Wijaya, B. S. (2011). ‘Konflik Ideologis MUI-Ahmadiyah dan Pengaruhnya Terhadap Pola Komunikasi Sosial Jemaat Ahmadiyah di Indonesia’, Jurnal Cakrawala [Indonesian Journal of Social Research], 1 (2), p. 60-75

Konflik Ideologis MUI-Ahmadiyah dan Pengaruhnya Terhadap Pola Komunikasi Sosial Jemaat Ahmadiyah di Indonesia

(The Ideological Conflicts of MUI-Ahmadiyya and its Effects on the Social Communication Patterns of Ahmadiyya Members in Indonesia)

Bambang Sukma Wijaya

Abstract:  The different interpretation of Islamic doctrine is a source of ideological conflict between Ahmadiyya and MUI as an official organization ulemas in Indonesia. This gives a significant impact on the bottom layer of society. Some communities impose cessation social and worship activities of Ahmadiyya. Even in some areas, the group did the expulsion and destruction of mosque and Ahmadiyya members’ residences. Through the narrative and personal experience method, authors tried to observe and examine the implications of the ideological conflict between Ahmadiyya and MUI on social communication patterns of an Ahmadiyya community member. The author found that the violent events of a group of people, ways of handling those events by security forces and government  as well as mass media’s framing in reporting incidents of violence against Ahmadiyya community makes social communication patterns of Ahmadiyya members became more secretive, but active-consolidative internally. Social communication patterns are influenced by self-concept process that is formed by social identification among Ahmadiyya members and social perception from public upon MUI’s ‘astray’ fatwa.

Keyword: social communication (komunikasi sosial), ideological conflict (konflik ideologis), self-concept (konsep-diri), Ahmadiyah, MUI

See the complete paper: Social Communication Pattern of Ahmadiyya Community Member in Indonesia

About these ads

5 Responses so far »

  1. 1

    Khairun Abubaker said,

    Posting yang bagus sekali.

    Memang organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, tapi rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjata api polisi itu tidak ada artinya.

  2. 2

    grace said,

    saiia suka baca blognya, jadi tau ttg aliran ini walo aiia ga muslim. makasih blognya yah.

  3. 3

    bambangsukmawijaya said,

    sama-sama grace. walaupun saya muslim, tapi saya bukan penganut ahmadiyah. pengalaman mengajarkan bahwa memahami orang yang berbeda dengan kita seperti membebaskan diri dari kelompok penculik yang telah menyandera kita dalam kamar gelap kepicikan.

    Saya pun banyak sahabat dari berbagai agama dan aliran yang berbeda, dan kami dapat hidup dan tumbuh bersama dalam perbedaan yang mencerahkan, karena kami tidak menutup diri untuk tak mau tahu atau mengabaikan perbedaan itu, tapi justru kami berusaha untuk tahu dan akhirnya memahami perbedaan itu sebagai hadiah terindah yang pernah kami terima dari Yang Kuasa.

    Saya jadi tahu, kenapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, dan menyuruh kita untuk saling mengenal. Karena kasihNya pada kita sering Ia titipkan kepada orang yang justru berbeda dari kita. Dan kita selalu rindu akan kasihNya, kan?

    Salam,
    Bambang

  4. 4

    irpan said,

    kalau kita mengaku umat islam kita harus berani membrantas kedholiman dan kita harus berani membrantas orang2 yang menodahi agama islam, jangan di biarkan orang2 sesat(ahmadiyah) ini menyesatkan orang islam lainnya

  5. 5

    jujukari said,

    saya melihat anda berupaya untuk memperlihatkan secara obyektif bahwa ahmadiyyah adalah sekte yang baik, tapi anda lupa bahwa mereka tidak benar, mereka telah murtad dan kafir dengan pemahamannya. semoga anda bukan salah satu dari mereka.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: