gagap dalam berbahasa asing. Bahkan semua yang berbau Barat dianggap lebih berkelas. Presentasi kepada klien lokal pun tetap dianggap lebih hebat bila disajikan dalam bahasa atau istilah-istilah asing (baca: Inggris), meskipun isinya belum tentu sehebat bahasanya. Sehingga tak heran, produk-produk iklan yang dihasilkan pun selalu mengorelasikan citra Barat dengan citra kelas atas yang hebat, dan citra lokal dengan citra kelas bawah yang kampungan.

Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan periklanan yang memiliki tenaga asing akan dianggap lebih bonafid daripada perusahaan yang hanya mengandalkan semata-mata tenaga lokal. Padahal, kenyataannya tidak semua tenaga asing itu berkualitas, baik secara kreatif maupun strategi, dan tidak semua tenaga lokal memiliki kualitas di bawah tenaga asing. (Bisnis Indonesia, 2008).

Globalisasi kultur ditelaah pertama kali oleh ahli antropologi-sosial B. Malinowski (1884-1942) dan A.R. Radcliffe Brown (1881-1955) yang melihat fenomena kontak, benturan atau konflik kultural ketika peradaban Barat merasuk ke dalam kultur pribumi di kawasan jajahan mereka. Terdapat dua jenis pandangan mengenai kontak kultural ini. Pertama, pandangan yang melihat kontak kultural sebagai imperialisme kultural yang menimbulkan bencana besar. Dalam masyarakat moderen, kontak kultural semacam ini ditimbulkan oleh pertumbuhan “westernisasi” (Amerikanisasi), yang mana terjadi proses “penyelarasan kultural” tanpa teladan historis sehingga berbagai sistem kultur dunia yang menonjol mengalami kemerosotan (Hamelink, 1983). Komersialisasi dan dijadikannya produk kultural sebagai komoditi membuat kualitas produk menurun ke tingkat terbawah.

Kedua, pandangan yang dipengaruhi konsep modernisasi berkaitan dengan keinginan untuk menyusul masyarakat paling maju, ada kesiapan merangkul pola Barat sebagai cara atau syarat emansipasi masyarakat atau setidaknya merupakan simbol kemajuan peradaban. Inilah yang menjadi sikap khas kaum elit terpelajar, elit politik dan elit ekonomi di negara jajahan (Sztompka, 2007:109).

Hal itu pula yang terlihat pada fenomena dunia periklanan di Indonesia. Kaum elit periklanan banyak yang berkiblat ke Barat, bahkan cenderung “menyembah”-nya. Gaya hidup keseharian mereka meniru gaya hidup para ekspatriat, alih-alih mengadopsi teknologi kreatif dan keterampilan strategis ekspatriat itu. Tak heran, paradigma orang iklan mengenai standar kreativitas tinggi selalu mengacu pada iklan-iklan yang dibuat oleh negara-negara Barat. Padahal cara mengontruksi realitas sosial budaya dan cara berkomunikasi mereka berbeda dengan bangsa kita. Maka ketika diikutkan pada ajang penghargaan kreatif iklan internasional, karya kreatif iklan bangsa kita lebih sering dianggap memiliki tingkat yang rendah karena lebih banyak mengekor kreativitas negara lain, atau dengan kata lain tidak memiliki kepribadian dan orisinalitas yang kuat (Media Indonesia, 2008).

Dalam periode belakangan ini, unifikasi dan homogenisasi kultur pada skala global umumnya ditampilkan melalui media massa terutama TV, dan tidak terkecuali iklan-iklan asing (global) yang ditayangkan di dalamnya. “Imperialisme media” telah mengubah dunia menjadi “dusun global” (global village) di mana lingkup pengalaman kultural dan produknya pada dasarnya adalah sama. Media memiliki pengaruh dalam pembentukan pesan serta pembentukan ulangnya secara terus-menerus dalam individu, masyarakat, dan persepsi kultur serta pemahaman dunia (McLuhan, 2005: 15).

Padahal, iklan dan produk-produk kultural lainnya yang hadir di berbagai media adalah menunjukkan identitas sebuah bangsa. Jika semua menghadirkan hal yang seragam, maka identitas itu pun menjadi kabur. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh Norman Douglas dalam karyanya South Wind (1917):

You can tell the ideals of a nation by its advertisements.”

Kesimpulan

Beberapa hal penting dan menarik yang dapat disimpulkan dari uraian di atas antara lain:

  • Proses dan dampak modernisasi juga merambah dunia periklanan. Konsep-konsep kreatif iklan Barat menjadi acuan dan standar kualitas yang banyak diikuti oleh insan-insan periklanan di negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Sehingga biro-biro iklan yang memiliki tenaga asing dianggap lebih berkualitas dibandingkan tenaga lokal.
  • “Pemujaan” terhadap Barat sebagaimana disinyalir Bendix, Tiryakian dan Chodax yang mengritisi konsep dalam teori modernisasi tercermin pula dari konsep-konsep kreatif yang dihasilkan insan kreatif Tanah Air. Segala hal yang berbau asing (baca: Barat) dianggap lebih berkelas dan yang berbau lokal dikonotasikan ke kelas yang lebih rendah, demikian pula ukuran kegantengan dan kecantikan acap distandarkan pada wajah-wajah keturunan Barat.
  • Ketergantungan finansial-industri negara-negara pinggiran sebagai dikemukakan oleh de Santos, yang mana memberi dampak kekuasaan bagi negara-negara inti (Barat), juga terlihat pada fenomena biro iklan multinasional di Indonesia. Dikarenakan ketergantungan terhadap modal asing, maka biro-biro iklan di Indonesia terpaksa harus tunduk terhadap berbagai pengaruh kebijakan global
  • Globalisasi kultur lewat periklanan dan media massa dapat mengaburkan identitas bangsa-bangsa terutama negara dunia ketiga. Pesan-pesan dan citra produk yang ditampilkan cenderung diseragamkan dengan mengacu pada kultur Barat sebagai negara inti atau istilah Tiryakian, “negara rujukan” atau “negara model” menurut Bendix. Padahal, Norman Douglas mengingatkan bahwa identitas sebuah bangsa dapat dilihat dari iklan-iklannya. Karena itu, perlu dilakukan suatu self-filtered bagi masyarakat terutama di negara-negara dunia ketiga dengan lebih banyak menggali dan memberdayakan potensi-potensi lokal. Peraturan Pemerintah Indonesia No. 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 tentang Sumber Daya Lokal dalam Siaran Iklan Televisi tampaknya hendak mengakomodir pemikiran ini, meskipun dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan.

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.